Suararakyat.info.Jakarta- Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar konferensi pers nasional bertajuk “Capaian dan Temuan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)” yang kini telah memasuki bulan keempat pelaksanaannya. Program CKG ini menjadi salah satu bentuk komitmen negara dalam menjamin hak kesehatan masyarakat, terutama dalam aspek deteksi dini penyakit dan upaya preventif.
Konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Kemenkes itu menghadirkan sejumlah pembicara kunci dari berbagai lembaga dan lapisan masyarakat. Hadir dalam agenda tersebut Menteri Kesehatan, Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), serta kepala dinas kesehatan dan kepala puskesmas dari daerah yang menjadi percontohan, ditambah perwakilan masyarakat yang turut memberikan testimoni langsung.
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa program CKG telah menjangkau lebih dari 2 juta warga di berbagai wilayah Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun pelosok desa. “Selama 4 bulan ini, kita tidak hanya memberi akses pemeriksaan gratis kepada masyarakat, tetapi juga berhasil mendeteksi ribuan kasus hipertensi, diabetes, serta potensi gangguan jantung dan ginjal yang sebelumnya tidak terpantau. Ini membuktikan bahwa deteksi dini sangat penting dan terbukti menyelamatkan nyawa,” ujarnya.(12/6/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, perwakilan dari Kantor Komunikasi Kepresidenan menegaskan bahwa program CKG merupakan bagian dari prioritas nasional di sektor kesehatan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. “Ini bukan sekadar program kesehatan, tetapi investasi untuk generasi masa depan. Negara hadir melalui layanan nyata yang bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata juru bicara tersebut.
Sementara itu, peneliti dari FKM-UI memaparkan temuan penting dari analisis data sementara yang dikumpulkan dari hasil program CKG. Ia menyebutkan bahwa sekitar 36% peserta pemeriksaan menunjukkan gejala awal penyakit tidak menular yang berisiko tinggi. “Temuan ini menjadi alarm penting bagi kita semua. Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi kini menjadi momok di tengah masyarakat produktif. Maka program seperti CKG perlu terus diperluas,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan dari salah satu provinsi percontohan menyatakan bahwa keberhasilan program ini tak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program, termasuk perlunya alokasi anggaran tetap serta dukungan regulasi di tingkat daerah.
Tak kalah penting, hadir pula suara dari masyarakat. Seorang warga dari daerah terpencil yang mewakili peserta program menyampaikan rasa syukur dan haru atas keberadaan layanan gratis tersebut.
“Selama ini kami sulit mengakses layanan kesehatan karena jarak dan biaya. Tapi lewat CKG, saya dan keluarga bisa periksa darah, kolesterol, gula darah, bahkan konsultasi langsung dengan dokter. Ini luar biasa,” ujarnya disambut tepuk tangan para peserta konferensi.
Konferensi pers ini tidak hanya menjadi ruang akuntabilitas, tapi juga panggung dialog antara pembuat kebijakan, pelaksana di lapangan, dan masyarakat penerima manfaat. Pemerintah berharap CKG dapat terus diperluas cakupannya serta dikembangkan menjadi model intervensi kesehatan nasional berbasis komunitas dan pencegahan.
(Hs)














