Bantuan Dinilai Tak Layak, Nelayan Pulau Mandangin Soroti Tanggung Jawab HCML

- Penulis

Senin, 22 Desember 2025 - 13:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Sampang — Harapan nelayan kecil di Desa Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, terhadap program bantuan dari perusahaan migas Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) kembali berubah menjadi kekecewaan.Senin (22/12/2025)

Bantuan yang digulirkan perusahaan tersebut dinilai jauh dari standar kualitas yang dibutuhkan nelayan, bahkan dianggap tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sejumlah warga Pulau Mandangin menyampaikan keluhan serius terkait kualitas bantuan yang diberikan HCML selama bertahun-tahun beroperasi melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas di wilayah perairan sekitar desa mereka. Bantuan yang diterima nelayan kecil terdiri dari empat jenis, yakni lampu torpedo, tali, lampu senter, dan baling-baling kapal. Namun, alih-alih membantu meningkatkan produktivitas, bantuan tersebut justru dianggap tidak layak pakai.Salah seorang warga setempat yang juga berprofesi sebagai penjual alat-alat nelayan menegaskan bahwa dirinya sangat memahami kebutuhan nelayan, termasuk kualitas barang yang aman dan tahan digunakan di laut. Ia menilai bantuan dari HCML tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang seharusnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau kualitasnya bagus, nelayan bisa langsung tahu. Tapi ini jauh dari standar. Bahkan untuk kebutuhan dasar melaut saja sangat berisiko,” ujarnya.

Kekecewaan warga memuncak saat menerima bantuan baling-baling kapal yang diklaim berbahan kuningan. Setelah diuji secara sederhana menggunakan magnet, baling-baling tersebut justru menempel, menandakan materialnya bukan kuningan asli.

“Ini jelas bukan kuningan ori. Kalau kuningan, mana mungkin nempel magnet. Kami seperti dipermainkan, seperti kena prank,” ungkap seorang nelayan dengan nada kesal.Warga menilai, selama belasan tahun HCML mengambil kekayaan sumber daya alam di sekitar Pulau Mandangin, dampak yang dirasakan masyarakat nelayan justru lebih banyak merugikan. Kerusakan ekosistem laut, perubahan arus, hingga berkurangnya hasil tangkapan ikan disebut menjadi faktor menurunnya pendapatan nelayan kecil.

READ  Oknum Kabid DKP3 Majalengka Diduga Hamili Seorang Wanita, Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN Mendesak Bupati Majalengka Segera Memberhentikan Tidak Hormat.

“Kekayaan alam diambil, tapi bantuan tidak seimbang dengan kerusakan yang kami rasakan. Yang ada justru makin menyengsarakan nelayan seperti Fadli dan Badrus,” kata warga lainnya.

Kritik serupa juga disampaikan oleh Doni, calon Kepala Desa Pulau Mandangin. Ia menegaskan bahwa kualitas bantuan dari HCML memang jauh dari standar SNI dan tidak mencerminkan pemahaman terhadap kebutuhan riil nelayan.

“Saya menjual alat nelayan, saya tahu kualitas. Saya tahu mana barang yang aman dipakai di laut dan mana yang tidak. Bantuan seperti ini tidak layak dan berpotensi membahayakan nelayan,” tegas Doni.

Ia berharap ke depan pihak HCML tidak lagi asal menyalurkan bantuan tanpa kajian mendalam. Menurutnya, perusahaan harus melakukan observasi langsung terhadap kebutuhan nelayan dan mengutamakan kualitas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kami tidak minta mewah. Kami minta layak, aman, dan sesuai kebutuhan nelayan. Jangan hanya datang membawa bantuan simbolik, tapi kualitasnya mengecewakan,” tambahnya.Warga Pulau Mandangin berharap keluhan ini menjadi perhatian serius bagi HCML dan pihak terkait. Mereka menuntut tanggung jawab moral dan sosial yang seimbang antara keuntungan eksploitasi sumber daya alam dengan kesejahteraan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas industri migas.

Penulis : Rahmat U

Editor : Red-01

Sumber Berita: SUARARAKYAT.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keponakan Pahlawan Nasional Marsinah, Prajurit TNI AD Wahyu Tetap Tegar Bertugas di Papua Meski Ditinggal Sang Ayah
Sesat Pikir “Public Trust”, Ketika Penegakan Hukum Tereduksi Menjadi Sekadar Pencitraan
Empat Bulan Buron, Oknum Kiai Cabul Cicantayan Belum Ditangkap: Publik Pertanyakan Nyali dan Keseriusan APH
APMP Jatim Serahkan Dokumen Bukti Tambahan Dugaan Korupsi RSUD Dr Soetomo ke Kejari Surabaya, Minta Proses Hukum Transparan 
Diduga Gelanggang Judi Sabung Ayam di Teporo Kian Terang-terangan, Kepercayaan Publik terhadap Penegak Hukum Dipertaruhkan
May Day 2026 di Pasuruan: Antara Aksi Perjuangan dan Semangat Kebersamaan Buruh
Klarifikasi Resmi: Isu Kematian Hilman Suararakyat Dipastikan Hoaks, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan
Diduga Gedung Rakyat Tanpa Wakil: DPRD Kota Pasuruan Disegel Mahasiswa, Mosi Tidak Percaya Menggema di Tengah Kekecewaan
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 01:20 WIB

Keponakan Pahlawan Nasional Marsinah, Prajurit TNI AD Wahyu Tetap Tegar Bertugas di Papua Meski Ditinggal Sang Ayah

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:10 WIB

Sesat Pikir “Public Trust”, Ketika Penegakan Hukum Tereduksi Menjadi Sekadar Pencitraan

Senin, 25 Mei 2026 - 02:21 WIB

Empat Bulan Buron, Oknum Kiai Cabul Cicantayan Belum Ditangkap: Publik Pertanyakan Nyali dan Keseriusan APH

Rabu, 20 Mei 2026 - 15:04 WIB

APMP Jatim Serahkan Dokumen Bukti Tambahan Dugaan Korupsi RSUD Dr Soetomo ke Kejari Surabaya, Minta Proses Hukum Transparan 

Selasa, 28 April 2026 - 01:40 WIB

Diduga Gelanggang Judi Sabung Ayam di Teporo Kian Terang-terangan, Kepercayaan Publik terhadap Penegak Hukum Dipertaruhkan

Berita Terbaru