Ketika Camat Cipatujah Lebih Sibuk Membalas WA Diri Sendiri

- Penulis

Kamis, 9 Oktober 2025 - 00:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Editorial — Seorang camat di selatan Tasikmalaya mendadak viral. Bukan karena gebrakan program, bukan pula karena inovasi pelayanan publik. Ia terkenal hanya karena prestasi sunyi dengan tidak membalas pesan wartawan Senior.kamis (9/10/2025)

Entah sedang sibuk menata hati atau menata meja kerja yang baru, publik belum tahu. Yang pasti, sinyal WhatsApp wartawan sudah centang dua. Dan di negeri yang katanya menjunjung transparansi informasi, diam rupanya masih jadi jurus andalan sebagian pejabat.

Camat Cipatujah ini tampaknya tengah melakukan eksperimen sosial. Ia menguji ketahanan wartawan terhadap keheningan birokrasi. Ujiannya sederhana: “Seberapa lama Pers bisa bersabar tanpa jawaban?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayangnya, eksperimen ini gagal sejak awal, karena yang diuji justru sudah terbiasa menghadapi pejabat alergi konfirmasi.

Padahal, seorang camat bukan penjaga rahasia negara. Ia hanya kepala wilayah yang semestinya terbuka seperti warung kopi di pinggir jalan, siapa pun boleh mampir, asal sopan. Tapi barangkali bagi sang camat, wartawan dianggap pelanggan yang terlalu cerewet.

Mungkin beliau lupa, jabatan camat bukan gelar bangsawan yang minta dijaga jarak. Itu amanah publik, bukan panggung pribadi. Dan di tengah era digital yang menuntut transparansi, pejabat yang menutup diri sama halnya dengan menulis surat cinta di amplop kosong, tidak akan sampai ke siapa-siapa.

Kita maklum, jabatan baru sering membuat seseorang kikuk. Namun, bukankah salah satu pelajaran dasar kepemimpinan adalah komunikasi? Atau mungkin, pelajaran itu sedang diulang kelas di Cipatujah.

Dalam UU Keterbukaan Informasi Publik, pejabat diwajibkan memberi akses terhadap informasi. Tapi mungkin pasal itu sedang tak sempat dibaca karena sibuk menonaktifkan notifikasi pesan. Bahkan mungkin Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang seharusnya ada di kecamatan itu hanya keharusan dari UU KIP tanpa aplikasi dan realisasi.

READ  Law of Attraction: Filosofi Hidup yang Mengubah Realitas

Yang menarik, wartawan yang diabaikan bukan sembarang wartawan, melainkan Ikin Roki’in, wartawan senior sekaligus Ketua Umum PPRI Indonesia. Kalau level Ikin saja tak dibalas, bagaimana nasib jurnalis lokal yang baru belajar menulis lead berita?

Kita tidak menuntut camat menjadi public relations profesional. Cukup menjadi pejabat yang tahu membalas pesan, atau minimal, tahu berkata “sedang rapat” dengan sopan. Itu sudah cukup menunjukkan bahwa ia punya kesadaran etis, bukan ego birokratis.

Tapi, mungkin kita memang sedang hidup di sebuah zaman dimana diam dianggap bijak dan tertutup dianggap elegan. Seakan-akan pejabat yang tidak menjawab wartawan sedang menjalankan program unggulan: komunikasi tanpa kata.

Padahal, dalam pemerintahan yang sehat, keterbukaan adalah vitamin, bukan racun. Wartawan bukan hama yang harus dihindari, melainkan pupuk bagi demokrasi.

Camat Cipatujah boleh saja memilih diam, tapi publik akan tetap bersuara. Sebab tugas media bukan menunggu sapaan pejabat, melainkan mengingatkan bahwa setiap jabatan ada tanggung jawabnya, dan setiap tanggung jawab menuntut transparansi.

Kalau ke depan Camat Cipatujah masih enggan merespons, mungkin PPRI perlu menyarankan inovasi baru: buat posko aduan sunyi, tempat rakyat bisa mengirim pesan tanpa berharap dapat balasan dari pejabat.

Sampai saat itu tiba, biarlah masyarakat menilai sendiri: siapa yang sebenarnya perlu dibina, wartawan yang bertanya, atau pejabat yang tak mau menjawab?

(Didi Sukardi, Sekjend PPRI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi
Menutup Pintu Impunitas, Membuka Jalan Keadilan bagi Pers
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Senin, 27 April 2026 - 08:50 WIB

Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:33 WIB

Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia

Rabu, 11 Februari 2026 - 05:14 WIB

Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset

Berita Terbaru

Uncategorized

Polres Kediri ungkap 5 Kasus curanmor, dan kembalikan ke pemilik

Kamis, 30 Apr 2026 - 09:19 WIB

Uncategorized

Kapolres Kediri Resmikan Renovasi Jembatan Merah Putih Presisi

Kamis, 30 Apr 2026 - 09:09 WIB