Suararakyat.info.Kuansing, Riau-ktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau kembali menjadi sorotan. Meski sebelumnya sempat ditindak dan disorot berbagai media, informasi terbaru menunjukkan bahwa praktik ini kembali marak, bahkan diduga semakin tumbuh subur di sejumlah lokasi seperti Sungai Paku, Tanjung Pauh, dan Sungai Lidah.(29/4/2025)
Salah satu narasumber menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 80 unit mesin rakit PETI yang aktif beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu lokasi yang menjadi sorotan terletak hanya sekitar 50 meter dari rumah seorang mantan ketua RT 07 bernama Pak Wik. Dari hasil operasi tiap unit rakit, dikabarkan mampu menghasilkan antara 8 hingga 10 gram emas per hari, yang kemudian dibakar di Koto Baru, Singingi Hilir.
Namun di tengah sorotan tersebut, muncul suara dari pihak pelaku tambang. Seorang pria bernama Hasman, yang disebut terlibat dalam aktivitas PETI, memberikan tanggapan keras terhadap pemberitaan dan tindakan dari sejumlah media yang menurutnya tak adil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami Hanya Cari Makan untuk Anak Istri,Biar abang tahu hasil tengok saja kami kerja dan merasnya. Berita itu cuma memeras orang rakit aja. Kalau tak dikasih, dinaikkan terus berita di media. Kenapa kami orang rakit selalu dipuntai uang? Kami hidup mencari makan anak istri,” ujar Hasman.
Menurut Hasman, pihaknya hanya mendapatkan hasil yang tidak seberapa dari aktivitas tambang. Ia bahkan memperlihatkan hasil hariannya yang hanya berupa 0,84 gram, 4,54 gram, dan 3,78 gram emas. “Cuma dapat segini bang,” ujarnya lirih.

Tudingan Pemerasan oleh Oknum Media
Lebih lanjut, Hasman menuduh adanya oknum media yang kerap meminta uang secara tidak wajar kepada para pelaku PETI. “Maaf sebelumnya bang, sebagian orang media sekarang banyak minta-minta uang sama orang rakit yang tidak sewajarnya. Semoga abang bukan seperti itu. Boleh dibilang udah pemerasan jatuhnya,” ungkapnya.
Hasman mengaku tak memiliki keluarga yang memahami hukum, namun dirinya sadar akan pentingnya mencari nafkah yang halal. “Kalau media minta uang minyak 100-200 (ribu), kami kasih bang. Tapi kalau tiap hari media datang, kami tak sanggup. Hari Kamis kemarin ada media yang minta Rp3 juta sama kami. Kalau tak dikasih, katanya berita dinaikkan. Menurut abang itu bukan pemerasan?” tuturnya.
Warga Koto Baru Mulai Resah
Keresahan warga pun mulai muncul, khususnya di daerah Koto Baru. Hasman menyebutkan bahwa masyarakat sudah mulai muak dengan tekanan dari sebagian media yang dianggap hanya mencari keuntungan pribadi dengan mengancam ekspos pemberitaan.
“Hidup cuma sekali bang, kita cari duit halal buat anak istri,” tambahnya.
Catatan Redaksi
Sementara aktivitas PETI tetap menjadi permasalahan serius dari sisi lingkungan dan hukum, tudingan terhadap oknum media yang memanfaatkan situasi untuk melakukan pemerasan juga tak bisa diabaikan. Praktik semacam ini mencoreng wajah jurnalisme dan merugikan masyarakat kecil yang mencoba bertahan hidup dalam keterbatasan.
Pihak berwenang diharapkan tidak hanya menindak aktivitas ilegal tambang, tetapi juga memastikan tidak ada penyalahgunaan kekuasaan, baik oleh aparat maupun oleh pihak media yang seharusnya menjadi pilar informasi dan kontrol sosial yang bersih.
(Athia)














