Warga Tuntut Keadilan: Janji Pekerjaan di Proyek PT LMA Tol Bocimi Seksi III Diduga Diabaikan, Dana Pribadi Raib Tanpa Kepastian

- Penulis

Selasa, 1 Juli 2025 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Sukabumi-Di balik megahnya pembangunan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) Seksi III, terungkap kisah getir dari salah satu warga yang merasa telah dipermainkan oleh janji-janji pekerjaan yang tak kunjung ditepati. Salah satunya adalah Septian, warga Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang mengaku telah mengeluarkan dana pribadi untuk pekerjaan yang dijanjikan, namun hingga kini tak mendapat kepastian maupun tanggung jawab dari pihak terkait.

Septian bukanlah satu-satunya. Ia bersama dua rekannya Ujang Dadun, mantan kepala dusun setempat, dan Asep Iong mengaku menjadi bagian dari tim yang dipercaya menangani urusan pengadaan dan pengelolaan lahan (disposal) untuk kepentingan proyek strategis nasional ini pada tahun 2024 lalu.Ketiganya bekerja atas komunikasi dan arahan dari perwakilan PT Lancar Maju Abadi (LMA), subkontraktor proyek Tol Bocimi Seksi III yang berada di bawah naungan PT Waskita Karya, sebagai kontraktor utama.

“Kami ini bagian dari tim lapangan yang pertama kali diminta turun untuk mengurus tanah yang akan dipakai sebagai lokasi disposal. Mulai dari pendataan, pengecekan lokasi, hingga pendekatan dengan warga yang terdampak. Tapi setelah dana operasional keluar dari kantong pribadi, kami seperti ditinggalkan begitu saja,” ungkap Septian saat ditemui wartawan SuaraRakyat.(30/6/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Biaya Operasional Proyek (BOP) yang dikeluarkan, menurut keterangan Septian, digunakan untuk kebutuhan teknis awal, mulai dari pengukuran lahan, transportasi lapangan, hingga pengurusan dokumen administratif yang menjadi syarat dalam proses pengelolaan lahan tersebut. “Ini bukan pekerjaan kecil, dan kami tidak asal kerja. Ada komunikasi yang cukup jelas di awal, tapi entah kenapa sekarang malah dibungkam,” tambahnya dengan nada kecewa.

Ujang Dadun, yang pernah menjabat sebagai kepala dusun, turut membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada unsur itikad baik dari warga yang ingin berkontribusi dalam proyek negara, namun pihak pelaksana justru abai terhadap komitmen. “Saya turun langsung ke masyarakat, menjelaskan pentingnya proyek ini. Tapi ujungnya kami seperti dimanfaatkan,” ujarnya.

READ  Pernah Dipimpin Dadan Hindayana, Kampus Ini Diduga Tersangkut Kasus Dana Hibah Pemda Halmahera Barat

Pihak PT LMA hingga saat ini belum memberikan klarifikasi resmi terkait tuduhan ini. Upaya redaksi untuk mendapatkan konfirmasi dari kantor perwakilan PT LMA di Sukabumi juga tidak membuahkan hasil,dengan alasan pimpinan nya sedang ada di luar kota

“Mohon maaf Pak pimpinan saya sedang berada di luar kota meninjau proyek yang di pemalang.nanti saya sampaikan ke pimpinan perihal apa yang bapak bapak pertanyakan.” jelasnya Wiwit salah satu staf PT LMA dengan penyampaian nya singkat.

Proyek Tol Bocimi Seksi III yang digadang-gadang akan mempercepat konektivitas antara Jakarta dan Sukabumi tampaknya menyisakan luka bagi mereka yang terlibat di lini paling awal. Kisah ini mengungkap persoalan mendasar yang sering kali luput dari perhatian publik: bagaimana nasib individu atau kelompok lokal yang memberikan kontribusi, namun tidak mendapat perlindungan hukum maupun pengakuan atas perannya.

“Kami bukan cari panggung. Kami hanya ingin keadilan. Keringat kami tidak bisa diukur dengan janji kosong. Kami percaya negara akan hadir jika memang niatnya membangun dengan adil,” tutur Asep Iong yang menjadi bagian dari tim kecil tersebut.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam pembangunan infrastruktur nasional, prinsip keadilan dan tanggung jawab sosial harus ditegakkan. Warga lokal yang terlibat dalam proses awal seharusnya dilibatkan secara transparan dan diberi penghargaan layak atas jasa dan kontribusinya.

Septian dan rekan-rekannya kini hanya berharap agar pihak PT LMA maupun PT Waskita Karya tidak menutup mata dan segera membuka ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan ini secara terbuka dan bermartabat.

“Saya yakin negara tidak akan membiarkan proyeknya menginjak martabat rakyat kecil,” pungkas Septian, menyuarakan harapannya

 

(Hs/Pr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi
Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Nama Calon Tersangka Sudah Dikantongi Polda Papua Barat Daya, Kasus Korupsi Inspektorat Tinggal Tunggu Audit BPK
Mahasiswa Sorong Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Tolak MBG, Soroti Harga BBM dan Pemborosan APBN
UICI dan Dr. Fachrul Razi Bahas Otonomi Daerah dalam Bingkai Wawasan Nusantara
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:03 WIB

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:32 WIB

APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:06 WIB

Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57 WIB

Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan

Berita Terbaru