Suararakyat.info BENGKALIS – Upaya melestarikan budaya Melayu di kalangan generasi muda terus digalakkan. Salah satunya melalui kegiatan Projek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Kelompok 16 Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) Tahun 2026 yang mengangkat tema “Rentak Berbudaya: Lestarikan Permainan Rakyat, Kuatkan Jati Diri Bangsa” di SMP Negeri 1 Bengkalis, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala , Ariana. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa Polbeng yang memilih sekolah tersebut sebagai lokasi pelaksanaan projek berbasis pengabdian masyarakat.
Menurut Ariana, permainan rakyat Melayu bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang mengandung nilai gotong royong, kejujuran, sportivitas, serta kebersamaan yang penting ditanamkan sejak dini kepada para pelajar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Anak-anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga belajar memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam permainan tradisional Melayu,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Dosen Pembimbing MKWK Polbeng, , menjelaskan bahwa projek tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa terjun langsung ke masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan sosial dan budaya.
Menurutnya, permainan rakyat kini mulai ditinggalkan generasi muda akibat dominasi penggunaan gawai dan permainan digital. Padahal, permainan tradisional memiliki fungsi penting sebagai media pembelajaran karakter yang murah, efektif, dan sarat nilai budaya.
Ketua Kelompok 16 MKWK Polbeng, , mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dirancang secara interaktif agar siswa dapat berpartisipasi secara aktif.
Berbagai agenda digelar, mulai dari sosialisasi budaya Melayu, demonstrasi permainan rakyat, lomba antarkelas, pameran layang-layang tradisional, hingga kegiatan merakit layang-layang bersama. Permainan yang diperkenalkan meliputi gasing, congkak, galah panjang, enggrang, ye-ye karet, pecah piring, dan setatak.
“Kami ingin memperkenalkan kembali permainan rakyat kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Selain menyenangkan, permainan ini juga mengandung banyak nilai pendidikan karakter,” kata Very.
Untuk memperkaya pemahaman peserta, panitia turut menghadirkan narasumber dari , Datuk Aryansyah Putra. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa permainan rakyat memiliki filosofi yang mendalam dan berperan penting dalam membentuk karakter anak.
“Permainan rakyat melatih kecerdasan, ketangkasan, disiplin, kerja sama, dan kekompakan. Nilai-nilai tersebut harus terus diwariskan kepada generasi penerus,” ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu mendapat sambutan hangat dari para siswa. Antusiasme peserta terlihat dalam setiap sesi perlombaan dan demonstrasi permainan tradisional yang digelar panitia.
Tingginya partisipasi siswa menjadi bukti bahwa permainan rakyat Melayu masih memiliki daya tarik kuat di kalangan generasi muda. Melalui kegiatan seperti ini, warisan budaya lokal tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk memperkuat karakter dan jati diri bangsa di era modern. (Tengku Maha Sabirin)














