Solidaritas Retak, Kompensasi Gubernur Disoal: Sopir Angkot 09 Cibadak–Cicurug Geram Rekan Sesama Masih Beroperasi

- Penulis

Selasa, 24 Maret 2026 - 04:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info || SUKABUMI – Kebijakan kompensasi yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada para sopir angkutan kota (angkot) menuai polemik di lapangan. Alih-alih meredam beban ekonomi dan menciptakan kekompakan antar sopir, kebijakan tersebut justru memicu kekecewaan dan ketegangan di kalangan pengemudi, khususnya pada trayek 09 jurusan Cibadak–Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Program kompensasi yang dijanjikan sebesar Rp600 ribu per sopir untuk tiga hari, yakni pada tanggal 23, 24, dan 29 Maret 2026, sejatinya dimaksudkan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap para sopir yang terdampak pembatasan operasional. Kebijakan ini disampaikan melalui Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi sebagai tindak lanjut arahan gubernur.

Namun realitas di lapangan berbicara lain. Sejumlah sopir angkot masih terlihat beroperasi seperti biasa, meskipun telah ada kesepakatan tidak tertulis untuk menghentikan sementara aktivitas demi menghormati kebijakan tersebut. Kondisi ini memicu kecemburuan sosial dan rasa ketidakadilan di antara para sopir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu sopir angkot yang enggan disebutkan nama lengkapnya, Gojin (45), mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui wartawan. Ia menilai bahwa ketidakkompakan antar sopir menjadi sumber utama persoalan yang kini mencuat.

“Harusnya kita ini kompak. Kalau memang sudah ada kebijakan dari gubernur lewat dinas, ya kita jalankan sama-sama. Tapi kenyataannya masih ada yang narik (beroperasi), ini yang bikin kami geram,” ujarnya dengan nada kesal.

Menurutnya, kompensasi yang diberikan seharusnya menjadi solusi sementara bagi sopir untuk tetap bertahan tanpa harus turun ke jalan. Namun ketika sebagian sopir tetap beroperasi, maka yang lain merasa dirugikan karena kehilangan potensi penghasilan sekaligus tidak mendapatkan keadilan dalam pelaksanaan kebijakan.

READ  Pembangunan Kontroversial: Gerai KDMP Berdiri di Atas Harapan Kesehatan Warga? 

Situasi ini juga menimbulkan pertanyaan terkait pengawasan dari pihak berwenang. Para sopir berharap Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi dapat bertindak tegas dan memastikan kebijakan berjalan merata tanpa adanya pelanggaran di lapangan.

“Kami bukan menolak kebijakan, tapi minta keadilan. Kalau memang harus libur, ya semua libur. Jangan ada yang curi-curi jalan,” tambah Gojin.

Di sisi lain, sejumlah sopir yang tetap beroperasi diduga terdorong oleh kebutuhan ekonomi yang mendesak. Tidak sedikit dari mereka yang merasa kompensasi Rp600 ribu selama tiga hari masih jauh dari cukup untuk menutup kebutuhan harian keluarga.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan tidak semata pada kebijakan, tetapi juga pada implementasi dan komunikasi yang dinilai belum maksimal. Tanpa pengawasan yang ketat dan kesadaran kolektif, kebijakan yang bertujuan baik justru berpotensi menimbulkan konflik horizontal di kalangan masyarakat kecil.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi terkait langkah evaluasi maupun penindakan terhadap sopir angkot yang masih beroperasi di tengah kebijakan kompensasi tersebut.

Ketegangan di kalangan sopir angkot trayek 09 ini menjadi cerminan bahwa kebijakan publik, sekecil apapun, membutuhkan ketegasan, transparansi, dan solidaritas agar tidak menimbulkan dampak yang justru merugikan masyarakat itu sendiri.

Penulis : HS

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dapur MBG Cisaat Tanpa Ahli Gizi: Dugaan Kelalaian Sistemik, Pernyataan Mitra Picu Polemik Baru
Curi Start Tanpa Izin, Proyek Tower 50 Meter di Bojonggenteng Sukabumi Diduga Langgar Aturan dan Abaikan Keselamatan Warga
Potret Kemiskinan yang Terlupakan: Jeritan Sunyi dari Rumah Rapuh di Pelosok Sukabumi
Truk Mogok Semalaman, Jalur Vital di Sukabumi Lumpuh Total Saat Jam Sibuk Pagi
Proyek Menara BTS di Parungkuda Disetop Sementara, Perizinan PBG Jadi Sorotan
Jalan Karangtengah Dipenuhi Tanah Berserakan, Pengendara Terancam Tergelincir dan Jarak Pandang Terganggu
Gedung MUI Sukabumi Disegel Kontraktor, Dugaan Tunggakan Pembayaran Pekerjaan Paving Blok Memicu Polemik
Anggaran Rp5,9 Miliar Dipersoalkan,Proyek Lapang Sekarwangi Dinilai Abaikan Krisis Warga dan Potensi Risiko Tata Ruang
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 13:47 WIB

Dapur MBG Cisaat Tanpa Ahli Gizi: Dugaan Kelalaian Sistemik, Pernyataan Mitra Picu Polemik Baru

Jumat, 17 April 2026 - 08:41 WIB

Curi Start Tanpa Izin, Proyek Tower 50 Meter di Bojonggenteng Sukabumi Diduga Langgar Aturan dan Abaikan Keselamatan Warga

Kamis, 16 April 2026 - 15:11 WIB

Potret Kemiskinan yang Terlupakan: Jeritan Sunyi dari Rumah Rapuh di Pelosok Sukabumi

Rabu, 15 April 2026 - 04:00 WIB

Truk Mogok Semalaman, Jalur Vital di Sukabumi Lumpuh Total Saat Jam Sibuk Pagi

Rabu, 15 April 2026 - 01:31 WIB

Proyek Menara BTS di Parungkuda Disetop Sementara, Perizinan PBG Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kodim 1802/Sorong Percepat Progres Jembatan Perintis Garuda Tahap IV

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:13 WIB