Kota Sorong Papua Barat Daya – Pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat Daya di Kota Sorong diwarnai aksi palang adat yang dilakukan oleh Majelis Muslim Papua (MMP) Kota Sorong, Jumat (19/6/2026).
Aksi palang berlangsung sekitar pukul 15.29 WIT ketika sejumlah anggota MMP tiba di lokasi Muswil dengan membawa bambu tui, simbol palang adat yang memiliki makna larangan dalam budaya masyarakat Papua.
Massa kemudian memasang palang adat di pintu utama arena kegiatan sebagai bentuk protes terhadap pelaksanaan Muswil yang dinilai tidak melibatkan organisasi Muslim asli Papua.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan MMP Kota Sorong, Fatra Muhammad Soeltif, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi agar MUI Papua Barat Daya dapat memberikan ruang yang setara bagi seluruh elemen umat Islam, termasuk organisasi yang mewadahi masyarakat Muslim asli Papua.
“Kami datang bukan untuk mengganggu jalannya Muswil, tetapi ingin menyampaikan bahwa MUI sebagai rumah besar umat Islam harus mampu merangkul semua golongan,
Muslim asli Papua juga memiliki hak untuk dilibatkan dalam forum penting seperti ini,” ujar Fatra.
Menurutnya, keberadaan MMP sebagai organisasi yang menghimpun Muslim asli Papua harus menjadi bagian dari proses pembangunan kehidupan keagamaan di Papua Barat Daya.
Ia menilai keterlibatan seluruh elemen umat menjadi penting agar keputusan yang dihasilkan dalam Muswil benar-benar mencerminkan aspirasi masyarakat Muslim secara menyeluruh.
Fatra juga menyampaikan bahwa saat ini sumber daya manusia Orang Asli Papua (OAP) yang tergabung dalam MMP telah memiliki kapasitas dan kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai forum keumatan.
“SDM Muslim asli Papua sudah siap, Kami ingin menjadi bagian dari proses pembangunan umat, bukan hanya menjadi penonton, Karena itu kami berharap ke depan MUI lebih terbuka dan memberikan ruang keterlibatan yang proporsional bagi organisasi Muslim asli Papua,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pemasangan bambu tui merupakan simbol bahwa MMP merasa belum mendapatkan penghormatan dan ruang yang cukup dalam pelaksanaan Muswil tersebut.
“Palang adat ini adalah pesan bahwa kami ingin dihargai sebagai bagian dari umat Islam di Tanah Papua, Kami berharap aspirasi ini dapat didengar dan menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Aksi berlangsung dalam suasana kondusif dengan pengawalan aparat keamanan. Hingga sekitar pukul 17.50 WIT, bambu tui masih terpasang di pintu masuk arena Muswil sebagai simbol tuntutan MMP agar keterlibatan Muslim asli Papua mendapat perhatian dalam struktur dan agenda keumatan di Papua Barat Daya.
MMP berharap ke depan MUI Papua Barat Daya dapat menjadi wadah pemersatu umat yang lebih inklusif, representatif, dan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat Muslim tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun asal-usul daerah.
Dengan semangat kebersamaan dan persatuan umat, MMP menilai pelibatan seluruh unsur masyarakat Muslim, termasuk Muslim asli Papua, merupakan langkah penting dalam memperkuat peran MUI sebagai payung besar umat Islam di Papua Barat Daya.
Penulis : Leonardo Alfredo Kara
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Suara Rakyat Info














