SUARARAKYAT.info|| Cianjur – Luka mendalam masih dirasakan para nelayan di Pantai Jayanti, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Sekitar satu bulan lalu, tepatnya Juli 2025, musibah besar menimpa ratusan nelayan setelah 61 perahu karam dan 4 lainnya hilang di tengah laut. Peristiwa ini menjadi tragedi pahit yang menyisakan kerugian besar, baik secara ekonomi maupun psikologis bagi masyarakat pesisir.
Rasa luka dan pahit belum hilang, lagi lagi terjadi musibah tiga kapal nelayan diterjang angin yang besar sehingga kapal karam saat hendak melaut, peristiwa tersebut terjadi pada hari senin (8/9/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wawan Sumantri, Humas Rukun Nelayan Jayanti, menuturkan bahwa selama ini para nelayan di Jayanti menghadapi keterbatasan fasilitas penyimpanan perahu. Dari seribuan lebih perahu yang ada, hanya sekitar 300 unit yang bisa ditampung di tempat penginapan perahu yang tersedia. Selebihnya, ribuan perahu terpaksa disimpan di laut terbuka, hanya mengandalkan jangkar dan tali tambang sebagai penahan.

“Ini kondisi yang sangat berisiko. Kami, mewakili seluruh nelayan Jayanti, berharap pemerintah segera membangun dermaga dan kolam labuh untuk perahu nelayan. Musibah kemarin sudah cukup menjadi pelajaran betapa mendesaknya fasilitas ini,” ungkap Wawan saat diwawancarai wartawan.
Menurutnya, tanpa adanya kolam labuh yang memadai, keselamatan dan keberlangsungan hidup nelayan selalu berada di ujung tanduk. Ia menambahkan, setiap kali cuaca buruk datang, para nelayan dipenuhi rasa cemas karena perahu mereka rawan karam. Padahal, perahu adalah aset utama nelayan untuk mencari nafkah.

Doni, Kepala UPTD KKP Cilaut Ereun, saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan singkat WhatsApp, menyampaikan keprihatinannya atas musibah tersebut. “Saya turut prihatin atas terjadinya musibah ini. Ke depan saya berharap para nelayan lebih berhati-hati, dan semoga segera ada penggantian dengan infrastruktur yang lebih baik,” tulisnya singkat.

Desakan serupa datang dari Ketua Rukun Nelayan setempat yang akrab disapa Cacu atau Pak Uwong. Ia menegaskan bahwa pembangunan kolam labuh bukan sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi keharusan mendesak demi menyelamatkan nyawa dan penghidupan ribuan nelayan di Jayanti. “Pemerintah harus lebih cepat bergerak. Kalau tidak segera dibangun kolam labuh, tragedi seperti ini akan terus berulang, dan nelayan yang jadi korban,” tegasnya.
Musibah karamnya puluhan perahu di Pantai Jayanti menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah maupun pusat. Nelayan berharap peristiwa itu tidak hanya menjadi catatan musibah belaka, tetapi titik balik untuk menghadirkan solusi nyata berupa pembangunan dermaga dan kolam labuh permanen. Tanpa itu, keselamatan dan kesejahteraan ribuan nelayan Jayanti akan selalu berada dalam ancaman.
(Cep Toto)














