SUARARAKYAT.info || SUKABUMI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, giliran pelaksanaan di SMAN Pelabuhan Ratu yang menu distribusinya dipertanyakan oleh sejumlah wali murid. Mereka menilai paket makanan yang dibagikan untuk jangka waktu dua pekan tidak mencerminkan prinsip gizi seimbang sebagaimana tujuan awal program tersebut.
Salah seorang wali murid berinisial FR (43) mengungkapkan kekecewaannya terhadap menu yang diterima anaknya. Ia menyebut bahwa paket MBG yang dibagikan pada periode 25 Februari hingga 8 Maret 2026 hanya berisi:
1 kantong kurma
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
2 potong daging ayam
1 pak minuman probiotik (Yakult)
2 bungkus biskuit Roma 157 gram (rasa kelapa dan cokelat)
Menurut FR, pembagian tersebut dinilai tidak proporsional apabila dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama dua minggu ke depan.
“Kalau ini untuk dua minggu, jelas tidak cukup. Ini bukan soal gratis atau tidak, tapi soal kecukupan gizi anak-anak kami,” ujarnya kepada SUARARAKYAT.info, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, sebagai orang tua, pihaknya mendukung penuh program pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar. Namun, ia berharap implementasinya benar-benar memperhatikan standar kecukupan nutrisi, bukan sekadar formalitas distribusi.
Sejumlah wali murid lainnya juga menyampaikan kegelisahan serupa. Mereka mempertanyakan mekanisme perencanaan menu, pengawasan kualitas, hingga transparansi anggaran dalam pelaksanaan program tersebut di tingkat sekolah.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang digadang-gadang sebagai langkah strategis untuk memperbaiki kualitas gizi generasi muda Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah pusat menegaskan pentingnya standar gizi seimbang, keberagaman menu, serta pengawasan ketat dalam pelaksanaannya.
Namun, realitas di lapangan kerap menunjukkan adanya perbedaan antara konsep dan praktik. Jika benar paket tersebut dimaksudkan untuk konsumsi dua minggu, maka muncul pertanyaan mendasar: apakah telah dilakukan kajian kebutuhan kalori dan protein sesuai usia siswa SMA? Apakah terdapat pengawasan dari dinas terkait? Dan bagaimana sistem evaluasi terhadap penyedia atau dapur pelaksana (SPPG)?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN Pelabuhan Ratu maupun pengelola dapur SPPG belum memberikan keterangan resmi terkait menu yang dibagikan tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan yang berimbang.
Masyarakat berharap klarifikasi segera disampaikan agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap program yang sejatinya memiliki tujuan mulia. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar program bantuan sosial tidak kehilangan legitimasi di mata publik.
Catatan Redaksi:Program makan bergizi bukan sekadar distribusi bahan pangan, melainkan intervensi strategis terhadap kualitas sumber daya manusia. Ketika menu yang dibagikan menimbulkan tanda tanya, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi sekolah atau dapur penyedia, melainkan kredibilitas kebijakan publik itu sendiri. Pemerintah daerah dan pelaksana teknis wajib membuka ruang klarifikasi serta evaluasi terbuka. Gizi anak bangsa bukan ruang eksperimen administratif.
Penulis : Hs/Prin
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info















Gimana kog gak ada kelanjutan berita, ini akan di SC dan segera dikirim ke BGN nasional untuk di tindaklanjuti pihak penyedia mbg dan pihak sekolah wajib harus menjawab. APA JANGAN2 UDA BERMAIN DIBELAKANG LAYAR?