Suararakyat.info.Bandung-Bulan Ramadan selalu menghadirkan nuansa tersendiri bagi umat Muslim, terutama di Indonesia. Salah satu tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda selama bulan suci ini adalah ngabuburit, sebuah aktivitas menunggu waktu berbuka puasa yang dilakukan dengan berbagai kegiatan menyenangkan.(02/03/2025)
Bagi anak-anak, ngabuburit menjadi momen yang dinanti-nanti untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar dan haus. Kalimat seperti “Urang ngabuburit, yu!” (Kita ngabuburit, yuk!) atau “Ayeuna urang ngabuburit ka mana?” (Sekarang kita ngabuburit ke mana?) menjadi ajakan yang akrab terdengar di sore hari. Mereka biasanya pergi beramai-ramai ke tempat yang cukup jauh dengan berjalan kaki atau bermain permainan tradisional seperti galah, sondah, dan ngadu kaleci (main kelereng). Selain itu, ada juga yang hanya sekadar berkumpul di pos ronda atau di bawah pohon rindang untuk bercengkerama.
Namun, ngabuburit bukan hanya milik anak-anak. Orang dewasa juga memiliki cara tersendiri dalam menjalankan tradisi ini. Para petani, misalnya, menghabiskan waktu di sawah hingga menjelang waktu berbuka. Sementara itu, para pedagang memanfaatkan ngabuburit sebagai peluang bisnis dengan menjual aneka makanan khas Ramadan, seperti kolak, es cendol, gorengan, dan takjil lainnya. Bahkan, banyak masyarakat yang bukan pedagang pun menjadi penjual dadakan untuk menambah penghasilan selama bulan puasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya itu, ada pula yang mengisi waktu ngabuburit dengan kegiatan yang lebih religius, seperti membaca Al-Qur’an atau mengikuti pengajian di masjid hingga menjelang magrib. Beberapa komunitas juga mengadakan acara berbagi, seperti membagikan takjil kepada mereka yang membutuhkan, sehingga ngabuburit tidak hanya menjadi aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi juga momentum untuk berbagi kebaikan.
Asal-usul Kata “Ngabuburit”
Secara etimologis, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni dari kata dasar burit, yang berarti sore atau petang. Kata tersebut kemudian diberi awalan “nga” dan pengulangan suku kata pertama dari “burit”, menjadi ngabuburit, yang berarti melakukan suatu aktivitas untuk menunggu sore atau petang tiba.
Konsep ini mirip dengan beberapa kata lain dalam bahasa Sunda, seperti ngamumurah (berusaha agar sesuatu menjadi murah) atau ngalilindeuk (melakukan sesuatu agar menjadi jinak). Oleh karena itu, ngabuburit bisa diartikan sebagai upaya untuk mengisi waktu hingga magrib dengan kegiatan tertentu.
Tradisi yang Terus Berlanjut
Meskipun istilah ngabuburit berasal dari masyarakat Sunda, konsep serupa juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, hanya dengan istilah yang berbeda. Misalnya, di beberapa tempat, ngabuburit identik dengan berburu takjil atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana sore menjelang berbuka puasa.
Seiring perkembangan zaman, kegiatan ngabuburit pun semakin beragam. Jika dulu anak-anak lebih banyak bermain permainan tradisional, kini banyak yang menghabiskan waktu dengan bermain gadget atau menonton video. Namun, esensi ngabuburit tetap sama: mencari kesibukan agar waktu menjelang berbuka terasa lebih cepat.
Ngabuburit bukan sekadar tradisi menunggu waktu berbuka, tetapi juga bagian dari budaya yang mempererat hubungan sosial, baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas. Tradisi ini akan terus hidup dan berkembang, mengikuti dinamika zaman, namun tetap mempertahankan nilai kebersamaan yang menjadi inti dari ngabuburit itu sendiri.
(Red)














