SUARARAKYAT.info | SUKABUMI — Potret buram pembangunan infrastruktur kembali terlihat di wilayah Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Jalan penghubung dijalan Pasir muning hingga Cijurey, khususnya ruas Cijurey–Karangjaya, dibiarkan rusak parah selama lebih dari satu dekade tanpa sentuhan perbaikan yang berarti.
Kondisi ini memantik kekecewaan mendalam dari masyarakat yang merasa diabaikan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Pasalnya, usulan perbaikan jalan tersebut rutin disampaikan setiap tahun melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun tak pernah membuahkan hasil konkret.
“Setiap tahun kami mengusulkan, dari zaman bupati sebelumnya sampai sekarang sudah berganti kepemimpinan, tapi hasilnya nihil. Seolah aspirasi masyarakat hanya didengar saat seremoni, lalu dilupakan begitu saja,” ungkap salah satu perwakilan warga dengan nada kecewa, Kamis (30/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerusakan jalan yang berlubang, bergelombang, dan sulit dilalui terutama saat musim hujan, telah menghambat aktivitas warga. Jalur tersebut merupakan akses vital yang digunakan untuk mobilitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Namun ironisnya, kondisi jalan justru semakin memburuk dari tahun ke tahun.
Kadus cipariuk 2 ahmad jajuli desa Cijurey, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa kerusakan infrastruktur di wilayahnya sudah berlangsung lama dan terus dikeluhkan warga.
“Betul, jalan itu memang sudah lama rusak dan sering dikeluhkan masyarakat. Bahkan di depan kantor desa, gorong-gorong juga rusak dan bolong, sehingga aliran air tersumbat dan berpotensi menimbulkan genangan,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah desa tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pengajuan proposal hingga penyampaian langsung dalam forum resmi. Namun hingga kini belum ada realisasi dari pihak pemerintah kabupaten.
Situasi ini memperkuat persepsi warga bahwa wilayah mereka dianaktirikan dalam prioritas pembangunan. Mereka menilai ada ketimpangan dalam distribusi anggaran, di mana beberapa wilayah mendapatkan perhatian lebih, sementara daerah lain seperti Cijurey justru terabaikan.
“Jangan pilih kasih dalam pembangunan. Kami juga bagian dari Kabupaten Sukabumi, punya hak yang sama untuk mendapatkan akses jalan yang layak,” tegas warga lainnya.
Lebih jauh, warga mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan Musrenbang sebagai instrumen partisipatif. Jika usulan yang disampaikan secara konsisten selama bertahun-tahun tidak pernah direalisasikan, maka Musrenbang dinilai hanya menjadi formalitas administratif tanpa keberpihakan nyata pada kebutuhan rakyat.
Kondisi ini bukan sekadar soal jalan rusak, tetapi menyangkut keadilan pembangunan dan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ketika aspirasi rakyat terus diabaikan, maka yang tergerus bukan hanya infrastruktur, melainkan juga legitimasi moral kekuasaan.
Masyarakat Desa Cijurey kini hanya berharap satu hal sederhana: didengar dan diperlakukan setara. Mereka menuntut pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk segera turun tangan, melakukan perbaikan jalan, serta membenahi gorong-gorong yang rusak sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Jika tidak, maka janji pembangunan yang selama ini digaungkan hanya akan menjadi retorika kosong di tengah penderitaan nyata masyarakat di pelosok daerah.
Penulis : Prim RK
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














