SUARARAKYAT.info|| Jakarta —Dalam momentum Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November 2025, tokoh pers nasional sekaligus pakar hukum internasional, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH., menyampaikan refleksi mendalam tentang arti perjuangan dan pembangunan bangsa, serta menyoroti peran besar Jenderal H.M. Soeharto dalam meletakkan fondasi kemakmuran Indonesia modern.
“Selamat Hari Pahlawan untuk seluruh rakyat Indonesia. 10 November bukan sekadar mengenang perjuangan masa lalu, tapi juga momen meneguhkan kembali semangat kemandirian bangsa,” ujar Prof. Sutan saat dihubungi media cetak dan daring nasional dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka di Jakarta, minggu (9/11/2025).
Guru Besar Hukum Internasional dan ekonom nasional ini menegaskan bahwa perjalanan panjang bangsa Indonesia penuh dengan lika-liku sejarah, terutama pasca 1965, saat bangsa ini baru bangkit dari keterpurukan ekonomi dan politik.
“Pada awal 1970-an, Indonesia masih tergolong negara miskin dengan penduduk lebih dari seratus juta jiwa, baru saja menghadapi konflik berdarah yang mengguncang fondasi bangsa,” kenangnya.
Menurut Prof. Sutan, salah satu kebijakan visioner Jenderal Soeharto adalah program transmigrasi nasional. Program tersebut bukan sekadar pemindahan penduduk, tetapi strategi besar pembangunan ekonomi berbasis pemerataan penduduk dan pengelolaan lahan produktif.
“Jenderal Soeharto membuka hutan-hutan besar menjadi pemukiman rakyat. Ia memberi rakyat miskin kesempatan memiliki tanah, berladang, dan membangun kehidupan baru,” jelasnya.
Ia menilai kebijakan ini tidak hanya mengatasi kemiskinan, tetapi juga memperkuat kedaulatan wilayah negara dari potensi penguasaan asing atas lahan-lahan kosong.
Dalam waktu kurang dari satu dekade, menurut catatan Prof. Sutan, hasil nyata pun tampak di hadapan dunia. Indonesia meraih predikat swasembada pangan, khususnya beras simbol keberhasilan pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Soeharto.
Memasuki tahun 1980-an, Soeharto memperluas arah pembangunan ke sektor industri. “Ia membuka kawasan industri terbesar di Asia, menarik kepercayaan investor asing, dan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam untuk mendorong ekonomi nasional,” tutur Prof. Sutan.
Pada era 1990-an, Indonesia mencapai puncak kejayaan ekonomi dengan pertumbuhan yang merata dari Sabang sampai Merauke. Pembangunan kilang minyak, proyek energi, hingga sistem informasi nasional melalui televisi swasta dan satelit Palapa menjadi tonggak kemajuan zaman.
Prof. Sutan menilai kebijakan ABRI Masuk Desa (AMD) merupakan langkah strategis Soeharto dalam membangun desa tertinggal. “Dengan ABRI Masuk Desa, jembatan, jalan, dan jaringan listrik mulai menjangkau pelosok negeri. Desa yang gelap menjadi terang, rakyat yang terisolasi akhirnya merasakan pembangunan,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga menyoroti bagaimana koperasi menjadi instrumen penting dalam membangun ekonomi rakyat. Pemerintah mendorong koperasi untuk membeli hasil pertanian, menyalurkan pupuk murah, hingga menyediakan kebutuhan dasar di setiap desa.
“Nelayan pun dibantu dengan kredit kapal dan pelelangan ikan yang mudah diakses. Semua sektor tumbuh dengan semangat gotong royong,” imbuhnya.
Prof. Sutan menegaskan, salah satu warisan terbesar Soeharto adalah kerukunan nasional. “Dari ratusan suku, bahasa, dan agama, beliau mampu membangun persatuan yang kuat. Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tapi kenyataan hidup sehari-hari rakyat Indonesia,” ucapnya.
Bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa pemersatu, sementara keberagaman budaya menjadi kekuatan spiritual bangsa yang bertakwa. Indonesia bahkan dikenal sebagai negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia simbol masyarakat yang religius dan toleran.
Keberhasilan membangun Satelit Palapa menjadi bukti lain bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di dunia. “Itu era ketika dunia memandang Indonesia dengan hormat,” kata Prof. Sutan.
Di akhir wawancara, Prof. Sutan menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh rakyat dan pemimpin bangsa.
“Senyum Jenderal H.M. Soeharto adalah simbol kemakmuran Indonesia. Dengan keteguhan dan kebijaksanaan, beliau mengantarkan bangsa ini menjadi negara yang disegani,” ujarnya.
Ia juga berharap agar Presiden Jenderal H. Prabowo Subianto dapat menjadikan momentum Hari Pahlawan Nasional tahun ini untuk menetapkan Jenderal H.M. Soeharto sebagai Pahlawan Besar Indonesia — sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan dedikasinya bagi bangsa dan negara.
“Semoga generasi penerus bangsa dan para pemimpin berikutnya dapat meneladani keikhlasan, kerja keras, serta pengabdian yang tulus bagi tanah air,” pungkas Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal SH., MH., yang juga menjabat sebagai Presiden Partai Oposisi Merdeka sekaligus Pengasuh Ponpes As Saqwa














