PETI Timbun Puluhan Hektare Sawah Warga di Sukabumi, Petani Gagal Panen dan Ketua DPC Lembaga Aliansi Indonesia Desak Evaluasi Perizinan

- Penulis

Selasa, 8 April 2025 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Sukabumi – Aktivitas tambang emas yang berada di wilayah perbukitan Desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, diduga menjadi penyebab utama rusaknya lebih dari 30 hektare lahan pertanian milik warga. Bahkan, berdasarkan pantauan udara, luas area terdampak lumpur mencapai sekitar 50 hektare, merusak petakan sawah yang sebelumnya menjadi sumber utama penghidupan para petani.

Genangan air keruh dan lumpur yang mengubah wajah subur Desa Cihaur menjadi kolam lumpur tak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan dari warga setempat. Aliran lumpur deras yang diduga berasal dari kawasan tambang di atas bukit ini, kini rutin turun membawa material tanah saat hujan datang, mengaliri sungai kecil dan menenggelamkan sawah warga di hilir.

Video-video yang diambil warga sempat viral di media sosial, memperlihatkan derasnya lumpur yang menerjang lahan pertanian dan nyaris memasuki kawasan permukiman. Dampak kerusakan ini tidak hanya bersifat sesaat, tapi berkelanjutan—mengakibatkan petani gagal panen dan kehilangan mata pencaharian utama mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Solehudin, salah satu petani setempat, mengungkapkan kemarahannya kepada pihak perusahaan tambang yang dinilainya tidak pernah melakukan pendekatan atau sosialisasi kepada masyarakat sebelum memulai aktivitasnya.

“Kami enggak butuh ganti rugi. Yang kami mau itu kejelasan dan manfaat nyata, bukan janji-janji. Kalau terus begini, lebih baik tutup saja tambangnya,” tegasnya saat diwawancarai pada Minggu (6/4/2025).

Solehudin mengaku bingung karena aktivitas tambang berlangsung begitu saja, tanpa pemberitahuan apapun kepada warga. Tiba-tiba alat berat datang, bukit dibongkar, sungai berubah aliran, dan sawah mereka hancur diterjang lumpur.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Dahlan, petani lain yang kini merugi akibat gagal panen. Menurutnya, aliran air irigasi yang dulu jernih dan lancar, kini selalu keruh dan membawa lumpur setiap kali hujan mengguyur. Ia menyesalkan tidak adanya tanggung jawab dari pihak tambang terhadap kerusakan ini.

READ  Meriah dan Penuh Syukur, Nelayan Pelabuhan Jayanti Gelar Hajat Laut ke-58 Tahun: Wujud Syukur dan Harmoni Warga Pesisir

“Padahal tinggal panen, tapi lumpur turun dari bukit, sawah saya hancur. Perusahaan pun tak muncul, apalagi bertanggung jawab,” ujarnya dengan nada kecewa.

Hingga saat ini, warga mengaku belum pernah diajak bermusyawarah oleh pihak perusahaan tambang, bahkan sekadar klarifikasi pun tak dilakukan. Akibatnya, keresahan terus meluas di tengah masyarakat.

Menanggapi polemik ini, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lembaga Aliansi Indonesia, Ruswandi, turut angkat bicara. Ia menilai bahwa aktivitas tambang tersebut telah melanggar prinsip keadilan lingkungan dan hak masyarakat atas ruang hidup yang layak.

“Kami meminta Kementerian Lingkungan Hidup segera turun tangan dan mengevaluasi kembali perizinan tambang ini. Dampaknya nyata dan sangat merugikan masyarakat, khususnya para petani yang selama ini bergantung pada lahan pertanian,” tegas Ruswandi.

Ia juga mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan lahan pertanian milik warga. “Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban, sementara perusahaan tambang beroperasi tanpa pengawasan ketat dari pemerintah.”

Ruswandi menegaskan bahwa keberadaan tambang yang tidak memperhatikan dampak sosial dan lingkungan harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat. Ia mendesak semua pihak terkait untuk tidak tutup mata atas penderitaan warga Desa Cihaur.

“Lahan pertanian warga sudah rusak berat, dan itu bukan bencana alam, tapi akibat aktivitas manusia. Kami minta ini disikapi secara serius,” tambahnya.

Warga kini menuntut penutupan tambang dan pemulihan lahan mereka. Mereka berharap suara mereka tidak hanya berhenti di media, tapi juga sampai ke telinga para pemangku kebijakan di Jakarta. Karena bagi mereka, sawah bukan sekadar tanah, tapi nyawa kehidupan.

 

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Akademisi dan Pemerintah Bersinergi, Penguatan Komunikasi Strategis Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Desa di Sukabumi
Isu Dugaan Penyimpangan Korupsi Dana Parkir Di Dishub Kota Sukabumi, LSM An-Nahl Siapkan Laporan
Forum RT dan RW Sekota Sukabumi Desak DPRD Komitmen Wali Kota Harus Dibuktikan
Bangunan Masjid Cisayar Rp 3.6 M Diduga Jadi Sarang Hantu,Inspektorat dan Kejari Jangan Tutup Mata Periksa Dinas Perkim
Dapur SPPG Margaluyu Disidak BGN, Dugaan Pelanggaran SOP Terbongkar: Program Gizi Jangan Dijadikan Ladang Bisnis!
DPRD Sukabumi Sikat HGU Bermasalah, Iwan Ridwan: Tak Ada Toleransi untuk Izin Mati
Isu Revisi Ditolak Mentah, Ketua DPRD Kota Sukabumi Tegaskan Minhol Nol Persen Tetap Berlaku
Tol Bocimi Melaju, Jalan Kabupaten Terluka: Ayi Permana Desak Tanggung Jawab
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:40 WIB

Akademisi dan Pemerintah Bersinergi, Penguatan Komunikasi Strategis Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Desa di Sukabumi

Selasa, 26 Mei 2026 - 23:28 WIB

Isu Dugaan Penyimpangan Korupsi Dana Parkir Di Dishub Kota Sukabumi, LSM An-Nahl Siapkan Laporan

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:44 WIB

Forum RT dan RW Sekota Sukabumi Desak DPRD Komitmen Wali Kota Harus Dibuktikan

Rabu, 20 Mei 2026 - 02:19 WIB

Bangunan Masjid Cisayar Rp 3.6 M Diduga Jadi Sarang Hantu,Inspektorat dan Kejari Jangan Tutup Mata Periksa Dinas Perkim

Selasa, 12 Mei 2026 - 15:01 WIB

Dapur SPPG Margaluyu Disidak BGN, Dugaan Pelanggaran SOP Terbongkar: Program Gizi Jangan Dijadikan Ladang Bisnis!

Berita Terbaru