SUARARAKYAT.info|| Jakarta – Dalam rangka menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah tokoh nasional, aktivis, dan relawan berkumpul dalam acara Gebyar DPP GAKORPAN bersama LBH Pers Presisi Polri yang dikemas dalam bentuk Diskusi & Dialog Interaktif Rumah Kebangsaan RI. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari Gerakan Solidaritas Nasional Suara Keadilan yang mengusung nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta menegaskan komitmen bahwa NKRI adalah harga mati.selasa (12/8/2025)
Acara yang digelar pada Selasa, 12 Agustus 2025 ini turut dihadiri oleh sejumlah figur penting, di antaranya Dr. Moses Robert Waimuri, SH., M.Th (Aktivis Aliansi Masyarakat Papua Bersatu), Dr. Bernard BBBBI Siagian, SH., M.AkP, Agip Supendi, SH, serta Rusman Pinem, S.Sos. Hadir pula Si Pending Emas, aktivis LMNRRI dan senior relawan Prabowo 08.
Dengan penuh semangat, para tokoh menyampaikan pesan-pesan moral dan motivasi kebangsaan di hadapan para peserta dialog. Dalam sambutannya, Dr. Moses Waimuri mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menghadapi tantangan ekonomi, sosial, kesehatan, hukum, dan pendidikan dengan semangat juang ’45. Ia menegaskan bahwa menyongsong Indonesia Emas 2045 memerlukan kesatuan tekad, kerja keras, dan sikap saling menghargai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sampurasun… Rampes! Salam Asta Cita. Mari kita dukung Presiden H. Prabowo Subianto memimpin Indonesia menuju Macan Asia. Hadapi segala keterpurukan dengan semangat, kibarkan Merah Putih, dan letakkan Garuda di dada dengan kemenangan dan senyuman,” seru Moses sambil mengepalkan tangan.
Ia menekankan filosofi sederhana namun sarat makna: “Hati yang bersih dalam baju yang kotor lebih terhormat daripada hati yang kotor dalam baju yang mewah.” Pesan ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa integritas jauh lebih penting daripada penampilan luar.
Sementara itu, Dr. Bernard Siagian mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam setiap kali mengalami kesulitan. Ia menegaskan bahwa banyak masalah hidup bersumber dari kelalaian dan perbuatan manusia sendiri. “Tuhan tidak pernah usil. Ia selalu memberi nikmat, tapi ketika kehidupan buruk, itu karena ulah kita sendiri,” ujarnya tegas.
Agip Supendi, SH menambahkan bahwa dalam kondisi ketidakpastian dan kelemahan, umat harus mengadu dan memohon campur tangan Tuhan. Ia mengingatkan bahwa banyak orang sudah diberi petunjuk namun tetap bersikap keras kepala dan arogan.
Diskusi semakin hangat ketika para narasumber membahas fenomena sosial di mana sebagian orang berpura-pura tulus demi keuntungan pribadi, gemar berprasangka buruk, dan mudah menghakimi orang lain. Dr. Moses mengutip pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak jelas,” untuk menyoroti sifat munafik dan sikap menghakimi yang justru merugikan diri sendiri.
Para tokoh sepakat bahwa kerakusan, nafsu serakah, dan ambisi tanpa memikirkan dampak sosial hanya akan membawa kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun orang sekitar. Oleh sebab itu, mereka mengajak semua pihak untuk tidak menghabiskan hidup hanya mengejar dunia fana, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
“Hidup ini singkat, sementara, dan pasti berakhir. Gunakan sisa waktu yang Tuhan berikan untuk berbuat baik, melayani, dan mengasihi sesama. Sehatkan jiwa dan raga, jadilah pribadi yang dirindukan dan dihormati,” tutup Dr. Moses Waimuri dengan penuh haru.
Acara yang berlangsung penuh keakraban ini ditutup dengan doa bersama dan pesan untuk selalu bersyukur. Para peserta meninggalkan lokasi dengan semangat baru, membawa pesan persatuan dan komitmen membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
(Dr Bernard)














