Suararakyat.info.Sukabumi — Di tengah rutinitas bangsa yang makin lelah oleh janji-janji perubahan, di tengah demokrasi yang kabarnya lahir dari rahim rakyat tapi kini disusui oleh kepentingan elite, masih ada segelintir suara yang enggan tunduk. Di antara suara-suara itu, berdirilah tiga sosok yang tak banyak bicara basa-basi, tapi selalu hadir dengan pertanyaan kritis dan logika yang tak bisa dibeli.
Mereka dikenal sebagai Tiga Sekawan: LI, AV, dan HS. Persahabatan mereka bukan sekadar urusan nongkrong di warung kopi sambil mencaci maki berita TV. Mereka berjalan, membaca, mencatat, dan bicara seringkali dengan nada tak enak didengar oleh mereka yang sedang nyaman dengan jabatan, proyek, atau relasi kuasa.
Dari Sukabumi mereka melangkah, bukan dengan kekuasaan, tapi dengan kesadaran. Tiga sekawan ini menjadi semacam cermin retak bagi para penguasa lokal yang sudah lama terbiasa melihat rakyat hanya sebagai angka dalam daftar pemilu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita ini hidup dalam demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tapi nyatanya, semua ‘rakyat’ itu sekarang bernama perusahaan, partai, atau kerabat,” kata LI saat diskusi hangat berlangsung di sudut kafe pinggiran kota.sabtu (7/6/2025)
LI dikenal lugas, AV tajam dalam memetakan celah kebijakan, dan HS seperti lem perekat yang memastikan diskusi mereka tidak berhenti di amarah, tapi berlanjut jadi gagasan. Mereka bukan politisi, bukan juga aktivis dengan spanduk lusuh atau pencari suaka hibah. Tapi kegelisahan mereka lebih nyata dari pidato peringatan Hari Reformasi.
Setiap kebijakan yang ganjil, mereka bongkar. Setiap proyek siluman, mereka kuliti. Tak jarang mereka dianggap pengganggu stabilitas padahal yang mereka ganggu hanyalah kenyamanan mereka yang korup.
“Lucu, ya. Begitu ada kritik, langsung dibilang anti-pembangunan. Padahal kita cuma tanya, kok dananya lewat rekening siluman,sindir AV dalam sebuah diskusi publik di salah satu ruang publik.
Kisah Mereka: Demokrasi Boleh Pincang, Tapi Nurani Tidak
Demokrasi di banyak tempat kini seperti gedung tua,catnya masih terlihat megah, tapi di dalamnya rayap-rayap KKN sudah merayap bebas. Tiga Sekawan tidak mengaku suci, tapi mereka tahu mana yang benar dan mana yang pura-pura benar.
Mereka sadar bahwa banyak orang yang memilih diam bukan karena setuju, tapi karena takut. Maka mereka bersuara bukan untuk merasa hebat, tapi agar ketakutan itu tidak jadi norma baru.
HS yang dikenal kalem tapi tajam, pernah berkata:
“Kalau suara-suara waras berhenti bicara, maka yang tersisa cuma orkestra penjilat yang merayakan kesewenang-wenangan dengan dalih stabilitas.”
Sindiran Mereka: Ketika Pejabat Bicara Rakyat, Tapi Sibuk Menambal Dompet
Dalam banyak forum, mereka menyoroti bagaimana demokrasi lokal makin terjebak dalam lingkaran setan: pejabat, proyek, pengusaha, dan pemodal. Pemilu menjadi musim panen, rakyat jadi komoditas, dan transparansi hanyalah jargon.
“Di Sukabumi ini, yang paling cepat selesai itu bukan pembangunan jalan, tapi pengalihan aset lewat lelang senyap,” celetuk HS dengan tawa getir.
Tiga Sekawan ini sadar, perjuangan mereka tidak akan viral seperti video prank atau drama politik nasional. Tapi mereka percaya, bahwa menjaga akal sehat dan nurani adalah bagian dari keberanian yang paling dasar.
Di negeri yang kadang lebih takut pada pengkritik ketimbang koruptor, kehadiran orang-orang seperti LI, AV, dan HS bukan hanya penting mereka adalah alarm nurani. Mereka bukan pahlawan, bukan tokoh utama. Tapi justru karena itu, mereka sulit dikendalikan dan tak bisa dibungkam.
Dan selama demokrasi masih dipenuhi aroma kolusi dan nepotisme, selama suara rakyat terus diabaikan demi suara pasar dan kontraktor, maka Tiga Sekawan ini akan tetap berdiri: mengganggu, menyindir, dan mengingatkan.
Karena bagi mereka, lebih baik jadi pengganggu sistem busuk daripada jadi pelumas kekuasaan yang rusak.
Catatan: Suararakyat.














