Ngabuburit: Tradisi Menanti Buka Puasa yang Kaya Makna di Masyarakat Sunda

- Penulis

Minggu, 2 Maret 2025 - 06:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Bandung-Bulan Ramadan selalu menghadirkan nuansa tersendiri bagi umat Muslim, terutama di Indonesia. Salah satu tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda selama bulan suci ini adalah ngabuburit, sebuah aktivitas menunggu waktu berbuka puasa yang dilakukan dengan berbagai kegiatan menyenangkan.(02/03/2025)

Bagi anak-anak, ngabuburit menjadi momen yang dinanti-nanti untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar dan haus. Kalimat seperti “Urang ngabuburit, yu!” (Kita ngabuburit, yuk!) atau “Ayeuna urang ngabuburit ka mana?” (Sekarang kita ngabuburit ke mana?) menjadi ajakan yang akrab terdengar di sore hari. Mereka biasanya pergi beramai-ramai ke tempat yang cukup jauh dengan berjalan kaki atau bermain permainan tradisional seperti galah, sondah, dan ngadu kaleci (main kelereng). Selain itu, ada juga yang hanya sekadar berkumpul di pos ronda atau di bawah pohon rindang untuk bercengkerama.

Namun, ngabuburit bukan hanya milik anak-anak. Orang dewasa juga memiliki cara tersendiri dalam menjalankan tradisi ini. Para petani, misalnya, menghabiskan waktu di sawah hingga menjelang waktu berbuka. Sementara itu, para pedagang memanfaatkan ngabuburit sebagai peluang bisnis dengan menjual aneka makanan khas Ramadan, seperti kolak, es cendol, gorengan, dan takjil lainnya. Bahkan, banyak masyarakat yang bukan pedagang pun menjadi penjual dadakan untuk menambah penghasilan selama bulan puasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya itu, ada pula yang mengisi waktu ngabuburit dengan kegiatan yang lebih religius, seperti membaca Al-Qur’an atau mengikuti pengajian di masjid hingga menjelang magrib. Beberapa komunitas juga mengadakan acara berbagi, seperti membagikan takjil kepada mereka yang membutuhkan, sehingga ngabuburit tidak hanya menjadi aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi juga momentum untuk berbagi kebaikan.

READ  Law of Attraction: Filosofi Hidup yang Mengubah Realitas

Asal-usul Kata “Ngabuburit”

Secara etimologis, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni dari kata dasar burit, yang berarti sore atau petang. Kata tersebut kemudian diberi awalan “nga” dan pengulangan suku kata pertama dari “burit”, menjadi ngabuburit, yang berarti melakukan suatu aktivitas untuk menunggu sore atau petang tiba.

Konsep ini mirip dengan beberapa kata lain dalam bahasa Sunda, seperti ngamumurah (berusaha agar sesuatu menjadi murah) atau ngalilindeuk (melakukan sesuatu agar menjadi jinak). Oleh karena itu, ngabuburit bisa diartikan sebagai upaya untuk mengisi waktu hingga magrib dengan kegiatan tertentu.

Tradisi yang Terus Berlanjut

Meskipun istilah ngabuburit berasal dari masyarakat Sunda, konsep serupa juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, hanya dengan istilah yang berbeda. Misalnya, di beberapa tempat, ngabuburit identik dengan berburu takjil atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana sore menjelang berbuka puasa.

Seiring perkembangan zaman, kegiatan ngabuburit pun semakin beragam. Jika dulu anak-anak lebih banyak bermain permainan tradisional, kini banyak yang menghabiskan waktu dengan bermain gadget atau menonton video. Namun, esensi ngabuburit tetap sama: mencari kesibukan agar waktu menjelang berbuka terasa lebih cepat.

Ngabuburit bukan sekadar tradisi menunggu waktu berbuka, tetapi juga bagian dari budaya yang mempererat hubungan sosial, baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas. Tradisi ini akan terus hidup dan berkembang, mengikuti dinamika zaman, namun tetap mempertahankan nilai kebersamaan yang menjadi inti dari ngabuburit itu sendiri.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi
Menutup Pintu Impunitas, Membuka Jalan Keadilan bagi Pers
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Senin, 27 April 2026 - 08:50 WIB

Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:33 WIB

Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia

Rabu, 11 Februari 2026 - 05:14 WIB

Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset

Berita Terbaru