SUARARAKYAT.info|| Titi mangsa panggupai rasa, pamuka carita sabda Sunda sawawa.
Demikianlah kalimat pembuka yang seolah datang dari masa yang jauh, dari ruang di mana sejarah dan rasa berpadu dalam diam yang sakral. Sebuah titah rasa yang tidak hanya sekadar kata, tetapi isyarat tentang perjalanan batin manusia Sunda dari masa ke masa, dari lalakon lama menuju panggung zaman anyar.(3/11/2025)
Kini, ketika bumi berputar semakin cepat dan nilai-nilai kian tercerabut dari akarnya, sabda Padjajaran kembali bergema. Ia tidak hadir dalam rupa jasad, tapi lewat getar hati dan bisikan rasa yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang hade hatena yang hatinya masih jernih untuk mendengar suara leluhur.
Zaman Kiwari: Padjajaran dalam Perubahan
“Zaman kiwari geus ganti lalakon.”
Ungkapan ini menggambarkan realitas kita hari ini. Dunia berubah, adat pun beralih rupa. Padjajaran lambang kebijaksanaan dan kearifan Sunda kini hadir bukan dalam bentuk kerajaan megah atau istana batu, melainkan dalam bentuk kesadaran kolektif. Ia datang bukan sebagai penguasa, tapi sebagai rasa yang menuntun manusia Sunda agar tidak kehilangan arah di tengah badai modernitas.
Sabda itu mengatakan:
“Ayena Padjajaran anu dibawa ku obahna zaman datang ka andika.”
Padjajaran anyar datang kepada kita semua andika, manusia zaman kini bukan untuk menuntut tunduk, tapi untuk mengingatkan: ada warisan luhur yang jangan sampai lenyap. Dalam tubuh modern yang sibuk, ada jiwa tua yang haus akan keseimbangan antara pikiran, rasa, dan spiritualitas. Padjajaran yang dahulu berdiri di antara gunung dan sungai, kini ingin berdiri kembali di dalam hati manusia yang jujur.
Wangsit yang Datang Tanpa Wujud
“Lamun datang moal katengngali ku panon, lamun ngomong moal kadenge ku ceuli, tapi bakal katengngali ku rasa, bakal kadenge ku hate.”
Ini bukan hanya metafora. Ini adalah pesan tentang spiritualitas Sunda yang begitu dalam bahwa kebenaran tertinggi tidak selalu tampak kasat mata. Padjajaran anyar berbicara lewat intuisi, lewat getaran batin, lewat rasa yang halus. Ia hadir dalam keheningan, dalam momen ketika manusia menundukkan egonya dan kembali menyatu dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta.
Rasa yang datang tanpa rupa itu kini menjadi penuntun di tengah zaman yang gaduh. Dunia boleh penuh cahaya buatan, tapi hati manusia semakin gelap. Di situlah sabda Padjajaran mencoba menyalakan kembali lentera kesadaran agar kita tak lagi menatap dunia hanya dengan mata, tapi dengan hati yang bening.
Sunda Sawawa: Kedewasaan yang Hilang
Sunda sawawa berarti Sunda yang dewasa masyarakat yang matang secara batin, adab, dan rasa. Tapi hari ini, banyak yang kehilangan sifat sawawa itu. Orang lebih cepat marah, lebih mudah menuduh, dan semakin lupa pada silih asih, silih asah, silih asuh tiga tiang yang selama berabad-abad menjaga harmoni tatar Sunda.
Pesan leluhur menegur:
“Hayu urang sawala bareung jeung ngedalkeun eusi hate anu geus lawas teu katembong.”
Ini ajakan untuk berdialog kembali, bukan hanya dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Untuk mengeluarkan isi hati yang lama tertimbun ego dan keserakahan. Karena sejatinya, sawala mufakat adalah bentuk tertinggi dari demokrasi tradisional Sunda musyawarah dalam kebaikan, bukan pertengkaran dalam ambisi.
Penulis sabda itu mengingatkan agar kita jangan sombong hanya karena memakai “baju anyar lima sila Siliwangi.”
Sebuah simbol bahwa nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, gotong royong, kesetiaan, dan welas asih harus tetap dijaga di tengah gelombang nafsu dunia.
Bila tubuh adalah wadah, maka sila-sila itu adalah jiwa. Ia menjadi paniis, peneduh bagi panasnya amarah dan keinginan yang dikuasai oleh syahwat kekuasaan dan keserakahan. Dalam tubuh yang terjajah oleh hawa nafsu, tak mungkin lahir kebajikan. Maka, ajakan Padjajaran anyar adalah untuk kembali menjadi manusia sejati manusa Sunda nu nyunda, yang tidak memerintah dengan tangan besi, tapi dengan keseimbangan rasa dan nalar
“Hayu ku mimiti ku ieu urang paheyeuk-heyeuk leungen dina papayung agung keluarga besar kerajaan Siliwangi Padjajaran Tarumanegara.”ungkapnya dalam tulisan
Ajakan ini bukan untuk membangun kerajaan fisik, melainkan kerajaan batin. Papayung agung adalah simbol persatuan. Ketika manusia Sunda bisa saling mengangkat beban, saling mendoakan, dan berjalan dalam satu cita maka di sanalah Padjajaran bangkit kembali.
Bukan di tanah, tapi di jiwa.
Bukan dalam batu dan benteng, tapi dalam kasih dan persaudaraan.
Padjajaran anyar lahir ketika manusia berani menatap dirinya, memaafkan masa lalu, dan memulai babak baru dengan kesadaran penuh.
Sunda kini hidup di masa di mana budaya dan identitas diuji oleh globalisasi dan materialisme. Namun sabda itu menegaskan:
“Poma anjeun teu surti sareng sulaya sabab zaman geus ganti lalakon.”
Artinya, jangan tersesat. Walau zaman berubah, akar jangan dicabut. Perubahan bukan alasan untuk kehilangan jati diri. Justru dengan memahami perubahan, kita bisa menanam kembali nilai-nilai lama dalam tanah zaman baru.
Padjajaran anyar bukan nostalgia. Ia adalah kesadaran bahwa yang lama tidak mati, tapi bereinkarnasi dalam bentuk baru. Ia hidup dalam senyum gotong royong, dalam doa orang tua, dalam kearifan yang tidak lagi berbicara lewat istana, tapi lewat hati manusia yang berani ngamumule rasa.
Penutup: Wangsit dari Lembah Sunyi
Kini, sabda itu menutup dengan kelembutan:
“Lamun aya anu berat urang sami-sami panggul, lamun aya anu hampang urang sami-sami jingjing.”
Sebuah filosofi sederhana namun dalam bahwa kebersamaan adalah inti dari kehidupan Sunda. Dunia boleh penuh teknologi, tapi jika manusia kehilangan rasa silih pikanyaah, maka semua itu hanya akan menjadi debu.
Padjajaran anyar mengajarkan kita satu hal:
bahwa kejayaan sejati bukanlah kuasa atas bumi, tapi kuasa atas diri sendiri.
Dan mungkin, ketika kita mampu hidup dengan hati yang nyunda, di situlah sejatinya kita kembali menjadi bagian dari Padjajaran kerajaan rasa, kerajaan nurani, yang abadi di dalam setiap insan Sunda sawawa.
Penulis; Kopka Irvan













