Drs.Muhammad Bardansyah.Ch.Cht: Gaya Politik Bung Karno dan Presiden Prabowo,Resonansi Dua Era Dalam Orkestra Kepemimpinan Indonesia

- Penulis

Minggu, 6 Juli 2025 - 08:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta-Membandingkan gaya politik Soekarno dan Prabowo Subianto ibarat mendengarkan dua simfoni berbeda zaman: satu bergema heroik di tengah revolusi, lainnya mengalun rumit di era demokrasi multipolar.(6/7/2025)

Keduanya memancarkan karisma kuat dan visi kebesaran Indonesia, namun tantangan yang dihadapi, utang warisan, inflasi, dan korupsi menjadi nada dasar yang terus berulang dalam komposisi kepemimpinan mereka.

๐ƒ๐ข๐ฉ๐ฅ๐จ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข: ๐†๐š๐ง๐ฃ๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ค๐จ๐ฅ๐ข๐ฆ ๐ฏ๐ฌ. ๐‰๐š๐ฅ๐š๐ง ๐Š๐ž๐ฌ๐ž๐ข๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐š๐ง

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di panggung global, Soekarno (1945-1966) memainkan simfoni konfrontasi. Doktrin “Berdikari” dan pekikan “๐˜Ž๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ฅ!” bukan sekadar retorika, melainkan senjata melawan neo-kolonialisme.

Poros Jakarta-Peking-Pyongyang dan konfrontasi dengan Malaysia menjadi puncak heroismenya.

Namun, di balik epik revolusioner ini, Indonesia tercekik utang $1,13 miliar warisan Belanda (Perjanjian KMB 1949), ditambah pinjaman $2,3 miliar dari Blok Timur untuk proyek mercusuar.

Hiperinflasi 650% pada 1966 menjadi bukti kegagalan mengelola deficit, pencetakan uang masif digunakan membiayai ambisi geopolitik sementara perut rakyat kosong (Glassburner, 1976, h. 89).

Prabowo (2024-sekarang) menghadapi partitur lebih kompleks. Diplomasi “bebas-aktif”-nya berusaha menari di atas tali AS-Tiongkok dan Rusia, tetapi warisan utang Rp8.000 triliun membelit ruang gerak.

Beban bunga utang menghisap 15% APBN, memaksa pertaruhan sulit: bagaimana membiayai program Makanan Bergizi Gratis senilai Rp120 triliun/tahun tanpa memperdalam defisit?

Volatilitas harga nikel dan minyak sawit global menambah ketidakpastian, menguji ketangguhan strategi “diplomasi ekonomi”-nya (World Bank, 2023, h. 17).

๐ƒ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ž๐ ๐ž๐ซ๐ข: ๐‘๐ž๐ฏ๐จ๐ฅ๐ฎ๐ฌ๐ข ๐ฏ๐ฌ. ๐๐ข๐ซ๐จ๐ค๐ซ๐š๐ฌ๐ข

Panggung domestik Soekarno adalah drama instabilitas. Pemberontakan DI/TII, PRRI, dan pertarungan ideologi memaksanya membubarkan demokrasi parlementer.

Demokrasi Terpimpin yang lahir kemudian justru melahirkan monster korupsi: proyek-proyek strategis dikuasai jaringan militer-birokrat. Skandal “Benteng Group” (1950-an), di mana lisensi impor diserahkan ke kroni politik menjadi simbol penyalahgunaan kekuasaan (Ricklefs, 2008, h. 312).

Ekonomi pun runtuh: inflasi meroket, jalan-jalan rusak, sementara anggaran habis untuk Ganefo (olimpiade versi Nefos) dan Monas.

Prabowo mewarisi panggung lebih stabil, tetapi dihantui birokrasi lamban dan kesenjangan. Proyek Food Estate seluas 1,2 juta hektar di Kalimantan, andalan ketahanan pangan, berisiko menjadi sarang korupsi baru.

Pengadaan traktor dan benih rentan mark-up, pembukaan lahan memicu konflik dengan masyarakat adat, dan deforestasi 32.000 hektar (2022-2023) mengundang kecaman aktivis (๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ, 2024, h. 9).

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mulia pun tak kebal risiko: kebocoran dana di pemda dan distorsi data penerima bisa menggagalkan misi penurunan stunting.

๐Š๐ž๐ญ๐š๐ก๐š๐ง๐š๐ง ๐๐š๐ง๐ ๐š๐ง: ๐‹๐ฎ๐ฆ๐›๐ฎ๐ง๐  ๐ˆ๐ฆ๐š๐ฃ๐ข ๐ฏ๐ฌ. ๐…๐จ๐จ๐ ๐„๐ฌ๐ญ๐š๐ญ๐ž ๐Š๐จ๐ง๐ญ๐ซ๐จ๐ฏ๐ž๐ซ๐ฌ๐ข๐š๐ฅ

Cita-cita “Lumbung Pangan” Soekarno terjebak dalam romantisme revolusi. Tanpa dukungan riset pertanian, irigasi memadai, atau logistik modern, impor beras malah melonjak dari 156.000 ton (1959) menjadi 920.000 ton (1965).

Visi agraris itu akhirnya sekadar simbol di tengah ladang-ladang yang terlantar.

Food Estate Prabowo ingin mengoreksi kegagalan sejarah itu, tetapi jalan yang ditempuh berbatu.

Ekonom Faisal Basri mencatat: investasi Rp78 triliun hanya menghasilkan 0,1% kebutuhan beras nasional (Katadata, 2024, h. 5). Sementara Bustar Maitar (EcoNusa) menuding proyek ini mempercepat deforestasi.

Tantangan terberatnya adalah membuktikan Food Estate bukan sekadar “lumbung baru” bagi koruptor, melainkan solusi pangan berkelanjutan.

๐Œ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ข๐ค๐š ๐‘๐š๐ฌ๐š ๐ฏ๐ฌ. ๐Œ๐๐†: ๐Š๐ฎ๐ฅ๐ข๐ง๐ž๐ซ ๐๐ž๐ฆ๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ญ๐ฎ ๐ฏ๐ฌ. ๐๐ž๐ซ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ฅ๐š๐ฐ๐š๐ง ๐’๐ญ๐ฎ๐ง๐ญ๐ข๐ง๐ 

Mustika Rasa (1967) adalah mahakarya kultural Soekarno. Buku resep raksasa itu bukan sekadar panduan masak, melainkan upaya menyatukan identitas bangsa melalui rasa.

Namun, di balik semangat gotong royong itu, 40% anak Indonesia menderita malnutrisi (UNICEF, 1968, h. 22), retorika persatuan tak sanggup mengisi perut yang kelaparan.

Program MBG Prabowo adalah respons nyata terhadap darurat stunting (24,4% balita Indonesia). Namun, skala program ini menjangkau 82 juta penerima membuka pintu risiko korupsi.

Pengalaman Brasil menunjukkan: tanpa sistem digital real-time, kebocoran dana program serupa bisa mencapai 28% (Fenster et al., 2021, h. 112).

Vendor susu fiktif, distribusi tak merata ke daerah terpencil, dan koordinasi pusat-daerah yang kacau menjadi musuh tersembunyi dalam perang melawan gizi buruk.

๐„๐ค๐จ๐ซ ๐’๐ž๐ฃ๐š๐ซ๐š๐ก: ๐”๐ญ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ง ๐Š๐จ๐ซ๐ฎ๐ฉ๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐“๐š๐ค ๐Š๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ง๐  ๐๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฌ

Soekarno dan Prabowo dipisahkan enam dekade, tetapi keduanya berbagi warisan mirip: beban utang dan virus korupsi.

Soekarno meninggalkan Indonesia dengan utang $3,4 miliar dan inflasi 650%, sementara Prabowo mewarisi utang Rp8.000 triliun yang membatasi ruang fiskalnya.

Korupsi era Soekarno bersemayam di jaringan oligarki militer, sementara di era Prabowo ia menyelinap dalam proyek strategis seperti Food Estate dan celah tender MBG.

๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ซ๐ข ๐’๐ž๐ฃ๐š๐ซ๐š๐ก ๐๐š๐ง ๐‡๐š๐ซ๐š๐ฉ๐š๐ง ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐ƒ๐ž๐ฉ๐š๐ง: ๐๐ž๐ฅ๐š๐ฃ๐š๐ซ๐ข๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ƒ๐ฎ๐š ๐„๐ฉ๐จ๐ค

Bung Karno adalah monumen sejarah yang wajib dikenang dan dikaji secara kritis baik sebagai ikon pembebasan nasional maupun cermin kompleksitas kepemimpinan di tengah gejolak.

Perjalanannya mengajarkan bahwa karisma dan visi kebesaran bangsa tak cukup tanpa fondasi tata kelola ekonomi yang solid.

Sejarawan Benedict Anderson (2006, h. 176) menegaskan, “Soekarno adalah arsitek imajinasi nasional Indonesia, tetapi juga korban dari mimpi-mimpinya sendiri.”

Mempelajari era Soekarno dengan segala keberhasilan diplomasi dan kegagalan ekonominya bukan sekadar nostalgia, melainkan laboratorium kebijakan untuk memahami bagaimana ambisi revolusioner bisa terperangkap dalam jerat utang dan korupsi tanpa pengawasan ketat (Ricklefs, 2008, h. 321).

Prabowo Subianto adalah realitas dan harapan bangsa untuk setidaknya lima tahun mendatang.

Ia mewarisi Indonesia yang lebih demokratis namun terbelit tiga tantangan akut:

READ  Respons Umat Islam Indonesia Terhadap Konflik Iran-Israel

1. Utang Rp8.000 triliun yang menyedot 15% APBN,

2. Korupsi sistemik yang menggerogoti proyek strategis seperti Food Estate,

3. Perpecahan sosial yang dipicu hoaks dan disinformasi masif di media sosial.

4. Riset Mietzner (2024, h. 12) menunjukkan polarisasi pasca-pemilu 2024 diperparah oleh “๐’Š๐’๐’…๐’–๐’”๐’•๐’“๐’Š ๐’ƒ๐’–๐’›๐’›๐’†๐’“” yang memproduksi narasi kebencian untuk kepentingan politik.

Dalam iklim ini, kepemimpinan Prabowo diuji bukan hanya oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga kemampuannya membangun kohesi sosial.

๐‘๐ž๐ค๐จ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐Ž๐ซ๐ค๐ž๐ฌ๐ญ๐ซ๐š ๐Š๐ž๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ฎ

Agar warisan beban sejarah tak menjadi lingkaran setan, Prabowo perlu:

1. Mengidentifikasi figur yang mencintai negeri secara tulus, bukan pencari jabatan. Rekrutmen pejabat harus berbasis integritas dan rekam jejak, bukan transaksi koalisi (๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ, 2024, ๐˜ฉ. 23).

2. Memperkuat perisai digital melawan disinformasi dengan membentuk satgas pemantau media sosial independen berbasis akademisi dan masyarakat sipil (Wardle & Derakhshan, 2017, h. 27).

3. Menerapkan transparansi fiskal radikal melalui platform terbuka untuk pantau realisasi anggaran Food Estate dan MBG secara real-time, mengadopsi model sukses sistem pengawasan Bolsa Famรญlia (Fenster et al., 2021, h. 15).

Ekonom Muhammad Chatib Basri (2020, h. 89) mengingatkan: “Pemerintahan yang lahir dari warisan krisis harus memilih: menjadi tawanan oligarki atau membuka pintu bagi talenta tanpa nama yang berani membereskan borok sejarah.”

๐„๐ฉ๐ข๐ฅ๐จ๐ : ๐ƒ๐š๐ซ๐ข ๐Š๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฃ๐ฎ ๐‡๐š๐ซ๐š๐ฉ๐š๐ง

Soekarno adalah kenangan yang tak tergantikan. Terlepas dari segala kelemahan dan kontroversi, dialah sang peletak batu pertama Indonesia merdeka, arsitek yang membangun mimpi kolektif bangsa dari puing-puing kolonialisme. Tanpa api revolusinya, tanpa teriakan “Berdikari”-nya, mungkin tak ada panggung bernama Indonesia hari ini.

Sejarah mencatatnya bukan sebagai pahlawan tanpa cela, melainkan sebagai manusia yang berani menggenggam obor di tengah gelap, meski obor itu kadang membakar tangannya sendiri.

Seperti kata sejarawan Benedict Anderson (2006): “Soekarno mengajarkan kita bahwa kemerdekaan adalah puisi yang ditulis dengan tinta darah dan air mata, puisi yang tak pernah sempurna, tapi abadi dalam ingatan.”

Kini, Prabowo Subianto memegang obor itu di usia 73 tahun. Usia yang bukan lagi muda, tapi justru membawa bekal kebijaksanaan dari enam dekade geliat politik Indonesia. Ini bukan sekadar jabatan; ini pertaruhan terakhir untuk mewariskan legasi. Di pundaknya tergantung pertanyaan sejarah:

Akankah ia dikenang sebagai presiden yang membangkitkan Indonesia menjadi raksasa ekonomi baru Asia, negeri yang tak hanya kaya sumber daya, tapi juga adil dan makmur?

Ataukah ia hanya akan menjadi catatan kaki dalam babak kepemimpinan yang terperangkap dalam lingkaran korupsi dan utang?

Tantangannya nyata: utang Rp8.000 triliun, proyek Food Estate yang disesaki polemik, dan banjir disinformasi yang menggerus persatuan. Tapi di balik itu, ada pelajaran dari masa lalu yang bisa menjadi kompas:

Soekarno gagal ketika mengorbankan ekonomi demi politik; Prabowo berpeluang sukses jika ia merajut keduanya dengan benang transparansi.

Bagi bangsa Indonesia, momen ini adalah simpul harapan. Setelah 79 tahun merdeka dan tujuh kali pergantian presiden, kita telah melihat bagaimana kepemimpinan bisa jatuh-bangun. Prabowo bukanlah mesias, tapi ia bisa menjadi jembatan, jika mau mendengarkan desah rakyat kecil, memberantas korupsi tanpa tebang pilih, dan mengubah janji “Indonesia Emas 2045” dari wacana jadi aksi nyata.

Seperti orkestra, Indonesia tak butuh konduktor yang sempurna. Kita butuh pemimpin yang belajar dari nada fals sejarah, lalu menciptakan melodi baru: melodi di mana kedaulatan pangan bukan ilusi, stunting jadi masa lalu, dan keadilan ekonomi bukan mimpi.

Di ujung senja kariernya, Prabowo punya pilihan:

Menjadi batu nisan bagi ambisi yang kandas, atau menjadi batu pertama untuk Indonesia yang bangkit.

Mari berharap ia memilih yang keduakarena bangsa ini pantas mendapatkannya.

 

๐ƒ๐š๐Ÿ๐ญ๐š๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐š๐ค๐š

1. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜‰. ๐˜™. ๐˜–’๐˜Ž. (2006). ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด: ๐˜™๐˜ฆ๐˜ง๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ (๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ช). ๐˜๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฐ.

2. ๐˜‰๐˜ข๐˜ด๐˜ณ๐˜ช, ๐˜”. ๐˜Š. (2020). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜บ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข. ๐˜‹๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜. ๐˜๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ & ๐˜”. ๐˜Š. ๐˜‰๐˜ข๐˜ด๐˜ณ๐˜ช (๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ด.), ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ (๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ฎ. 79โ€“104). ๐˜๐˜š๐˜Œ๐˜ˆ๐˜š ๐˜—๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.

3. ๐˜๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜”., ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ข๐˜ญ. (2021). ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ค๐˜ช๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ด: ๐˜“๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด ๐˜ง๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ด๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ฎรญ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข. ๐˜‘๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜—๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค ๐˜Œ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ค๐˜ด, 198, 104โ€“118.

4. ๐˜Ž๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜‰. (๐˜Œ๐˜ฅ.). (1976). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข: ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด. ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด.

5. ๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. (2024). ๐˜Œ๐˜ท๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜Œ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ: ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜™๐˜ฑ78 ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช 0,1%. ๐˜“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด.

6. ๐˜”๐˜ช๐˜ฆ๐˜ต๐˜ป๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜”. (2024). ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฐ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐโ€™๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ: ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ด. ๐˜๐˜š๐˜Œ๐˜ˆ๐˜š ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ, 2024 (44), 1โ€“15.

7. ๐˜™๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ด, ๐˜”. ๐˜Š. (2008). ๐˜ˆ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ค.1200 (๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ-4). ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ท๐˜ฆ ๐˜”๐˜ข๐˜ค๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ.

8. ๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ. (2024). ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข: ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ค๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ด. ๐˜“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด.

9. ๐˜œ๐˜•๐˜๐˜Š๐˜Œ๐˜. (1968). ๐˜•๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ท๐˜ฆ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข.

10. ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ญ๐˜ฆ, ๐˜Š., & ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜. (2017). ๐˜๐˜ฏ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ: ๐˜›๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ค๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜บ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜Œ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต.

11. ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ. (2023). ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ค ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ด: ๐˜›๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ด ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ vs tantangan kontemporer.

12. Anderson, B. R. Oโ€™G. (2006). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism (hlm. 178). Verso.

13. Mietzner, M. (2024). Prabowo Subiantoโ€™s presidency: Continuity and change in Indonesian politics (hlm. 14). ISEAS Perspective.

 

( MB/FL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat
DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat
Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV
Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah
Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar
Bamsoet Raih Penghargaan Wartawan Parlemen Awards 2026 Kategori Legislator Penggerak Profesionalisme Institusi dan Aparat Penegak Hukum
Korupsi APBD Kabupaten Sorong Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp54 Miliar
Dugaan Minim nyaTransparansi Proyek Kopdes Merah Putih, Publik Pertanyakan Penggunaan Anggaran Negara di Lapangan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:51 WIB

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Sabtu, 18 April 2026 - 07:59 WIB

DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat

Sabtu, 18 April 2026 - 03:45 WIB

Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV

Jumat, 17 April 2026 - 13:03 WIB

Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah

Jumat, 17 April 2026 - 03:22 WIB

Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar

Berita Terbaru