SUARARAKYAT.info||Sukabumi – Hampir satu dekade sejak diresmikan, Terminal Tipe C di Kota Sukabumi justru berubah menjadi simbol kegagalan perencanaan dan dugaan pemborosan anggaran negara. Alih-alih ramai oleh penumpang dan aktivitas perdagangan, terminal ini kini bak kota mati: sunyi, lengang, dan dipenuhi ruko-ruko yang pintunya tertutup rapat.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana yang memprihatinkan. Ruko-ruko yang dibangun berjejer di sepanjang area terminal dibiarkan kosong, catnya mulai pudar, sebagian bahkan sudah mulai rusak dimakan waktu. Di bagian peron, tidak tampak antrean penumpang maupun kesibukan angkutan umum. Petugas dari Dinas Perhubungan memang terlihat hadir, namun hanya duduk santai tanpa aktivitas berarti, seolah terminal ini hanyalah bangunan yang berdiri tanpa fungsi.
Salah satu penyewa ruko ibu euis (55) mengatakan bahwa selama ini sepi pengunjung,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Iya selama ini sepi pengunjung, boro boro buat bayar cicilan ruko tiap bulan nya, buat keseharian aja tidak menutupi. Kondisi terminal memang terlihat mewah dan besar tapi pengunjungnya kurang dan nyaris saya jualan juga tidak laku”.jelasnya kepada wartawan suararakyat.info
Ditempat terpisah,Wahyu Ruli Permana, Wakil Sekretaris Jenderal DPP LSM Kompak (Koalisi Masyarakat Pengawal Konstitusi), mengkritik keras kondisi ini. Menurutnya, terminal yang menghabiskan dana besar dari kas negara seharusnya menjadi fasilitas publik yang hidup, aktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ini sangat jelas menunjukkan lemahnya perencanaan dan minimnya sosialisasi. Bagaimana mungkin sebuah terminal yang sudah dibangun dengan dana rakyat justru tidak dimanfaatkan dengan baik? Ini berpotensi menjadi contoh pemborosan anggaran yang nyata,” tegas Wahyu.sabtu (9/8/2025)
Ia juga mendesak pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubungan Kota Sukabumi, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Sosialisasi kepada operator angkutan, pengaturan trayek, hingga upaya menggairahkan kembali aktivitas ekonomi di sekitar terminal harus menjadi prioritas. Tanpa langkah tegas, keberadaan Terminal Tipe C hanya akan menjadi monumen kegagalan yang membebani APBN maupun APBD.
Kasus terminal sepi bukanlah hal baru di berbagai daerah di Indonesia. Banyak proyek infrastruktur transportasi dibangun dengan alasan meningkatkan konektivitas, namun setelah peresmian justru dibiarkan terbengkalai karena lemahnya kajian kebutuhan dan manajemen pasca-pembangunan.
Warga sekitar berharap, pemerintah tidak hanya sibuk membangun proyek-proyek fisik untuk pencitraan, tetapi juga memastikan pengelolaan yang tepat agar fasilitas publik benar-benar memberi manfaat. Sebab, setiap rupiah yang dibelanjakan untuk membangun infrastruktur adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan.
(Hs)














