Suararakyat.info.Jakarta– Dunia pendidikan Indonesia kembali diwarnai dengan kisah pilu. Seorang mahasiswi berprestasi Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Debby G. Siagian, ditolak untuk mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) oleh pihak Fakultas Hukum UKI. Keputusan tersebut diperkuat oleh Wakil Dekan dan bahkan Wakil Rektor II, meskipun sebelumnya telah ada rekomendasi dari Wakil Rektor I, Bapak HLM, yang menyatakan bahwa Debby layak mendapat dispensasi mengikuti ujian.(14/4/2025)
Debby merupakan anak dari Bernard BBBI Siagian, seorang tokoh masyarakat, aktivis antikorupsi, jurnalis, serta Ketua Komunitas ORMAS RBRPG 08 dan pejuang Gerakan Anti Korupsi Nasional. Upaya Bernard untuk melakukan klarifikasi langsung kepada pihak kampus guna meminta sedikit belas kasih pun berakhir sia-sia. “Kami sudah mengajukan surat permohonan, membawa SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), dan menjelaskan bahwa pembayaran sedang dalam proses melalui program KJP dan PIP. Namun sayangnya, kampus menutup mata,” ujar Bernard dengan nada getir.
Bernard menyesalkan sikap kampus yang terkesan lebih menonjolkan asas komersial dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pernyataan yang menyakitkan seperti “Bisnis adalah bisnis. Kalau tidak mampu bayar, ya out!” justru mencederai nilai-nilai luhur UKI yang seharusnya mengedepankan kasih dan pelayanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Parahnya, sistem informasi kampus pun telah secara otomatis menutup akses Debby dari ujian dan absensi, membuat namanya seolah-olah tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa aktif. “Anak saya hanya bisa menangis melihat teman-temannya ujian, sementara dirinya diperlakukan seperti bukan bagian dari institusi itu,” ujar Bernard lirih.
Debby bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia adalah aktivis muda yang aktif di berbagai gerakan seperti anti narkoba, olahraga sepeda Kemenpora-KONI, RBCCI, serta seorang calon jurnalis masa depan. Ia juga merupakan anak dari alumni senior UKI, Dr. Bernard BBBI Siagian SH AKP, lulusan 1982 yang selama ini dikenal sebagai sosok pejuang keadilan dan integritas.
Kasus ini menambah daftar panjang kisah memilukan dari dunia pendidikan Indonesia, terutama di kampus-kampus swasta yang semakin jauh dari nilai-nilai idealisme pendidikan. “Apakah UKI kini menjadi institusi yang hanya ramah bagi mereka yang mampu membayar mahal? Apakah slogan ‘Melayani dan Bukan untuk Dilayani’ hanya menjadi jargon belaka?” tanya Bernard.
Bernard mengingatkan bahwa tindakan seperti ini bisa menjadi pukulan besar terhadap kepercayaan publik. Bahkan, ia membandingkan kondisi ini dengan tragedi meninggalnya Alm. Kenza Ezra Walewangko, mahasiswa UKI yang sempat menghebohkan publik nasional beberapa waktu lalu.
Pihak keluarga besar Siagian serta komunitas pegiat sosial dan pendidikan kini menggalang solidaritas nasional. Mereka menuntut perhatian serius dari Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta jajaran kementerian terkait seperti Kemenko PMK, Kemendikbudristek, dan Komisi II DPR RI.
Menurut Bernard, negara harus hadir dan bertanggung jawab atas carut-marutnya tata kelola pendidikan tinggi, terutama yang berkaitan dengan akses pendidikan bagi masyarakat miskin. “Di mana tanggung jawab negara dalam menjamin 20% anggaran pendidikan dari APBN? Mengapa masih ada mahasiswa miskin yang dipecat karena tidak mampu membayar?”
Ia juga menyoroti dugaan pelanggaran terhadap UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Bernard menyerukan agar semua pihak membuka mata dan hati, terutama para pemimpin institusi pendidikan agar tidak mencederai harapan generasi muda yang ingin menempuh pendidikan demi masa depan.
“Saya tidak akan diam. Ini bukan hanya soal Debby, ini soal hak rakyat miskin untuk tetap bersekolah. Tolong, dengarkan tangisan anak-anak negeri yang ingin meraih mimpi. Jangan biarkan pendidikan kita menjadi ajang komersialisasi tanpa nurani,” pungkas Bernard.
Kisah ini telah menyebar luas di kalangan netizen, aktivis pendidikan, dan organisasi masyarakat. Seruan #SaveDebbySiagian kini mulai menggema di berbagai platform media sosial.
Salam ASTA CITA – Untuk Indonesia Emas 2045, Macan Asia.
(Dr.Bernard/Rusman/Tiur)














