Aceng Syamsul Hadie: Dampak Kebijakan KDM (Satu Kelas 50 Siswa) Berpotensi Memberangus Sekolah Swasta

- Penulis

Rabu, 16 Juli 2025 - 00:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Majalengka – Kebijakan Gubernur Jawa Barat KDM (Kang Dedi Mulyadi) terkait penambahan jumlah siswa dalam satu kelas untuk 50 siswa, baik di SMA, maupun SMK negeri, menuai polemik, pro kontra dan kecaman serta penolakan, penolakan keras sudah disampaikan dengan tegas oleh P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru), FKSS (Forum Komunikasi Sekolah Swasta) dan Komisi X DPR RI.

“Dampak kebijakan KDM (Satu Kelas 50 Siswa) berpotensi memberangus sekolah swasta seperti SMA, MAS, SMK dan yang sederajatnya”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S. Sos., MM. selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Aceng menjelaskan bahwa dampak negatif utama dari kebijakan Gubernur Jawa Barat KDM yang menetapkan satu kelas berisi hingga 50 siswa, antara lain: Berakibat kualitas pembelajaran menurun karena terlalu sesak, guru dan siswa tidak fokus dalam Kegiatan belajar Mengajar (KBM), resiko kesehatan dan keamanan, telah melanggar aturan pendidikan nasional (Permendikbud ristek No.17/2017), kesehatan mental guru dan siswa tertekan, dana BOS dan sarana tidak proposional, waktu efektif belajar berkurang dan yang sangat menonjol adalah sekolah-sekolah swasta terancam tutup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibat kebijakan tersebut berdampak negatif terhadap sekolah swasta yang ada di beberapa daerah, seperti di Purwakarta, Lembang, Tasikmalaya, Sukabumi (dan secara umum ribuan sekolah swasta di Jabar). Maka terjadi penurunan drastis pendaftar, kesulitan biaya operasional, dan berpotensi ancaman penutupan, karena disebabkan siswa lebih memilih sekolah negeri karena kapasitas yang ditingkatkan. Contoh penurunan pendaftar antara lain; SMA Mekarwangi Lembang hanya 10 pendaftar, SMA Pasundan (sekolah favorit) Tasikmalaya hanya 4-6 pendaftar, SMK Farmasi dan Bima Budi Purwakarta hanya 7-13 pendaftar, sekolah swasta di Sukabumi sebagian hanya memiliki pendaftar kurang dari 10 siswa, dan banyak lagi sekolah diberbagai daerah lainnya yang sama nasibnya.

READ  Plt.Sekjen Kemendagri Atensi Harga Beras yang Masih di Atas HET

“Dengan kebijakan gubernur ini, berpotensi sekolah swasta terancam tutup, karena siswa lebih memilih sekolah negeri karena daya tampung besar, hingga sekolah swasta akan kekurangan murid, kita bisa melihat kenyataan banyak sekolah swasta hanya dapat 5–15 siswa baru karena terjadi persaingan yang tidak sehat antar sekolah negeri dengan swasta, BUKAN saling melengkapi tetapi terjadi persaingan EKSTREM”, jelas Aceng.

“Tidak menutup kemungkinan akan terjadi PHK guru swasta, dimana ribuan guru swasta terancam kehilangan pekerjaan karena sekolah sudah tidak bisa membiayai operasional pendidikan yang mengandalkan dana BOS sehingga sekolah gulung tikar dan tutup”, tambah Aceng.

“Kami berharap KDM untuk mengevaluasi kembali terhadap kebijakan tentang sekolah satu kelas untuk 50 siswa itu”, pungkasnya.

Sumber: Aceng Syamsul Hadie, S. Sos., MM.
Editor: Tim Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi
Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Nama Calon Tersangka Sudah Dikantongi Polda Papua Barat Daya, Kasus Korupsi Inspektorat Tinggal Tunggu Audit BPK
Mahasiswa Sorong Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Tolak MBG, Soroti Harga BBM dan Pemborosan APBN
UICI dan Dr. Fachrul Razi Bahas Otonomi Daerah dalam Bingkai Wawasan Nusantara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:03 WIB

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:32 WIB

APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:06 WIB

Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57 WIB

Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan

Berita Terbaru

Uncategorized

Ziarah ke Makam Soekarno, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:14 WIB

Uncategorized

Tim Basket Polda Jatim Juara 1 Kapolri Cup 2026

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:10 WIB