SUARARAKYAT.info || SEMARANG — Di balik jas rapi dan sederet gelar yang kini melekat pada namanya, tersimpan kisah kelam yang nyaris mengakhiri segalanya. Advokat Donny Andretti, Ketua Umum FERADI WPI, bukan hanya dikenal sebagai pendiri dan penggerak berbagai organisasi nasional, tetapi juga sebagai sosok yang pernah berada di titik nadir kehidupan akibat depresi berat yang didiagnosis sebagai gangguan jiwa serius.
Minggu, 15 Februari 2026, di Kota Semarang, Donny ditemui rekan wartawan dan membuka lembaran hidupnya yang selama ini jarang ia ceritakan secara utuh. Ia menamai kisah hidupnya dengan refleksi rohani: “A Broken Vessel and The Potter’s Hand”—sebuah metafora tentang bejana yang hancur di tangan Sang Pembentuk.
Dari Titik Nol Kehidupan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Donny mengisahkan masa ketika dirinya mengalami gangguan depresi berat. Selama kurang lebih satu setengah tahun, ia tidak mampu bekerja, tidak mampu berpikir jernih, bahkan tidak mampu menjalankan aktivitas normal sebagai advokat maupun pelaku usaha.
“Saya satu bulan penuh tidak bisa tidur. Ketakutan dan kepanikan menguasai hidup saya. Saya konsultasi ke dokter jiwa dan didiagnosis depresi berat. Sejak itu saya bergantung pada obat untuk bisa tidur,” tuturnya dengan suara bergetar.
Efek obat hanya memberi tidur singkat. Ketika efeknya hilang, rasa takut dan gelisah kembali menyerang. Kondisi ekonomi memburuk. Toko yang ia miliki sepi. Tabungan terkuras. Perhiasan dijual untuk menyambung hidup keluarga. Bahkan ia pernah berada di titik di mana saldo rekeningnya nol.
Namun pada Oktober 2023, ia mengaku mengalami titik balik yang tak pernah ia duga. Suatu pagi ia bangun tanpa rasa takut. Ia mencoba berhenti minum obat, dan selama sepekan kondisinya stabil. Hingga akhirnya ia memutuskan menghentikan seluruh konsumsi obat.
“Saya tiba-tiba sembuh. Saya percaya itu bukan kebetulan,” ujarnya lirih.
Awal Kebangkitan dan Lahirnya FERADI WPI
Perlahan ia kembali aktif sebagai advokat. Titik perubahan signifikan terjadi ketika ia mulai memanfaatkan media sosial untuk edukasi hukum. Dari siaran-siaran singkat dan pelatihan daring setiap Senin malam, lahirlah komunitas advokat dan paralegal yang terus berkembang.
Pada April 2024, organisasi advokat dan paralegal FERADI WPI resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Dari sinilah berbagai organisasi lain bertumbuh.
Hingga kini, sejumlah entitas yang tercatat antara lain:
Organisasi Advokat & Paralegal FERADI WPI
Organisasi Mediator FERADI MEDIATORE
Organisasi Pers KAWAN JARI (Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia)
Perkumpulan Masyarakat Bertato Indonesia (PMBI)
Media online www.kawanjarinews.com�
Firma Hukum Subur Jaya & Rekan
PT. Kawan Jari Grup
Total anggota dari berbagai organisasi tersebut telah menembus lebih dari 1.800 orang di seluruh Indonesia dan terus bertambah.
Pendidikan, Sertifikasi, dan Aksi Sosial
Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, berbagai capaian berhasil diraih. Kerja sama dengan sejumlah universitas dibangun untuk mempermudah akses pendidikan anggota. Program PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) digelar bersama beberapa fakultas hukum. Sertifikasi non-akademik pun diterbitkan, seperti C.PFW, C.MDF, dan C.JKJ.
Lulusan mediator berhasil diterima sebagai mediator non-hakim di pengadilan. Penyumpahan advokat dilaksanakan di sejumlah Pengadilan Tinggi. Pusat Bantuan Hukum (PBH) didirikan untuk memberi bantuan hukum kepada masyarakat kurang mampu.
Tak hanya itu, gerakan sosial seperti pembagian makanan bergizi gratis serta pemberian beasiswa PKPA dan pendidikan non-akademik juga rutin dilakukan.
“Banyak anggota yang awalnya pengangguran, hidupnya berantakan, lalu melalui pendidikan dan magang terbuka, kini bisa bekerja profesional di bidang hukum,” jelasnya.
Refleksi Iman: Bejana yang Dibentuk Ulang
Dalam refleksinya, Donny mengutip Kitab Yeremia 18:3–4 tentang tukang periuk yang membentuk ulang bejana yang rusak.
“Hidup saya sudah rusak. Jiwa saya sakit. Saya kira kisah saya selesai. Tapi di tangan Sang Ahli, kepingan hidup saya dibentuk kembali,” ucapnya sambil mengusap air mata.
Baginya, seluruh pencapaian yang diraih bukanlah hasil kekuatan pribadi semata. Ia meyakini semuanya merupakan anugerah Tuhan.
Pesan dan Impian untuk Indonesia
Ketika diminta pesan bagi masyarakat, Donny menyampaikan lima prinsip hidup:
Miliki sikap hati yang benar dan andalkan Tuhan.
Hormati dan muliakan orang tua.
Terapkan hukum tabur-tuai dengan berbagi kepada sesama.
Setia pada pasangan hidup.
Cintai bangsa Indonesia.
Ia juga mengungkapkan sejumlah impian besar yang ingin diwujudkan melalui organisasi yang dipimpinnya: dapur umum gratis setiap hari, sekolah dan universitas beasiswa penuh, rumah sakit gratis tanpa diskriminasi, pusat pelatihan kerja bagi pengangguran, rumah rehabilitasi, hingga panti asuhan dan panti jompo.
“Saya mencintai Indonesia. Saya percaya bila Tuhan menghendaki, semua ini bisa terwujud,” tuturnya penuh harap.
Dari Kehancuran Menuju Harapan
Kisah Donny Andretti menjadi potret bahwa keterpurukan bukan akhir perjalanan. Dari seorang yang pernah didiagnosis depresi berat dan kehilangan hampir segalanya, kini ia memimpin ribuan anggota dalam berbagai organisasi hukum, pers, dan sosial di Indonesia.
Sebuah perjalanan dari bejana yang pecah menuju bejana yang dibentuk ulang dan kini dipakai untuk menolong banyak orang.
Penulis : Sukindar
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














