SUARARAKYAT.info||Perawang, Riau – Kepedulian terhadap sesama kembali menemukan bentuk nyatanya melalui bahasa seni. Pada Minggu, 14 Desember 2025, masyarakat Perawang akan disatukan dalam sebuah kegiatan kemanusiaan bertajuk “Pertunjukan Seni Peduli Sumatera” yang digelar di Taman Motuyoko, Perawang. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.
Acara tersebut diselenggarakan sebagai wujud solidaritas dan empati terhadap saudara-saudara di wilayah Sumatera khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang tengah menghadapi dampak bencana alam. Bencana yang melanda sejumlah daerah tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga menyisakan duka mendalam bagi para korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan keluarga kurang mampu.
Melihat kondisi tersebut, para penggiat seni, pemuda, dan masyarakat Perawang berinisiatif menggelar sebuah kegiatan yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan sekaligus menggerakkan aksi nyata. Seni dipilih sebagai medium utama karena diyakini mampu menembus sekat perbedaan, menggugah nurani, serta menyampaikan pesan empati dengan cara yang lebih mendalam dan menyentuh hati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertunjukan ini akan menghadirkan beragam karya dan ekspresi seni, mulai dari penampilan tari tradisional dan modern, musik akustik, pembacaan puisi kemanusiaan, teater mini, hingga pertunjukan kreatif lainnya. Seluruh penampil berasal dari berbagai kalangan, seperti siswa sekolah, komunitas remaja, pegiat seni lokal, serta masyarakat umum yang ingin berkontribusi melalui kreativitas mereka.
Salah satu panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi panggung hiburan, melainkan ruang refleksi bersama atas nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
“Kami ingin mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak, merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, dan menyadari bahwa kita semua terhubung sebagai sesama manusia. Seni adalah cara kami menyampaikan pesan itu,” ujar panitia.Sabtu (13/12/2025)
Selain sebagai pertunjukan seni, kegiatan ini juga menjadi ajang penggalangan dana kemanusiaan. Panitia menyediakan ruang khusus bagi masyarakat yang ingin berdonasi secara langsung. Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan untuk membantu kebutuhan mendesak para korban bencana, seperti bantuan pangan, perlengkapan kesehatan, kebutuhan anak-anak, serta dukungan pemulihan pascabencana.
Panitia menegaskan bahwa seluruh proses penggalangan dan penyaluran donasi akan dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab, dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki komitmen pada kerja-kerja kemanusiaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus diwujudkan melalui cara-cara besar dan formal. Kehadiran, partisipasi, dan dukungan moral pun menjadi bentuk kontribusi yang sangat berarti.“Setiap orang bisa berbuat sesuatu. Datang, menyaksikan, berdonasi, atau sekadar menyebarkan informasi acara ini semuanya adalah bentuk kepedulian,” tambah panitia.
Taman Motuyoko Perawang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai strategis dan mudah diakses masyarakat. Ruang terbuka hijau ini juga diharapkan mampu menciptakan suasana kebersamaan yang hangat, sekaligus menjadi simbol bahwa kepedulian tumbuh dari ruang-ruang publik yang inklusif.
Masyarakat Perawang menyambut positif rencana kegiatan tersebut. Sejumlah warga mengaku antusias dan berharap acara ini dapat menjadi contoh bahwa solidaritas sosial masih hidup dan tumbuh di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin individualistis.
Pertunjukan Seni Peduli Sumatera tidak hanya menjadi agenda satu hari, tetapi diharapkan menjadi pemantik gerakan kepedulian yang lebih luas dan berkelanjutan. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar di masa mendatang, baik dalam konteks kebencanaan maupun isu-isu kemanusiaan lainnya.
Melalui kegiatan ini, pesan yang ingin disampaikan jelas: ketika bencana melanda, empati tidak boleh berhenti pada rasa iba semata. Empati harus diwujudkan dalam tindakan nyata, sekecil apa pun itu. Dan melalui seni, pesan kemanusiaan tersebut disuarakan dengan cara yang lembut, namun kuat dan bermakna.
Penulis : Angga Fadli
Editor : Red-SR
Sumber Berita: Suararakyat. info














