Suararakyat.info.Majene, Sulawesi Barat – Daerah pesisir yang selama ini dikenal sebagai penghasil kelapa dan komoditas pertanian lainnya kini bersiap mencatat sejarah baru. Kabupaten Majene resmi dicanangkan sebagai “Kabupaten Bawang” oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam upaya menjadikannya sebagai sentra baru bawang merah nasional, khususnya untuk menopang kebutuhan pasokan wilayah Indonesia Timur.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan pangan, pemerataan produksi, serta meningkatkan kesejahteraan petani di kawasan timur Indonesia. Potensi geografis Majene yang dinilai sangat strategis, dengan kontur tanah yang cocok dan iklim yang mendukung, menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan ini.
“Majene sangat potensial. Kami melihat kualitas tanahnya, respons petaninya, dan dukungan pemerintah daerahnya. Ini menjadi modal kuat untuk menjadikan Majene sebagai pusat produksi bawang merah di timur Indonesia,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran dalam pernyataannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam tahap awal, pengembangan akan dimulai dari sektor hulu, yakni pembibitan benih unggul. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan mendorong penggunaan benih lokal berkualitas yang sudah teruji, didukung dengan teknologi modern. Petani akan mendapatkan akses pada alat dan mesin pertanian (alsintan), sistem irigasi dengan pompa air, hingga pelatihan teknis dalam budidaya dan pasca panen.
Secara bertahap, perluasan lahan bawang merah juga akan dilakukan. Tidak hanya mengandalkan lahan yang selama ini ditanami komoditas musiman, petani juga didorong untuk melakukan rotasi tanam dan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Pemerintah daerah pun telah menyatakan komitmen penuh untuk mendukung infrastruktur dasar serta mempermudah akses pasar.
“Bawang merah ini bukan hanya soal produksi, tapi soal kesejahteraan. Jika kita bisa produksi secara mandiri di timur, kita tidak perlu lagi tergantung dari Jawa dan NTB. Ini soal distribusi yang lebih efisien, harga yang lebih stabil, dan petani yang lebih untung,” lanjut Menteri Amran.(22/7/2025)
Majene sendiri telah memiliki sejumlah kluster petani yang sebelumnya telah mencoba menanam bawang merah dalam skala kecil. Kini dengan masuknya dukungan negara secara penuh, semangat petani disebut meningkat signifikan. Mereka tak lagi ragu untuk menanam, karena bibit, teknologi, dan akses pasar sudah mulai dibuka.
Di sisi lain, pemerintah daerah menilai program ini sebagai peluang emas. Wakil Bupati Majene menyampaikan, “Kami siap menjadi pilot project. Ini bukan hanya program pertanian, ini gerakan ekonomi kerakyatan.”
Dengan program ini, Majene diharapkan mampu menciptakan efek domino yang positif: membuka lapangan kerja baru, mengurangi angka kemiskinan di pedesaan, dan menumbuhkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Selain itu, keberadaan sentra bawang merah di Sulawesi Barat akan memperpendek rantai distribusi ke berbagai provinsi di Kawasan Timur Indonesia, dari Sulawesi Tengah, Maluku, hingga Papua.
Kementerian Pertanian menargetkan dalam 1–2 tahun ke depan, Majene sudah mampu menghasilkan produksi bawang merah dalam skala komersial, bahkan siap menjadi lumbung benih untuk provinsi tetangga.
Dengan semangat kolaborasi antara pusat dan daerah, serta keterlibatan aktif petani lokal, Majene tak sekadar mencanangkan diri sebagai “Kabupaten Bawang”, tapi benar-benar sedang menapaki jalan menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan rakyat.
(Arka)














