SUARARAKYAT.info|| Garut —Paguyuban Warga Cidarangdan yang bermukim di sekitar kawasan Leuweung Hejo, khususnya wilayah Garut Selatan dan sekitarnya, menyuarakan kekecewaan mendalam atas kondisi hutan yang semakin kritis. Mereka menilai berbagai upaya pelestarian yang digagas pemerintah selama ini belum mampu menahan laju deforestasi yang terus berlangsung.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada wartawan pada Kamis (04/12/2025) warga menegaskan bahwa hutan yang dulu menjadi sumber kehidupan mulai kehilangan tutupan vegetasinya. Alih fungsi lahan untuk pertanian musiman, maraknya penebangan liar oleh oknum tidak bertanggung jawab, serta lemahnya pengawasan dianggap sebagai pemicu utama kerusakan.
Kerusakan hutan tersebut telah memunculkan dampak lingkungan yang serius. Berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya erosi tanah, hingga ancaman banjir bandang dan tanah longsor kini dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Kondisi ini dinilai mengancam mata pencaharian warga yang sebagian besar bergantung pada sumber daya alam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat Garut, khususnya di kawasan selatan, slogan “Leuweung Hejo Rakyat Ngejo” telah lama menjadi semboyan kearifan lokal. Kalimat ini mengandung pesan moral bahwa kelestarian hutan adalah syarat bagi kesejahteraan rakyat.
Namun, menurut warga Cidarangdan, filosofi tersebut kini tinggal jargon. Program konservasi dan penghijauan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten dinilai belum berjalan secara sistematis. Banyak kegiatan hanya berhenti pada tataran seremoni tanpa pengawasan berkelanjutan di lapangan.
Warga menilai penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan belum menunjukkan ketegasan. Banyak laporan terkait aktivitas ilegal di kawasan hutan yang disebut tidak ditindaklanjuti tuntas, sehingga memberi ruang bagi pelaku untuk terus merusak lingkungan.
“Kami melihat masih banyak oknum yang dengan mudah menebang pohon tanpa izin. Padahal dampaknya langsung kami rasakan,” keluh salah satu perwakilan warga.
Melihat situasi hutan yang semakin kritis dan banyaknya pohon tua yang tidak lagi produktif, masyarakat berinisiatif melakukan gerakan penanaman pohon buah-buahan di berbagai titik hutan gundul. Menurut mereka, penanaman pohon produktif dapat menjadi dua solusi sekaligus: memulihkan tutupan hutan dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi warga.
“Kami ingin hutan kembali hijau, tetapi juga mampu memberikan hasil. Pohon buah-buahan adalah pilihan yang realistis bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar warga dalam pernyataannya.
Menanggapi hal ini, pemerintah daerah melalui Wakil Bupati Garut menyatakan komitmen penuh untuk memperkuat agenda pelestarian alam. Pihaknya berharap masyarakat semakin sadar dan terlibat aktif dalam menjaga lingkungan.
Namun, warga mengingatkan bahwa komitmen pemerintah harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang konsisten, bukan sekadar pernyataan formal.
Warga Cidarangdan juga menilai bahwa penyelamatan Leuweung Hejo tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Mereka mendorong kolaborasi antara pemerintah, organisasi lingkungan, tokoh masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan langkah perlindungan hutan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
“Kami ingin masa depan hutan Garut lebih baik. Demi anak cucu kami,” ujar perwakilan Paguyuban Cidarangdan.
Melalui pernyataan ini, masyarakat berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah serius untuk menghentikan kerusakan hutan dan memulihkan kawasan Leuweung Hejo. Bagi warga, menjaga hutan bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi sebuah tanggung jawab moral kolektif demi kelangsungan hidup bersama.
Penulis : Yogi Setiawan
Editor : Red-SR
Sumber Berita: Suararakyat. info














