Hari Anak Nasional 2026: Saatnya Menghadirkan “Sacred Time”, Bukan Sekadar Membatasi Screen Time

- Penulis

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT || Pasuruan – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum penting untuk kembali mengevaluasi pola pengasuhan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Di era ketika gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, perhatian terhadap anak tidak lagi cukup diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan materi ataupun pembatasan durasi penggunaan perangkat elektronik semata. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan waktu berkualitas yang benar-benar memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh bersama keluarga.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Muhammad Syahrul Muharram, mahasiswa Universitas Al-Hikmah Indonesia sekaligus pengurus Pondok Pesantren Al-Hikmah, dalam sebuah tulisan reflektif yang mengajak masyarakat memaknai Hari Anak Nasional 2026 secara lebih mendalam.

Menurutnya, tema resmi Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, hendaknya tidak hanya dipahami sebagai slogan seremonial tahunan. Tema tersebut merupakan panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk menghadirkan kasih sayang yang nyata melalui kehadiran emosional orang tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara dalam kehidupan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Muhammad Syahrul menggambarkan fenomena yang kini banyak dijumpai di berbagai rumah tangga Indonesia. Sebuah keluarga tampak berkumpul di ruang yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan layar telepon genggamnya. Ayah menatap ponsel, ibu tenggelam dalam media sosial, sementara anak-anak menikmati hiburan digital mereka sendiri. Meski berada dalam satu ruangan, mereka sesungguhnya hidup di dunia yang berbeda.

Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi paradoks kehidupan keluarga modern. Kedekatan secara fisik belum tentu menghadirkan kedekatan emosional. Komunikasi yang dahulu menjadi fondasi utama keluarga kini perlahan tergantikan oleh interaksi digital yang sering kali mengurangi kualitas hubungan antaranggota keluarga.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan perkembangan anak. Gawai membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, kreativitas, hingga berbagai media pembelajaran yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan besar berupa meningkatnya risiko kecanduan gawai, paparan konten yang tidak sesuai usia, berkurangnya kemampuan bersosialisasi, hingga menurunnya kualitas interaksi dalam keluarga.

Karena itu, ia menilai bahwa pembahasan mengenai penggunaan gawai tidak boleh berhenti pada persoalan berapa lama anak boleh menggunakan layar atau screen time. Selama ini, banyak orang tua merasa telah menjalankan tugas pengasuhan dengan baik hanya karena berhasil membatasi jam penggunaan telepon genggam anak. Padahal, pembatasan tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti dengan kehadiran orang tua yang benar-benar mendampingi anak.

“Anak tidak hanya membutuhkan layar yang dimatikan, tetapi juga membutuhkan orang tua yang benar-benar hadir untuk mendengarkan, memahami, dan menemani mereka,” demikian esensi yang disampaikan dalam tulisan tersebut.

READ  Viral di Medsos, Nenek Pikun Terlantar Akhirnya Pulang  Polsek Tanah Jawa Lacak Keluarga Hanya dalam Sehari!

Dari pemikiran itulah muncul konsep “sacred time”, yaitu waktu yang sengaja disediakan secara khusus untuk membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak. Sacred time bukan semata-mata dimaknai sebagai aktivitas keagamaan, melainkan waktu yang dipenuhi perhatian penuh tanpa gangguan gawai maupun aktivitas lain.

Sacred time dapat diwujudkan melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama tanpa telepon genggam, mendongeng sebelum tidur, bermain permainan tradisional, membaca buku bersama, hingga mengobrol santai mengenai pengalaman anak selama sehari penuh. Aktivitas sederhana tersebut diyakini memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis dan emosional anak.

Berbagai penelitian mengenai tumbuh kembang anak juga menunjukkan bahwa interaksi aktif antara anak dan orang tua melalui pola komunikasi dua arah mampu membentuk perkembangan otak, karakter, serta kecerdasan emosional secara lebih optimal dibandingkan hanya mengandalkan konten digital, sebaik apa pun kualitasnya.

Muhammad Syahrul menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan kasih sayang, tatapan mata, pelukan, maupun kesabaran orang tua dalam mendengarkan cerita anak. Kehadiran manusia tetap menjadi kebutuhan mendasar yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa tanggung jawab menghadirkan sacred time bukan hanya berada di pundak keluarga. Sekolah perlu memperbanyak ruang bermain, diskusi, serta aktivitas yang memperkuat interaksi sosial anak. Komunitas diharapkan kembali menghidupkan ruang publik yang aman dan ramah anak. Sementara pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang memberikan dukungan nyata kepada keluarga agar memiliki waktu berkualitas bersama anak, di tengah tuntutan ekonomi dan ritme kehidupan modern yang semakin padat.

Menurutnya, membangun masa depan anak Indonesia tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas pendidikan maupun akses teknologi. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak merasa dicintai, dihargai, didengarkan, dan dilindungi dalam setiap fase pertumbuhannya.

Momentum Hari Anak Nasional 2026, lanjutnya, hendaknya menjadi titik balik bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil di dalam keluarga. Menyisihkan satu jam tanpa gawai, menikmati makan malam bersama, membaca dongeng sebelum tidur, atau sekadar mendengarkan cerita anak dengan penuh perhatian merupakan langkah sederhana yang memiliki makna besar bagi masa depan mereka.

Pada akhirnya, Hari Anak Nasional bukan hanya perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa investasi terbesar bangsa terletak pada kualitas hubungan yang dibangun bersama anak-anak hari ini. Anak-anak Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak waktu di depan layar, tetapi lebih membutuhkan kehadiran orang-orang yang mencintai mereka dengan sepenuh hati.

Penulis Opini: Muhammad Syahrul Muharram,Mahasiswa Universitas Al-Hikmah Indonesia dan Pengurus Pondok Pesantren Al-Hikmah.

Editor : Redaksi

Sumber Berita: SUARARAKYAT.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan
Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo
Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:20 WIB

Hari Anak Nasional 2026: Saatnya Menghadirkan “Sacred Time”, Bukan Sekadar Membatasi Screen Time

Senin, 13 Juli 2026 - 11:34 WIB

Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:46 WIB

Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Senin, 27 April 2026 - 08:50 WIB

Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia

Berita Terbaru