Latihan FPDA Exercise Bersama Shield 2025: Dinamika Keamanan dan Persepsi Pengepungan di Asia Tenggara

- Penulis

Rabu, 2 Juli 2025 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta-Latihan militer gabungan Exercise Bersama Shield 2025 (EBS25) yang digelar oleh ๐˜๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜—๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ด (๐˜๐˜—๐˜‹๐˜ˆ). pada awal Juni 2025 memang menyedot perhatian strategis, khususnya di Indonesia.

Kehadiran kapal perang, pesawat tempur, dan ribuan personel dari Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, dan Selandia Baru di perairan regional termasuk area yang oleh Indonesia dianggap sensitif seperti dekat Laut Natuna dan perairan sekitar Selat Sunda tidak bisa dipandang sekadar sebagai rutinitas belaka.

Latihan skala besar ini, meski secara resmi ditekankan sebagai upaya memelihara interoperabilitas dan kesiapan untuk stabilitas kawasan pasca-konflik era 1960-an, berlangsung di tengah kanvas geopolitik Asia Tenggara yang sedang memanas, memicu pertanyaan dan kekhawatiran tentang implikasi sebenarnya, khususnya bagi Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

FPDA sendiri lahir dari rahim ketegangan sejarah, yaitu konfrontasi Indonesia-Malaysia di tahun 1960-an.

Tujuan deklarasinya memang menjaga stabilitas regional pasca-kemerdekaan Malaysia, menjadi semacam jaring pengaman keamanan kollektif bagi dua negara kecil (Singapura dan Malaysia) dengan dukungan tiga kekuatan ekstra-regional.

Namun, fakta bahwa aliansi yang berakar pada konflik dengan Indonesia ini tetap bertahan dan bahkan semakin aktif dengan patroli udara rutin (IAP), latihan laut reguler, dan latihan besar seperti Bersama Shield yang digelar setiap 2-3 tahun tentu menciptakan persepsi tersendiri bagi Jakarta.

Aktivitas yang terpusat di jantung maritim Asia Tenggara, terutama Selat Malaka dan Laut China Selatan (LCS), serta kini menyentuh area “punggung” Indonesia seperti Natuna dan Selat Sunda dalam EBS25, memperkuat narasi di kalangan tertentu tentang potensi “pengepungan” atau setidaknya pengawasan ketat oleh blok militer eksternal.

Konteks waktu EBS25 ( ๐˜Œ๐˜น๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜น๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฅ 2025) inilah yang menambah lapisan kerumitan.

Latihan ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Ia muncul bersamaan dengan memanasnya tensi politik dan keamanan antara Indonesia dengan beberapa negara, termasuk anggota FPDA.

Isu-isu seperti pergerakan militer asing di dekat perairan Indonesia yang dirasakan kurang transparan, sengketa atau ketidaksepahaman terkait eksplorasi sumber daya migas (terutama di wilayah perbatasan), dan situasi kompleks di Papua yang selalu menarik perhatian internasional (dan seringkali kritik), telah menciptakan atmosfer saling curiga dan ketidaknyamanan.

Meskipun skenario latihan EBS25 mungkin tidak secara eksplisit menargetkan Indonesia, pemilihan lokasi yang sensitif secara strategis dan geopolitik di tengah suasana seperti ini sulit untuk tidak dibaca sebagai pesan, atau minimal, menunjukkan ketidakpekaan terhadap perasaan strategis Jakarta.

Pakar pertahanan global menawarkan perspektif beragam namun saling melengkapi dalam membaca dinamika FPDA dan dampaknya terhadap Indonesia.

Ralf Emmers, pakar keamanan Asia Tenggara, menekankan sifat FPDA yang pada dasarnya defensif dan berfokus pada kapasitas negara anggotanya.

Dia berargumen, “FPDA tetap relevan sebagai mekanisme kepercayaan dan pembangunan kapasitas untuk Malaysia dan Singapura, bukan sebagai aliansi ofensif.

Namun, latihan di area sensitif seperti Natuna, meski legal di perairan internasional, pasti akan memicu reaksi di Jakarta karena menyentuh isu kedaulatan dan keamanan maritim yang sangat peka bagi Indonesia” (Emmers, 2023).

READ  Keteguhan Iman di Bulan Ramadan: Pesan Inspiratif Bunda Tiur Simamora

Di sisi lain, ๐˜๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜บ, yang banyak meneliti LCS, melihat FPDA dalam kerangka kompetisi kekuatan besar. Dia menyatakan, “Aktivitas FPDA yang meningkat, termasuk di LCS, harus dilihat juga dalam konteks kekhawatiran yang lebih luas anggota-anggotanya terhadap asertivitas China.

Namun, bagi Indonesia, ini bisa terlihat sebagai bagian dari pola yang lebih besar dari keterlibatan militer eksternal di kawasannya, menambah rasa kerentanan” (Storey, 2024).

Sementara itu, analis pertahanan Indonesia seperti Evan A. Laksmana sering kali menyoroti dilema keamanan yang diciptakan. Dia mencatat, “Latihan FPDA di perairan dekat wilayah kedaulatan Indonesia, meski di jalur internasional, memperkuat persepsi ancaman tradisional di kalangan militer dan elite politik Indonesia.

Ini memicu kebutuhan respons, baik diplomasi maupun peningkatan deterensi sendiri, yang pada gilirannya dapat memicu siklus ketidakpercayaan dengan tetangga terdekat sekalipun” (Laksmana, 2025).

Jadi, Exercise Bersama Shield 2025 lebih dari sekadar manuver militer teknis. Ia adalah cermin dari ketegangan yang lebih tajam dalam arsitektur keamanan Asia Tenggara.

Klaim resmi FPDA tentang menjaga stabilitas melalui kesiapan kolektif bertabrakan dengan realitas persepsi keamanan nasional Indonesia yang merasa wilayah strategisnya “disinggahi” oleh aliansi yang secara historis memiliki beban masa lalu.

Lokasi latihan yang sensitif, timing-nya yang bertepatan dengan ketegangan politik bilateral, dan sifat FPDA yang menghubungkan kekuatan ekstra-regional secara langsung dengan keamanan Selat Malaka dan LCS, semuanya berkontribusi pada perasaan di Jakarta bahwa ruang strategisnya sedang dipersempit atau diawasi ketat.

Meskipun narasi “pengepungan” mungkin hiperbolik, kegelisahan yang mendasarinya tentang kedaulatan, pengaruh eksternal, dan dinamika keamanan yang berubah adalah nyata dan perlu ditangani.

Keberlanjutan stabilitas di kawasan ini akan sangat bergantung pada kemampuan semua pihak, termasuk FPDA dan Indonesia, untuk mengelola persepsi ini secara konstruktif melalui dialog keamanan yang transparan dan jujur, serta menghindari tindakan yang dapat diinterpretasikan sebagai provokasi di tengah atmosfer yang sudah rentan.

Diplomasi pertahanan yang intensif dan saling menghormati zona sensitif menjadi kunci untuk mencegah rutinitas latihan militer berubah menjadi pemicu ketidakstabilan baru.

Sumber: Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht

๐‘๐ž๐Ÿ๐ž๐ซ๐ž๐ง๐ฌ๐ข

1. ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด, ๐˜™. (2023). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜—๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ด ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ช๐˜ง๐˜ต๐˜บ: ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜–๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ. ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ ๐˜š๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ด๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, 45(3), 367โ€“389.

2. ๐˜“๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜Œ. ๐˜ˆ. (2025). ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข’๐˜ด ๐˜š๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ค ๐˜—๐˜ฐ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜Œ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ท๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ง๐˜ช๐˜ค: ๐˜•๐˜ข๐˜ท๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜—๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ง๐˜ต๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜‹๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ค๐˜ด [๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ]. ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜š๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ค ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜š๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด (๐˜Š๐˜š๐˜๐˜š) ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข.

3. ๐˜š๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜บ, ๐˜. (2024). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜š๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜š๐˜ฆ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ด๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฆ: ๐˜•๐˜ข๐˜ท๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‹๐˜ช๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ค ๐˜š๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜š๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ค ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ. ๐˜๐˜ฏ ๐˜ˆ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ (๐˜Œ๐˜ฅ.), ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ง๐˜ช๐˜ค (๐˜ฑ๐˜ฑ. 215-232). ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ ๐˜Œ๐˜ญ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜—๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat
DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat
Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV
Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah
Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar
Bamsoet Raih Penghargaan Wartawan Parlemen Awards 2026 Kategori Legislator Penggerak Profesionalisme Institusi dan Aparat Penegak Hukum
Korupsi APBD Kabupaten Sorong Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp54 Miliar
Dugaan Minim nyaTransparansi Proyek Kopdes Merah Putih, Publik Pertanyakan Penggunaan Anggaran Negara di Lapangan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:51 WIB

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Sabtu, 18 April 2026 - 07:59 WIB

DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat

Sabtu, 18 April 2026 - 03:45 WIB

Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV

Jumat, 17 April 2026 - 13:03 WIB

Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah

Jumat, 17 April 2026 - 03:22 WIB

Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar

Berita Terbaru