Prajurit Menyusup Lumpur, Menyelamatkan Bangsa:TNI Semangat Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatra 2025

- Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 10:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Jakarta-Gelombang bencana besar kembali menghantam Sumatra pada awal Desember 2025. Hujan tanpa jeda merendam pemukiman, sungai-sungai meluap, dan tanah-tanah labil runtuh menimbun desa. Ribuan warga terjebak tanpa akses, sinyal komunikasi terputus, dan ratusan kilometer jalan ambruk. Dalam situasi genting itu, Tentara Nasional Indonesia kembali menjadi garda terdepan untuk memastikan nyawa rakyat terselamatkan.Sabtu (6/12/2025)

Tanpa menunggu komando panjang, ribuan prajurit TNI langsung diterjunkan ke lokasi-lokasi paling parah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mereka datang bukan dengan senjata, melainkan perahu karet, tandu, alat evakuasi, alat berat, hingga helikopter.

Di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, prajurit Yonif 133/Yudha Sakti menyusuri arus deras yang menenggelamkan permukiman. Mereka mengevakuasi warga dari atap rumah yang hampir tersapu banjir. Di Sumatera Utara, pasukan Zeni TNI AD membangun jembatan darurat kurang dari 12 jam—langsung membuka akses logistik ke desa-desa yang terisolasi sejak hari pertama bencana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu di Aceh Tenggara, helikopter TNI AU mendarat di lapisan tanah yang berubah menjadi genangan lumpur. Mereka menurunkan logistik, membawa korban luka, dan mengevakuasi warga lanjut usia yang terperangkap.

Menurut laporan resmi yang disampaikan Kapuspen TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, lebih dari 30.151 personel TNI dikerahkan secara terkoordinasi di tiga provinsi terdampak. Pengerahan ini mencakup:

Zeni TNI AD untuk pembersihan puing dan pembangunan jembatan darurat

TNI AL dengan KRI dan kapal bantu untuk distribusi logistik via jalur laut

TNI AU dengan helikopter Super Puma dan CN-295 untuk evakuasi udara

Kesdam dan Keslap untuk pendirian rumah sakit lapangan

Hubad dan Penerbad untuk memastikan komunikasi di zona bencana tetap berjalan

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) menjadi pusat kendali operasi, memastikan bahwa setiap pengerahan pasukan, logistik, dan alat berat tepat sasaran. Dapur umum, posko kesehatan, dan lokasi pengungsian didirikan dalam waktu singkat.

Di berbagai lokasi, prajurit terlihat bukan sebagai pasukan perang, melainkan sebagai penyelamat. Mereka menggendong anak-anak yang kehilangan orang tua, menenangkan warga yang panik, hingga mengangkat tubuh korban dari reruntuhan rumah.

READ  Ulama di Banten Apresiasi Polisi yang Berantas Aksi Premanisme di Wilayahnya

Nilai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit menjadi roh pengabdian mereka:

Prajurit adalah bagian dari rakyat.

Prajurit berjuang demi rakyat.

Prajurit rela berkorban untuk rakyat.

“Perintahnya sederhana: selamatkan rakyat, apapun risikonya,” ujar salah satu komandan lapangan di Sumatera Barat.

Data dari BNPB yang dihimpun BeritaSatu menyebut angka korban sangat besar:

836 meninggal dunia

509 masih hilang

Ribuan rumah rusak total

Infrastruktur vital lumpuh di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Angka ini menunjukkan skala bencana yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam satu dekade terakhir.

Pada sisi lain, beberapa prajurit TNI turut menjadi korban.Di Mandailing Natal, seorang prajurit terseret arus deras saat mengevakuasi warga. Di Agam, Sumbar, dua prajurit tertimbun longsor ketika berusaha menyelamatkan anak-anak yang terjebak di lokasi sekolah darurat.

Prajurit lainnya bertahan dengan kondisi minim: tidur di tenda basah, makan seadanya, dan terus bekerja dalam cuaca ekstrem tanpa henti. Namun tidak satu pun mundur dari tugas.

Keberadaan TNI di garis terdepan menyelamatkan rakyat patut diapresiasi. Namun ada fakta pahit yang mengiringi,Infrastruktur mitigasi bencana masih minim,Peralatan darurat daerah tidak memadai,Koordinasi antarlembaga sipil sering lambat,Kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar memperparah banjir dan longsor

TNI hadir bukan karena ingin mengambil alih peran sipil, tetapi karena negara belum memiliki kesiapan yang tangguh.Di tengah gelapnya langit Sumatra dan derasnya air bah, TNI berdiri sebagai simbol harapan. Kehadiran mereka menjadi penegas bahwa ketika bencana mendera, prajurit akan selalu hadir, tanpa meminta tepuk tangan dan tanpa memikirkan balasan.

Mereka hadir karena satu alasan:“Kami ada untuk rakyat. Nyawa manusia adalah prioritas tertinggi.”

Dalam situasi ketika negara menangis dan rakyat terjebak dalam ketidakpastian, TNI kembali menunjukkan jati diri sejatinya prajurit rakyat, penjagnurani bangsa.

Narasumber: M. Jaya, S.H., M.H., M.M.

Penulis : S Handoko

Editor : Red-SR

Sumber Berita: Suararakyat. info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI harus Waspada Reaksi Alam Sampai Bencana Hujan Mikroplastik Indonesia
Yakub F Ismail: Membaca Mens Rea: Komedi dan Kritik Sosial
Ketika Dolar Menjadi Senjata: Venezuela,Indonesia dan Pelajaran Pahit bagi Global South
Yakub F Ismail: Denda Damai: Paradigma Baru Pemberantasan Korupsi?
Netralitas Polri di Persimpangan Konstitusi:Menguji Perpol No. 10 Tahun 2025 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
Yakub F Ismail: Kala Solidaritas Menembus Tapal Batas
Wilson Lalengke: Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi
Sumatera Dalam Amukan: Ketika Deforestasi Berbuah Bencana Kemanusiaan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 04:05 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI harus Waspada Reaksi Alam Sampai Bencana Hujan Mikroplastik Indonesia

Jumat, 9 Januari 2026 - 02:55 WIB

Yakub F Ismail: Membaca Mens Rea: Komedi dan Kritik Sosial

Selasa, 6 Januari 2026 - 23:06 WIB

Ketika Dolar Menjadi Senjata: Venezuela,Indonesia dan Pelajaran Pahit bagi Global South

Rabu, 31 Desember 2025 - 00:27 WIB

Yakub F Ismail: Denda Damai: Paradigma Baru Pemberantasan Korupsi?

Rabu, 17 Desember 2025 - 10:02 WIB

Netralitas Polri di Persimpangan Konstitusi:Menguji Perpol No. 10 Tahun 2025 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi

Berita Terbaru