SUARARAKYAT.info|| SUKABUMI — Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus mengoptimalkan program perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur jalan sepanjang tahun 2025. Di tengah keterbatasan anggaran dan luasnya jaringan jalan kabupaten yang harus ditangani, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi memilih strategi perbaikan yang dinilai paling efektif dan efisien, yakni dengan mendominasi penggunaan metode pengaspalan hotmix.
Kepala Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Uus Firdaus, mengungkapkan bahwa mayoritas pekerjaan perbaikan jalan tahun ini memang menggunakan metode hotmix. Kebijakan tersebut diambil agar pemerintah daerah dapat menjangkau lebih banyak titik ruas jalan yang mengalami kerusakan, baik ringan maupun sedang.
“Sepanjang 2025, perbaikan jalan didominasi oleh hotmix karena metode ini lebih efisien dari sisi pembiayaan dan pelaksanaan. Dengan anggaran yang sama, kita bisa menangani lebih banyak ruas,” ujar Uus Firdaus saat ditemui, Selasa (27/1/2026)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, Uus menegaskan bahwa metode pengecoran beton tetap diterapkan, namun hanya pada ruas-ruas tertentu yang dinilai prioritas. Ruas jalan yang dilalui kendaraan bertonase berat, seperti angkutan material, hasil industri, maupun kawasan dengan kontur tanah yang membutuhkan kekuatan struktur lebih tinggi, menjadi sasaran utama pengecoran.
“Pengecoran tidak kita tinggalkan, tapi selektif. Biasanya untuk jalan yang sering dilalui angkutan berat atau kondisi kontur yang memang membutuhkan struktur lebih kuat,” jelasnya.
Menurut Uus, salah satu alasan utama keterbatasan penerapan pengecoran beton adalah faktor biaya. Dibandingkan hotmix, metode pengecoran membutuhkan anggaran yang jauh lebih besar.
“Kalau pengecoran, biayanya bisa dua kali lipat dibandingkan pengaspalan hotmix. Itu yang menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan anggaran,” terangnya.
Dari sisi teknis, Uus mengakui bahwa jalan dengan metode pengecoran memiliki keunggulan dalam hal durabilitas dan usia pakai. Struktur beton dinilai lebih tahan terhadap beban berat dan memiliki umur layanan yang lebih panjang dibandingkan hotmix.
Namun demikian, dalam konteks pembangunan dan pemeliharaan jalan secara menyeluruh, hotmix dinilai sebagai pilihan paling rasional. Selain biaya yang lebih efisien, proses pengerjaannya juga relatif lebih cepat sehingga dampak gangguan terhadap aktivitas masyarakat dapat diminimalisasi.
“Hotmix memang tidak sekuat pengecoran dalam jangka panjang, tapi dari sisi efektivitas dan pemerataan pembangunan, metode ini memungkinkan kita menjangkau ruas jalan yang lebih luas,” ujarnya.
Uus menambahkan, strategi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga, khususnya dalam mendukung aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, serta distribusi barang dan jasa di Kabupaten Sukabumi yang memiliki wilayah cukup luas dan beragam kondisi geografis.
“Dengan pendekatan ini, kami berharap perbaikan dan pemeliharaan jalan bisa dirasakan lebih merata oleh masyarakat, meskipun dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah,” pungkas Uus Firdaus.
Penulis : Edi
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














