SUARARAKYAT || SUKABUMI -– Proyek pembangunan dan perbaikan saluran irigasi di wilayah Muara Cibodas, Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi kini menjadi sorotan tajam warga setempat. Proyek yang diklaim bertujuan memperlancar aliran air untuk lahan pertanian itu justru disinyalir dikerjakan dengan kualitas yang sangat diragukan, mulai dari waktu pengerjaan yang terlalu singkat hingga penggunaan bahan bangunan yang diduga tidak sesuai standar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media di lokasi, Sabtu (25/7/2026), salah satu warga Desa Parakanlima yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya atas pelaksanaan proyek tersebut. Menurutnya, pembangunan saluran irigasi ini hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya 25 hari saja.
“Pengerjaannya cuma sekitar 25 hari sudah selesai. Padahal panjang salurannya cukup lumayan, kalau dikerjakan dengan benar seharusnya butuh waktu lebih lama agar hasilnya kokoh dan tahan lama,” ujar warga tersebut saat ditemui di lokasi proyek.Sabtu (25/7/2026)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekhawatiran warga semakin menguat setelah mereka memantau langsung jenis dan jumlah material yang didatangkan ke lokasi. Dari pengamatan yang dilakukan warga selama proses pembangunan berlangsung, material yang tercatat masuk ke lokasi sangat terbatas.
“Kami perkirakan semen yang dipakai hanya sekitar 120 sak saja. Kemudian pasir yang datang hanya 6 dumtruk, batu split atau batu kali hanya 2 dumtruk. Itu saja. Sisanya untuk pengisi tembok dan lapisan dasar mereka ambil batu-batu yang ada di pinggir saluran lama, bukan material baru yang diantar,” paparnya.
Kondisi fisik bangunan yang telah selesai dibangun pun semakin memperkuat dugaan buruknya kualitas proyek tersebut. Berdasarkan dokumentasi foto dan rekaman yang diperoleh di lokasi, permukaan tembok penahan saluran irigasi terlihat kasar dan tidak rata. Sebagian besar permukaan tembok tidak dilapisi acian semen sama sekali, sehingga batuan dan campuran beton terlihat menonjol tidak beraturan.
Tak hanya itu, bagian tembok yang sempat diacikan justru terlihat banyak retakan, pecah, dan mengelupas. Ada bagian yang aciannya sudah terbelah sejak baru selesai dikerjakan, yang menandakan campuran bahan tidak tepat atau proses pengerjaan yang terlalu terburu-buru tanpa menunggu waktu pengeringan yang cukup.
“Kami sudah menyampaikan hal ini kepada petugas yang turun ke lokasi, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan jelas. Kalau begini kondisinya, takutnya nanti baru dipakai satu dua musim hujan atau saat aliran air deras, temboknya sudah roboh atau jebol lagi. Ujung-ujungnya kami petani yang rugi karena irigasi tidak berfungsi,” tambahnya.
Warga berharap pihak berwenang, baik dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sukabumi maupun pengawas pelaksana proyek, segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan menyeluruh. Mereka meminta agar proyek ini dievaluasi ulang, dan jika terbukti tidak sesuai spesifikasi, harus dibongkar dan dibangun kembali dengan kualitas yang benar demi kepentingan pertanian warga.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai dugaan pelanggaran standar dan kualitas buruknya pembangunan saluran irigasi Muara Cibodas ini. Awak media masih berupaya menghubungi pihak berwenang untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut
Penulis : AG
Editor : Redaksi
Sumber Berita: SUARARAKYAT.info














