SUARARAKYAT.info || PROBOLINGGO— Menyikapi arah kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kian membahayakan posisi geopolitik Indonesia, Aliansi BEM Pasuruan Raya (BEMPAS) dan Aliansi BEM Probolinggo Raya (BEMPRO) menggelar Konsolidasi Akbar Jilid III dan Sarasehan di Asyiq Cafe, Probolinggo, pada Minggu (15/3).
Forum yang mempertemukan ratusan aktivis mahasiswa dari dua wilayah ini mengusung tajuk *”Board of Peace dan Bayang-Bayang Perang Dunia III”*. Konsolidasi ini secara tegas menyoroti keterlibatan aktif Indonesia dalam skema *Board of Peace* (BoP), penandatanganan perjanjian dagang RI-AS, hingga wacana pengiriman pasukan TNI ke Gaza di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Gerakan ini sekaligus mempertegas dukungan mahasiswa daerah terhadap Petisi Masyarakat Sipil Nasional yang sebelumnya telah diteken oleh puluhan organisasi nirlaba, serikat buruh, dan petani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, *Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, M Ubaidillah Abdi*, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton saat kedaulatan bangsa sedang dipertaruhkan di atas meja diplomasi internasional.
“Kita melihat hari ini bagaimana peta kekuatan global bergeser dan ketegangan kian meruncing. Langkah pemerintah melalui perjanjian dagang dengan AS dan keterlibatan dalam BoP bukanlah sebuah jalan tengah atau *honest broker* seperti yang diklaim, melainkan ancaman terseretnya Indonesia ke dalam pusaran konflik militer internasional,” tegas Ubaidillah di hadapan forum.
Ia juga menambahkan bahwa narasi perdamaian tidak boleh dijadikan kedok untuk memuluskan kepentingan imperialisme Barat. “Pemerintah harus ingat amanat konstitusi. Kita menolak segala bentuk kerja sama yang menjadikan Indonesia sekadar penyedia logistik atau alat geopolitik kekuatan asing yang justru menjauhkan kita dari prinsip kemerdekaan bagi segala bangsa. Mahasiswa tidak boleh diam saat dunia sedang terancam dan kedaulatan digadaikan,” lanjutnya.
Senada dengan hal tersebut, *Koordinator Aliansi BEM Probolinggo Raya, M Robius Zaman*, (Azam) sebagai tuan rumah konsolidasi, menyoroti dampak kebijakan global tersebut terhadap stabilitas dan kesejahteraan rakyat di daerah.
“Konsolidasi di Probolinggo hari ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa di daerah tidak buta terhadap politik luar negeri. Kebijakan elitis di pusat, seperti perjanjian dagang internasional, seringkali berujung pada investasi berdarah yang mengorbankan hak-hak buruh dan petani di daerah kita. Kita menolak tegas jika ekonomi nasional dibangun di atas penderitaan rakyat akibat ketergantungan pada hegemoni Barat,” ungkap Azam
Ia juga menyerukan pentingnya merapatkan barisan lintas wilayah untuk mengawal isu ini. “Jika langkah diplomasi pemerintah justru membahayakan rakyat, mengkhianati amanat UUD 1945, dan diam terhadap kejahatan kemanusiaan di Gaza maupun ancaman perang kawasan, maka kami dari Probolinggo dan Pasuruan siap menjadi garda terdepan untuk melakukan aksi perlawanan!” serunya yang disambut riuh pekik ‘Hidup Mahasiswa’ dari para peserta.
Konsolidasi Akbar ini juga menghadirkan sejumlah pemantik diskusi, yakni Pres Qais Zauqi dan Bung Indra, yang membedah tuntas korelasi antara kebijakan makro global dengan realitas sosial kemasyarakatan di Indonesia.
Acara ditutup dengan pembacaan Pernyataan Sikap Bersama BEMPAS dan BEMPRO yang menuntut pemerintah untuk segera membatalkan perjanjian dagang RI-AS yang merugikan, mengkaji ulang posisi Indonesia di BoP, dan mengecam keras segala bentuk agresi militer AS-Israel di Timur Tengah.
Kedua aliansi BEM berkomitmen akan terus melipatgandakan kekuatan, memperkuat literasi politik di akar rumput, dan siap turun ke jalan jika suara kritis masyarakat sipil terus diabaikan oleh negara.
Penulis : M Ubaidillah
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














