Tragedi Sampali: Jeritan Rakyat Terampas Tanah, Rumah, dan Harga Diri oleh Oligarki dan Kekuasaan

- Penulis

Sabtu, 7 Juni 2025 - 04:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Deli Serdang, Sumatera Utara – Suara jeritan rakyat kembali menggema dari tanah Sumatera Utara. Tepatnya dari Desa Sampali dan sekitarnya, di wilayah eks HGU PTPN II seluas ribuan hektare yang kini tengah menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan modern: perampasan tanah rakyat oleh kekuatan modal dan kekuasaan yang berkolaborasi dalam diam.

Bunda Farida Sebayang, aktivis perempuan dari Gerakan Solidaritas Nasional dan LBH Pers Presisi Polri, menjadi salah satu suara paling lantang dari tragedi ini. Dengan semangat membara, ia memimpin jeritan rakyat yang tanah, rumah, bahkan sekolah dan tempat ibadahnya digusur paksa. “Kami tidak hanya kehilangan tempat tinggal, kami kehilangan harga diri, masa depan anak-anak kami, bahkan rasa aman sebagai warga negara,” ujarnya getir.

Eks HGU Jadi Ladang Derita

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lahan eks HGU PTPN II di Desa Sampali, Kota Medan, hingga ke Desa Bulu Cina, Deli Serdang, dengan luas mencakup lebih dari 350 hektare, kini menjadi ladang perebutan antara rakyat yang telah puluhan tahun bermukim dan investor besar yang diduga berafiliasi dengan perusahaan properti raksasa, PT CitraLand.

Modus yang dipakai disebut-sebut tak jauh dari gaya Orde Baru: kolaborasi antara oknum pemda, pengusaha besar, dan aparat keamanan. Tanpa ampun, rumah-rumah penduduk dibuldoser, tempat ibadah dihancurkan, sekolah-sekolah PAUD diratakan. “Sadis! Seperti tragedi Rempang versi Deli Serdang,” teriak warga yang trauma saat menyaksikan alat berat menggilas perkampungan mereka.

Anak-anak Trauma, Ibu-ibu Menangis

Tangisan anak-anak terdengar setiap malam. Mereka trauma. Tidak sedikit yang menunjukkan gejala gangguan psikologis. “Kami tidur di puing-puing rumah sendiri. Tidur di pelataran. Tak tahu lagi besok makan di mana,” ungkap seorang ibu, seraya memeluk anaknya yang masih menangis karena terkejut dengan kegaduhan alat berat dan penggusuran paksa.

READ  Pimpinan Media Pewarta se-Nusantara: Kritik Harus Mengedepankan Adab dan Etika

Tak ada proses dialog. Tak ada audiensi. Padahal, warga telah memegang bukti administrasi seperti surat keterangan domisili, penguasaan fisik sejak puluhan tahun, dan permohonan sertifikat kepada ATR/BPN. Namun semua itu dianggap angin lalu.

Panggilan ke Istana

Bunda Farida dan warga berharap ada titik terang. Mereka menuntut audiensi langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. “Kami tidak anti pembangunan. Tapi pembangunan harus berkeadilan. Jangan menjadikan rakyat kecil korban,” katanya tegas.sabtu (7/6/2025)

Gerakan rakyat yang tergabung dalam Save Sampali terus menyerukan keadilan. Mereka berharap dibentuk Posko Bantuan Hukum (POSBAKUM) rakyat, membangun kembali rumah-rumah yang hancur, serta mendirikan Koperasi Merah Putih Rakyat Sampali sebagai bentuk kemandirian ekonomi.

Seruan Moral dan Ancaman Karma

Seruan moral menggema dalam setiap doa para ibu dan anak-anak. “Jangan anggap doa rakyat tertindas itu remeh. Hukum karma dan takdir Tuhan tidak bisa ditawar-tawar seperti proyek properti,” ujar Bunda Farida dalam satu orasi.

Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan bukan kekal. “Hari ini berkuasa, besok bisa tumbang. Lihat sejarah. Jangan sampai bangsa ini kembali mengulang rezim kegelapan.”

Tragedi Ini Bukan Akhir, Tapi Awal Perlawanan

Di akhir orasinya, Bunda Farida menyebut bahwa tragedi Sampali adalah luka kolektif bangsa. Ia menyerukan pemuda dan rakyat Sumatera Utara untuk bangkit. “Kurangi mengeluh, kurangi ngerumpi. Bangkitlah! Perkuat iman dan taqwa, lawan oligarki sesat dengan semangat Pancasila!”

Ia menutup dengan doa dan pekikan yang menggema di antara reruntuhan rumah warga:

“MERDEKA! SAVE SAMPALI! NKRI HARGA MATI!”

 

(Dr.Bernard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi
Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Nama Calon Tersangka Sudah Dikantongi Polda Papua Barat Daya, Kasus Korupsi Inspektorat Tinggal Tunggu Audit BPK
Mahasiswa Sorong Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Tolak MBG, Soroti Harga BBM dan Pemborosan APBN
UICI dan Dr. Fachrul Razi Bahas Otonomi Daerah dalam Bingkai Wawasan Nusantara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:03 WIB

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:32 WIB

APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:06 WIB

Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57 WIB

Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan

Berita Terbaru

Uncategorized

Ziarah ke Makam Soekarno, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:14 WIB

Uncategorized

Tim Basket Polda Jatim Juara 1 Kapolri Cup 2026

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:10 WIB