Suararakyat.info.Semarang-Kritik keras dilontarkan kepada pihak manajemen Perumahan Green Semesta Wates Ngaliyan, Semarang, oleh dua lembaga yang aktif dalam pembelaan hak-hak konsumen dan masyarakat kecil: Yayasan Lembaga Konsumen Akhir Indonesia (YLKAI) dan Feradi WPI Advokat dan Paralegal DPC Kota Semarang. Dalam pernyataan tegas yang disampaikan hari ini, keduanya menilai sikap PT Pancanaka Green Semesta sebagai pengembang sangat lamban dan tidak menunjukkan itikad baik dalam menangani keluhan konsumennya.
Ketua YLKAI dan sekaligus Ketua Feradi WPI Kota Semarang, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap sikap manajemen yang dinilai tidak profesional. Ia menyoroti bahwa pihaknya telah melayangkan komunikasi resmi sejak 26 Juni 2025 lalu untuk menindaklanjuti aduan konsumen, namun hingga saat ini belum mendapat respon yang memadai.
“Kalau manajemen punya niat baik, seharusnya cepat tanggap. Tapi ini kok malah seperti tidak punya rasa malu. Bahkan kemarin mereka menyebut-nyebut nama seseorang berinisial Yanuar, yang katanya bertanggung jawab atas pelunasan. Ini dagelan. Orang yang disebut itu malah katanya sudah jadi DPO, terus kenapa masih dijadikan tameng?,” tegasnya.minggu (6/7/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk kecerobohan dan ketidakgentelan manajemen. Menurutnya, manajemen yang baik harus berani menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan justru menyandarkan tanggung jawab pada sosok yang sudah tak lagi punya kapasitas hukum atau moral untuk menyelesaikan perkara.
Sukindar, yang menjabat sebagai Wakil Ketua GJL (Gerakan Jalan Lurus) sekaligus bagian dari GAMAT-RI (Gerakan Anti Mafia Tanah Republik Indonesia) Kota Semarang, juga turut menyuarakan kritik. Menurutnya, pengembang tidak boleh abai terhadap tanggung jawab sosial dan moral di hadapan masyarakat.
“Jangan mentang-mentang sebagai perusahaan lantas hanya memikirkan keuntungan. Ini uang rakyat kecil, dan bagi mereka jumlah itu amat sangat berarti. Jangan sepelekan karena itu menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap dunia properti secara umum,” tegas Sukindar.
Ia menambahkan bahwa dalih bahwa uang dibawa kabur seseorang yang juga merupakan pegawai internal perusahaan justru memperjelas lemahnya sistem manajemen internal PT Pancanaka. “Ini dagelan yang tidak lucu,” imbuhnya.

Sementara itu, Sutrisno, salah satu konsumen yang dirugikan, turut menyampaikan harapannya agar uang sebesar Rp35 juta miliknya dapat dikembalikan. Ia menekankan bahwa tuntutan ini bukan semata-mata soal hukum, tetapi soal tanggung jawab moral.
“Semoga Allah mengembalikan hak saya. Ini bukan perkara besar bagi pengembang, tapi sangat besar bagi saya sebagai rakyat kecil. Kalau memang pengembang mau ikhlas menganggap ini sebagai sedekah, maka itu justru bisa menjadi berkah bagi perusahaan. Tidak akan ada yang berkurang sedikit pun dari aset mereka,” ungkap Sutrisno dengan nada haru.
Sukindar kembali menekankan bahwa perkara ini bukan soal kalah dan menang, tetapi semata-mata menyangkut soal kepedulian dan etika bisnis. “Yo gen ndang selesai wae masalah ini. Dikembalikan saja uang haknya klien kami, biar tidak berkepanjangan. Tanggung jawab moral itu penting, jangan hanya kejar untung saja,” pungkasnya.
Kasus ini diharapkan dapat menjadi momentum introspeksi bagi pengembang agar tidak meremehkan hak-hak konsumen, terlebih ketika menyangkut masyarakat kecil yang sangat menggantungkan harapan pada integritas perusahaan properti yang dipercaya.
(Skd)















Hati hati dengan doanya org yg di dholimi, dr dulu masyarakat tingkat bawah sering yg didholimi, saatnya para legal yg berhati bersih membela kaum marginal, YLKAI, Feradi, GJL bersatu pasti kuat…💪🙏👍