Suararakyat.imfo.Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2025, berbagai elemen masyarakat, aktivis, dan tokoh pers menyuarakan keprihatinan dan refleksi mendalam atas makna sejati dari sebuah kemerdekaan.
Dr. Bernard B.B.B.B.I. Siagian, S.H., M.A.K.P., Jurnalis Senior sekaligus Ketua DPP GAKORPAN LBH Pers Presisi Polri bersama sejumlah tokoh seperti Bunda Tiur Simamora (Ketua PPWI dan Relawan Ratu Prabu-Gibran 08), Hendra, Riries, dan Rusman Pinem mengangkat kegelisahan terkait krisis pendanaan dan semangat kolektif dalam menyambut perayaan kemerdekaan.(30/7/2025)
Dengan hanya 18 hari tersisa menjelang peringatan akbar tersebut, berbagai kegiatan masyarakat seperti lomba ibu hamil balap karung, tarik tambang, sepeda hias, gebuk bantal, panjat pinang, karnaval anak sekolah, hingga lomba kuliner tradisional di berbagai pelosok negeri, semuanya membutuhkan biaya besar. Namun, hingga kini pendanaan acara masih minim, sponsor pun belum tampak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Miris dan galau rasanya, saat makna kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan justru dihadapkan pada realita krisis pendanaan dan semangat kebangsaan yang mulai pudar,” ujar Bernard dengan nada prihatin.
Lebih jauh, para tokoh ini mencoba menggali kembali makna filosofis dari kemerdekaan. Menurut mereka, hakekat merdeka adalah kemampuan seseorang untuk membuat keputusan tanpa paksaan atau tekanan dari luar. Namun, dalam kenyataan, tidak ada manusia yang sepenuhnya merdeka karena dibatasi oleh fisik, mental, hukum, ekonomi, dan ketergantungan terhadap pihak lain.
“Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi retorika atau sekadar simbol parade. Esensinya harus kembali ditanamkan, terutama kepada generasi muda,” tegas Bunda Tiur Simamora.
Bunda Tiur juga mengingatkan pentingnya edukasi ideologi bangsa, seperti penataran Pancasila, UUD 1945, dan wawasan kebangsaan bagi seluruh elemen bangsa, termasuk eksekutif, legislatif, dan yudikatif. “NKRI harga mati. Jangan biarkan oknum-oknum oportunis seperti oligarki korup, mafia tanah, dan provokator menyusupi celah kelemahan kita dan menciptakan kegaduhan di tubuh bangsa,” tambahnya.
Rusman Pinem, salah satu pegiat sosial, juga menegaskan bahwa ancaman terhadap kemerdekaan hari ini bukan lagi dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi infiltrasi sistem melalui korupsi, disinformasi, dan adu domba antaranak bangsa yang berpotensi menghambat pembangunan dan membuat investor asing enggan berinvestasi.
Dalam semangat menyongsong Indonesia Emas 2045, para tokoh ini menyerukan ajakan gotong royong untuk memperkuat ketahanan nasional. Mereka juga menyampaikan dukungan terhadap program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto, melalui visi besar “ASTA CITA” menuju Indonesia sebagai Macan Asia.
“Kemerdekaan bukanlah hadiah, tapi warisan perjuangan. Mari kita sukseskan misi besar bangsa ini dengan kesadaran kolektif dan semangat patriotik. Ayo pemuda, ayo TNI, POLRI, aktivis, pekerja sosial, kita bangkit bersama!” tutup Bunda Tiur dalam pernyataan semangatnya.
Peringatan HUT RI ke-80 tahun ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum refleksi sejauh mana bangsa ini mampu mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata, ketulusan, dan komitmen untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa
(Dr.Bernard)














