Suararakyat.info.Flores Timur, NTT – Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) bergerak cepat merespons bencana alam erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam upaya memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, Kemensos mendirikan delapan dapur umum di sejumlah titik strategis.
Langkah ini merupakan bentuk konkret kehadiran negara dalam situasi darurat kebencanaan, khususnya dalam memberikan perlindungan dan jaminan sosial kepada warga terdampak. Sebanyak 4.954 jiwa yang mengungsi akibat erupsi kini dapat mengakses layanan makan gratis setiap hari, berkat operasional dapur umum yang dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI.
Plt. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Robben Rico, menyampaikan bahwa pendirian dapur umum merupakan bagian dari program Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dan Tanggap Darurat Kemensos. “Kami hadir untuk memberikan rasa aman dan kepastian pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Dapur umum ini dikelola secara gotong royong bersama Tagana dan relawan sosial setempat,” ujarnya kepada awak media (19/6/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Delapan dapur umum ini tersebar di titik-titik pengungsian utama, antara lain di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, yang merupakan lokasi dengan jumlah pengungsi tertinggi. Para relawan dan petugas sosial dari berbagai daerah turut diterjunkan ke lokasi guna membantu proses distribusi makanan, pendataan, hingga pelayanan dukungan psikologis bagi anak-anak dan lansia.
Kemensos juga memastikan pasokan logistik makanan, alat masak, serta kebutuhan dasar lainnya seperti selimut, tikar, dan tenda darurat terus disuplai ke wilayah terdampak. Dukungan ini tidak hanya diberikan selama masa tanggap darurat, tetapi juga dipersiapkan untuk masa pemulihan, termasuk pemulangan pengungsi ke rumah masing-masing apabila kondisi sudah dinyatakan aman oleh pihak terkait.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi secara berulang sejak akhir 2024 hingga pertengahan 2025 ini memaksa ribuan warga dari sejumlah desa di lereng gunung mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat setempat, bencana ini juga mengancam kesehatan dan kondisi psikososial warga, terutama anak-anak dan lansia.
Kehadiran Kemensos di tengah masyarakat yang terkena dampak bencana menjadi pengingat pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan elemen masyarakat sipil dalam menangani krisis kemanusiaan. “Kami mengajak seluruh pihak, baik lembaga, komunitas, maupun individu, untuk bersama-sama membantu para penyintas agar dapat bangkit kembali,” tambah Robben Rico.
Dalam situasi darurat seperti ini, solidaritas sosial menjadi kekuatan utama yang memungkinkan warga untuk tetap bertahan dan pulih. Melalui keberadaan dapur umum dan pelayanan sosial lainnya, Kemensos berharap dapat memperkuat semangat kebersamaan serta memberikan harapan baru bagi warga Flores Timur yang tengah menghadapi cobaan.
(*)














