Suararakyat.info.Sukabumi– Waktu terus berjalan, namun luka akibat bencana longsor yang meluluhlantakkan empat rumah warga di Kampung Datar Kalapa, Desa Mekartani, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, seolah tak pernah sembuh. Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 4 Desember 2024 silam, kini telah memasuki bulan ketujuh, namun para korban masih bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Miris, itu kata yang paling tepat menggambarkan nasib mereka. Beberapa korban memilih tinggal di gubuk darurat beralas tanah dan berdinding terpal. Bahkan ada yang membangun gubuk di emperan rumah warga lain karena sudah tak punya lagi tempat berlindung. Di saat pemerintah gembar-gembor soal program rumah layak huni dan bantuan tanggap bencana, warga yang benar-benar menjadi korban justru seperti dibiarkan hidup terkatung-katung.
Salah seorang korban yang ditemui DBestNews pada Senin (23/6/2025), enggan disebutkan namanya, menceritakan dengan getir bagaimana harapan mereka terhadap perhatian pemerintah perlahan berubah menjadi kekecewaan mendalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau bantuan sembako memang sempat tiga kali kali kami terima, itu juga hanya di awal-awal kejadian. Tapi bantuan untuk rumah? Nihil. Sampai sekarang kami cuma bisa berharap, sambil terus menunggu janji-janji yang entah kapan ditepati,” ungkapnya.
Yang lebih mengejutkan, korban tersebut mengaku pernah dimintai uang oleh seseorang yang mengaku petugas, dengan dalih untuk membeli materai sebagai syarat administrasi pengajuan bantuan rumah.

“Kami disuruh nyiapin uang buat materai katanya, biar cepat diproses bantuannya. Tapi setelah itu nggak ada kabar apa-apa. Terus terang, kami bingung dan merasa seperti dipermainkan,” tambahnya dengan nada kecewa.
Pertanyaan besarnya: di mana peran pemerintah? Apakah bencana yang menimpa warga kecil hanya akan ditanggapi secara seremonial dan sekadar pencitraan di awal kejadian? Apakah musibah harus diliput berkali-kali agar para pengambil kebijakan turun tangan?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan nyata dari pihak pemerintah daerah maupun instansi terkait dalam bentuk pembangunan kembali rumah warga yang ambruk. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen dan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana secara menyeluruh dan berkeadilan.

Sementara pejabat dan elite duduk nyaman di balik meja ber-AC, ada warga di pedalaman Sukabumi yang tidur beralaskan talupuh dari bambu dan sabagian lantai tanah, beratap genting seadanya dan sebagian terpal robek, dan bertanya-tanya: apakah kami ini bagian dari rakyat yang juga dijanjikan perlindungan oleh negara?
Warga Kampung Datar Kalapa tak butuh banyak, mereka hanya ingin hak mereka sebagai korban bencana dihargai. Mereka tidak ingin belas kasihan, tetapi perhatian yang nyata. Karena bencana boleh datang kapan saja, tapi kemanusiaan seharusnya tak pernah tertunda.
(Tim)














