SUARARAKYAT.info||Sukabumi –Di tengah keindahan alam perbukitan dan aliran sungai kecil yang menyejukkan di Desa Cijengkol, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tersimpan persoalan serius yang kian mencemaskan: menumpuknya sampah plastik di berbagai sudut desa. Jalan utama, area pasar, hingga bantaran sungai kini mulai dipenuhi limbah plastik sekali pakai bungkus makanan ringan, botol air mineral, hingga kantong belanja yang sulit terurai. Fenomena ini tak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengancam ekosistem dan kesehatan lingkungan warga setempat.
Air sungai yang dulunya jernih kini mulai keruh oleh limbah rumah tangga dan plastik yang terbawa arus. Tanah pertanian pun berpotensi tercemar mikroplastik, yang lambat laun bisa menurunkan kualitas hasil panen. Situasi ini memperlihatkan paradoks kehidupan pedesaan: di satu sisi masih bergantung pada alam, namun di sisi lain tak luput dari dampak budaya konsumtif dan produk modern yang serba praktis.
Melihat kondisi tersebut, sekelompok jurnalis muda dan perancang visual dari komunitas peduli lingkungan menggagas sebuah gerakan kreatif bertajuk “Kampanye Isu Sampah Plastik Melalui Fotografi Jurnalisme Lingkungan di Desa Cijengkol Sukabumi.” Gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa gambar memiliki kekuatan untuk menggugah hati dan pikiran lebih kuat daripada sekadar angka dan data statistik.

“Foto bisa bicara lebih jujur. Ia bisa menunjukkan bagaimana sampah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari tanpa harus menyalahkan siapa pun,” ujar salah satu inisiator kampanye tersebut.(13/11/2025)
Selama beberapa minggu, tim ini melakukan riset partisipatif di lapangan. Mereka tinggal bersama warga, menyaksikan keseharian di pasar tradisional, area pertanian, dan lingkungan rumah penduduk. Melalui pendekatan ini, mereka mencoba memahami pola konsumsi, kebiasaan membuang sampah, serta pandangan masyarakat terhadap kebersihan.
Hasil pengamatan tersebut kemudian mereka tuangkan dalam serangkaian foto jurnalistik yang bukan hanya merekam sampah plastik, tetapi juga menyoroti relasi manusia dengan lingkungannya. Dalam satu foto, terlihat seorang ibu membawa belanjaan dengan kantong plastik yang sudah berulang kali dipakai. Di foto lain, anak-anak bermain di dekat tumpukan sampah tanpa alas kaki, sementara di sisi lain, sekelompok pemuda membawa tas kain dan botol minum sendiri ke pasar desa.
Semua foto tersebut kemudian dikurasi menjadi pameran bertajuk “Dari Plastik ke Kesadaran.” Pameran ini digelar di Balai Desa Cijengkol dan menjadi magnet bagi masyarakat setempat. Warga, perangkat desa, hingga para pelajar datang berbondong-bondong menyaksikan hasil karya tersebut. Tiap foto disertai narasi pendek yang berisi pesan edukatif mulai dari ajakan memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, hingga pentingnya gotong royong menjaga kebersihan desa.
Kampanye ini tak berhenti di ruang pameran. Tim memperluas jangkauannya ke dunia digital melalui media sosial. Mereka membagikan dokumentasi dalam format photo story dengan tagar #CijengkolBebasPlastik dan #LensaLingkungan. Langkah ini terbukti efektif menarik perhatian generasi muda, yang kemudian ikut menyebarkan pesan kampanye tersebut ke lingkup yang lebih luas.
Dalam waktu singkat, dampak positif mulai terasa. Warga setempat membentuk bank sampah komunitas yang dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga dan remaja karang taruna. Plastik bekas dikumpulkan dan diolah menjadi barang berguna seperti pot tanaman, hiasan rumah, hingga bahan kerajinan tangan. Pemerintah desa pun turut mengambil langkah konkret dengan mengganti kantong plastik dalam kegiatan resmi menjadi wadah ramah lingkungan dan mengedukasi masyarakat melalui posyandu serta kegiatan PKK.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil dari satu foto, satu cerita, dan satu kesadaran. Fotografi jurnalistik lingkungan menjadi jembatan antara fakta dan empati, membuka ruang refleksi bagi masyarakat untuk melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
Lebih dari sekadar dokumentasi visual, kampanye ini menjadi proses pembelajaran kolektif antara warga, jurnalis, dan pemerintah desa tentang pentingnya kolaborasi menjaga bumi. Desa Cijengkol kini mulai dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena gerakan warganya yang berani mengubah cara pandang terhadap sampah dan keberlanjutan.
Melalui “Lensa Kesadaran” ini, Desa Cijengkol memberi inspirasi bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus bersifat formal dan teoritis. Ia bisa hadir dalam bentuk karya seni yang menyentuh, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi bukti bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari kamera, dari kepedulian, dan dari desa.
Penulis : Naufal Muhamad Zaidan,Mahasiswa Fakultas Teknik Komputet dan Desain Universitas Nusa Putra Semester 5
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














