Warga Tenjojaya Tri Pramono Melawan: Dugaan Rekayasa Sertifikat Eks HGU Menguat, Mafia Tanah Dibalik Nama Pengusaha?

- Penulis

Rabu, 25 Juni 2025 - 09:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Sukabumi-Permasalahan status lahan eks HGU Desa tenjojaya kembali menuai sorotan publik  Sejak vonis terhadap empat terdakwa kasus korupsi pelepasan aset negara seluas 299,43 hektar beberapa tahun silam, status kepemilikan lahan justru menjadi abu-abu. Alih-alih terang benderang, kini area tersebut nyaris sepenuhnya dikuasai kembali oleh PT. Bogorindo Cemerlang.

Upaya mengurai benang kusut status lahan itulah yang mendasari gugatan warga Desa Tenjojaya, Tri Pramono, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung pada 2019 silam. Gugatan pertamanya, terdaftar pada perkara Nomor: 38/G/2019/PTUN.BDG, ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sukabumi. Namun karena objek gugatan saat itu telah mengalami perubahan status sertifikat, gugatan dinyatakan kabur (N.O).

“Saat itu saya belum tahu status lahan pasca vonis empat terdakwa. Saya hanya penggarap, tak jelas apakah tanah ini disita negara atau dikembalikan. Karena ketidakjelasan itulah saya gugat keseluruhan SHGU 21, 22, dan 24 seluas 299,43 hektar. Namun kemudian PTUN menyatakan gugatan kabur karena sertifikatnya sudah berubah menjadi SHGB No.182,” terang Tri Pramono, Senin (23/6/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak berhenti di situ, Tri kembali mengajukan gugatan kedua terhadap SHGB No.182 atas nama Ari Yudistira (Perkara Nomor: 67/G/2019/PTUN.BDG), sebab lahan rumahnya, Kantor Desa Tenjojaya, dan beberapa rumah warga lainnya tiba-tiba masuk ke dalam sertifikat tersebut.

“Nama Ari Yudistira muncul tanpa sepengetahuan kami. Saya tidak pernah menjual atau mengalihkan tanah. Bahkan redistribusi dilakukan dengan 3 SKPH untuk menghindari kewenangan kanwil, dibagi agar tidak melebihi dua hektar,” papar Tri.

READ  Dugaan Modus Bantuan Fiktif, Nelayan Sukabumi Tertipu Puluhan Juta oleh Oknum Kades

Selain gugatan di PTUN, ada pula kisah praperadilan terkait penetapan status tersangka mantan Kepala BPN Sukabumi, Tatang Sofyan, yang teregistrasi dalam perkara 1/Pid.Pra/2022/PN.Cbd. Dalam sidang tersebut, hakim mengabulkan seluruh permohonan pra peradilan, membatalkan status tersangka Tatang. Bagi Tri, upaya ini adalah bentuk perjuangan untuk mendapatkan kepastian hukum.

“Pada 2016 masih ada dua tersangka tersisa yakni Tatang Sofyan dan Iim. Saya bahkan sempat menyurati Kejari Sukabumi agar kasus mereka diproses tuntas. Menetapkan tersangka sekian lama tanpa kejelasan juga melanggar hak asasi. Tapi sekali lagi, praperadilan itu menyangkut status hukum orang, bukan status lahan,” tegas Tri.

Namun ironisnya, dua peristiwa hukum ini kini diplintir seolah-olah memperkuat legalitas PT. Bogorindo atas seluruh lahan eks HGU PT. Tenjojaya.

“Faktanya, hingga kini belum ada penetapan dari Pengadilan Tipikor Bandung yang menyatakan barang bukti lahan dikembalikan. Bahkan plang penyitaan Kejaksaan masih terpasang di lapangan,” ujar Tri.

Tri juga menyoroti sengketa antara PT. Bogorindo dengan PT. Indonesia Power terkait saluran PLTA Ubrug, yang notabene masuk dalam obyek vital nasional dan justru turut disertifikatkan dalam SHGB Bogorindo No. 221.

“Keserakahan sudah di depan mata. Kami ini bukan tamu di tanah ini. Tanah leluhur kami bukan alat permainan mafia tanah berkedok pembangunan. Pemerintah jangan menyingkirkan kami atas nama pembangunan. Biarkan kami tetap punya ruang untuk anak cucu kami kelak,” tutup Tri dengan nada tegas.

 

(Herlan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SOP Mengalahkan Kemanusiaan, Dugaan Pelayanan RS Betha Medika Cisaat Picu Kemarahan Keluarga Pasien
MIO Desak Walikota Bertindak: Dualisme KNPI Sukabumi Dinilai Rawan Konflik, Pemerintah Diminta Segera Ambil Keputusan Tegas
Distribusi Dana Zakat Disorot: Kesehatan dan Dakwah Jadi Perbincangan Publik di Sukabumi
Pekerjaan Jembatan Kamandoran Karangtengah Mulai Dikerjakan, Bimob Polda Jabar Pantau Langsung Progres 
Ketua SMSI Sukabumi Raya Semprot Oknum Wartawan yang Intimidasi Kurir GTL di Cicurug
Dapur MBG Cisaat Tanpa Ahli Gizi: Dugaan Kelalaian Sistemik, Pernyataan Mitra Picu Polemik Baru
Curi Start Tanpa Izin, Proyek Tower 50 Meter di Bojonggenteng Sukabumi Diduga Langgar Aturan dan Abaikan Keselamatan Warga
Potret Kemiskinan yang Terlupakan: Jeritan Sunyi dari Rumah Rapuh di Pelosok Sukabumi
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 00:39 WIB

SOP Mengalahkan Kemanusiaan, Dugaan Pelayanan RS Betha Medika Cisaat Picu Kemarahan Keluarga Pasien

Selasa, 21 April 2026 - 01:27 WIB

MIO Desak Walikota Bertindak: Dualisme KNPI Sukabumi Dinilai Rawan Konflik, Pemerintah Diminta Segera Ambil Keputusan Tegas

Senin, 20 April 2026 - 04:08 WIB

Distribusi Dana Zakat Disorot: Kesehatan dan Dakwah Jadi Perbincangan Publik di Sukabumi

Minggu, 19 April 2026 - 23:15 WIB

Pekerjaan Jembatan Kamandoran Karangtengah Mulai Dikerjakan, Bimob Polda Jabar Pantau Langsung Progres 

Minggu, 19 April 2026 - 22:20 WIB

Ketua SMSI Sukabumi Raya Semprot Oknum Wartawan yang Intimidasi Kurir GTL di Cicurug

Berita Terbaru