JOURNALISTICIDE: Teror Global Terhadap Kebebasan Pers? 

- Penulis

Minggu, 22 Juni 2025 - 03:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Lhokseumawe,Aceh-Sebuah istilah baru yang mengerikan mulai mencuat dari balik senyapnya peluru dan ledakan: journalisticide. Istilah ini belum banyak digunakan secara luas dalam literatur akademik maupun wacana media, tetapi maknanya tajam dan gamblang pembantaian sistematis terhadap jurnalis.

Dalam sebuah tulisan opini yang menggugah, Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, dosen antropologi dari Universitas Malikussaleh, menyuarakan keresahannya terhadap fenomena global ini. Journalisticide, menurutnya, dapat dipahami sebagai genosida terhadap pers pembungkaman brutal terhadap suara-suara yang menyuarakan kebenaran di tengah konflik, ketidakadilan, dan represi politik.

“Jika istilah scholasticide digunakan untuk menggambarkan penghancuran sistematis terhadap institusi pendidikan dalam konflik, maka journalisticide patut digunakan untuk merujuk pada pemusnahan sistematis terhadap jurnalis dan media independen,” ujar Al Chaidar dalam tulisannya.(21/6/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gaza: Neraka bagi Pewarta

Gaza adalah contoh paling nyata dari praktik journalisticide. Sejak pecahnya konflik berskala besar pada Oktober 2023, wilayah ini berubah menjadi kuburan massal bagi para jurnalis. Data dari berbagai organisasi internasional mencatat, lebih dari 152 jurnalis terbunuh hanya dalam beberapa bulan angka yang mencengangkan dunia.

Beberapa nama menjadi simbol tragedi:

Eman El-Shanti, penyiar radio Al-Aqsa, tewas dalam serangan udara Israel bersama suami dan ketiga anaknya.

Mohammad Al-Salhi, fotografer Fourth Authority News Agency, ditembak di Gaza Tengah saat meliput situasi lapangan.

Mohammad Jarghoun dari Smart Media, tewas ditembak di timur Rafah.

Assaad Shamlakh, jurnalis lepas, terbunuh dalam serangan udara di Sheikh Ijlin bersama sembilan anggota keluarganya.

Serangan-serangan ini tidak sekadar collateral damage, melainkan bagian dari pola yang menunjukkan upaya membungkam informasi dari wilayah konflik.

READ  Program 80.000 Kopdes Merah Putih: Strategi Pemerintahan Prabowo untuk Ketahanan Ekonomi Nasional

Indonesia: Ancaman Senyap bagi Jurnalis

Meskipun tidak dalam skala sebesar Gaza, Indonesia juga tidak bebas dari bayang-bayang journalisticide. Laporan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) pada 2024 mencatat satu kasus pembunuhan jurnalis di tanah air, dari total 122 kasus di seluruh dunia. Sayangnya, hingga kini detail insiden itu belum diungkap ke publik, memperkuat kesan bahwa kasus-kasus semacam ini kerap ditutupi atau diabaikan.

Di Indonesia, para jurnalis paling rentan ketika menyentuh topik-topik sensitif: korupsi, mafia tanah, kejahatan terorganisir, dan kekerasan aparat. Banyak di antaranya yang menjadi target intimidasi, kriminalisasi, bahkan kekerasan fisik.

Organisasi seperti Reporters Without Borders (RSF) dan Committee to Protect Journalists (CPJ) telah lama menyuarakan keprihatinan terhadap meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis. Namun, lemahnya penegakan hukum dan dominasi oligarki informasi menjadikan perlindungan terhadap pewarta nyaris fiktif.

Pembunuhan Kebenaran, Ancaman Demokrasi

Al Chaidar menegaskan bahwa journalisticide adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Ketika jurnalis dibungkam, kebenaran kehilangan pembelanya. Ketika media independen dimusnahkan, publik kehilangan hak untuk tahu. Maka journalisticide bukan hanya soal nyawa yang direnggut, tetapi juga tentang matinya harapan akan masyarakat yang terbuka dan adil.

Dalam konteks ini, diperlukan solidaritas global untuk menentang praktik-praktik pembungkaman terhadap jurnalis. Tidak cukup hanya mengecam; harus ada tekanan nyata terhadap negara atau kelompok bersenjata yang menjadi pelaku. Dunia harus belajar menyebut kejahatan ini dengan nama sebenarnya journalisticide dan menuntut keadilan bagi mereka yang telah gugur dalam perang mempertahankan kebenaran.

 

Penulis: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi
Menutup Pintu Impunitas, Membuka Jalan Keadilan bagi Pers
Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI harus Waspada Reaksi Alam Sampai Bencana Hujan Mikroplastik Indonesia
Yakub F Ismail: Membaca Mens Rea: Komedi dan Kritik Sosial
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:33 WIB

Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia

Rabu, 11 Februari 2026 - 05:14 WIB

Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:58 WIB

Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana

Jumat, 6 Februari 2026 - 06:46 WIB

Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi

Berita Terbaru