Salah Satu Rumah Di Desa Cikahuripan Jadikan Rumah Singgah Jaringan TPPO Internasional Imas-Nana di Negara Oman

- Penulis

Selasa, 12 Agustus 2025 - 00:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAKYAT.info|| Sukabumi- Peristiwa tersebut berawal ketika ada penggerebekan di bandara soekarno hatta jakarta pada jumat (8/8/2025) malam dan beberapa tenaga kerja wanita (TKW) Yang akan di berangkatkan ke Nagara Oman

Praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali mencuat di wilayah Jawa Barat. Kali ini, sorotan publik tertuju pada dugaan jaringan mafia pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang beroperasi di Cianjur dan Sukabumi dengan modus calling visa, yang disebut dijalankan secara terorganisir hingga ke luar negeri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sindikat ini melibatkan Imron Rosadi, warga Cianjur, dan seorang perempuan bernama Imas, yang disebut sebagai sponsor atau perekrut utama di Sukabumi. Imas diduga memiliki hubungan langsung dengan dua agen luar negeri bernama Nana dan Susi, yang saat ini bermukim di Negara Oman. Kedua agen ini disebut menjadi pengendali utama perekrutan dan penempatan calon pekerja migran secara ilegal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Modus “Calling Visa” untuk Perdagangan Orang

Jaringan ini diduga memanfaatkan modus calling visa.visa yang biasanya digunakan untuk mengundang tenaga kerja atau tamu tertentu ke luar negeri namun disalahgunakan untuk mengirim calon pekerja migran tanpa prosedur resmi. Praktik ini kerap menjadi pintu masuk perdagangan orang, karena korban yang berangkat tidak memiliki perlindungan hukum, sehingga rentan dieksploitasi di negara tujuan.

Lokasi dan Jaringan Terstruktur

Menurut keterangan sumber dan juga salah satu calon TKW yang gagal berangkat, rumah Imas di Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, dijadikan sebagai rumah singgah bagi calon TKI sebelum diberangkatkan. Dari lokasi inilah, para korban dikumpulkan, diproses dokumennya secara ilegal, lalu diterbangkan ke Oman atas koordinasi Nana dan Susi.

Basir pemilik rumah seakan tidak tau bahwa aktivitas pekerjaan istrinya sebagai mafia jaringan TPPO

“Saya hanya petani di kampung tidak tau soal kerjaan istrinya, cuma kalau ada yang datang memang sering cuma istirahat dan tidur sambil menunggu panggilan buat paspor atau datang ke bandara” Katanya basir ketika ditemui dirumahnya yang mengaku sebagai suaminya dari mafia imas

READ  Satgas BGN Sukabumi Tegaskan Distribusi Makan Bergizi Gratis Diawasi Ketat Sesuai SOP, Soal Anggaran Kewenangan Pusat

Lebih lanjut basir menjelaskan kalau imas disini hanya mengantarkan ke imigrasi untuk pasporan dan antar ke Jakarta setelah ada telpon dari nana, nana ini anaknya imas yang saat ini berada di negara Oman. Ungkapnya basir

Ironisnya jika memang betul basir adalah suami dari imas tidak mengetahui dengan jelas atas aktivitas istrinya, atau hanya kongkalingkong busuk untuk menutupi nya?

Wartawan Diblokir, Indikasi Upaya Tutup Mulut

Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada Imas dan Nana berujung buntu. Saat dimintai keterangan, keduanya justru memblokir kontak wartawan. Tindakan ini menimbulkan dugaan kuat adanya upaya untuk menutup akses informasi dan menghalangi pengungkapan kasus ini.

Sejumlah aktivis buruh migran kini mendesak Bareskrim Polri serta Kementerian Ketenagakerjaan untuk turun tangan.dan menangkap jaringan jaringan mafia lainya yang saat ini berada di wilayah sukabumi dan cianjur. Mereka meminta agar sindikat ini segera diusut tuntas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Pasal-pasal dalam UU tersebut mengatur bahwa setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penipuan, atau penyalahgunaan kekuasaan untuk tujuan eksploitasi dapat dikenai pidana penjara hingga 15 tahun serta denda hingga Rp600 juta.

Aktivis menegaskan bahwa penindakan tidak boleh berhenti pada perekrut lapangan seperti Imas atau Imron saja, tetapi harus membongkar jaringan internasionalnya yang berada di Oman, termasuk Nana dan Susi sebagai pengendali utama.

Mencegah Korban Baru

Pengungkapan kasus ini menjadi sangat penting mengingat modus calling visa kerap memakan korban yang pada akhirnya bekerja tanpa kontrak resmi, gaji tidak dibayar, hingga menjadi korban kekerasan dan eksploitasi. Penindakan cepat diyakini dapat memutus rantai perdagangan orang yang telah lama menghantui pekerja migran asal Indonesia.

Kini, semua mata tertuju pada langkah aparat penegak hukum. Publik menunggu keseriusan Bareskrim Polri dan kementerian terkait untuk menindak tegas para pelaku, mengusut jalur perekrutan hingga ke luar negeri, serta memastikan perlindungan penuh bagi calon pekerja migran Indonesia.

 

(Hs/Jm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Tahun Terlantar Tanpa Penanganan, Noval Warga Parakansalak Diduga Alami Gangguan Jiwa di Tengah Pusat Pemerintahan, Pemdes dan Puskesmas Disorot 
Tradisi yang Tak Lekang Waktu: Menyusuri Kehidupan dan Kearifan Lokal Kampung Naga di Tasikmalaya
Gelap Berkepanjangan di Jalur Parungkuda–Pakuwon, Warga Desak Perbaikan PJU dan Tambahan Lampu Baru
Banjir Limpahan Proyek Tol Bocimi Rendam Sawah Warga di Nagrak, Suara Protes Warga Menguat
SOP Mengalahkan Kemanusiaan, Dugaan Pelayanan RS Betha Medika Cisaat Picu Kemarahan Keluarga Pasien
MIO Desak Walikota Bertindak: Dualisme KNPI Sukabumi Dinilai Rawan Konflik, Pemerintah Diminta Segera Ambil Keputusan Tegas
Distribusi Dana Zakat Disorot: Kesehatan dan Dakwah Jadi Perbincangan Publik di Sukabumi
Pekerjaan Jembatan Kamandoran Karangtengah Mulai Dikerjakan, Bimob Polda Jabar Pantau Langsung Progres 
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 09:51 WIB

Lima Tahun Terlantar Tanpa Penanganan, Noval Warga Parakansalak Diduga Alami Gangguan Jiwa di Tengah Pusat Pemerintahan, Pemdes dan Puskesmas Disorot 

Jumat, 24 April 2026 - 08:17 WIB

Tradisi yang Tak Lekang Waktu: Menyusuri Kehidupan dan Kearifan Lokal Kampung Naga di Tasikmalaya

Jumat, 24 April 2026 - 02:26 WIB

Gelap Berkepanjangan di Jalur Parungkuda–Pakuwon, Warga Desak Perbaikan PJU dan Tambahan Lampu Baru

Jumat, 24 April 2026 - 02:14 WIB

Banjir Limpahan Proyek Tol Bocimi Rendam Sawah Warga di Nagrak, Suara Protes Warga Menguat

Rabu, 22 April 2026 - 00:39 WIB

SOP Mengalahkan Kemanusiaan, Dugaan Pelayanan RS Betha Medika Cisaat Picu Kemarahan Keluarga Pasien

Berita Terbaru