Suararakyat.info.Jakarta- Dalam pidato kuncinya di ajang International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia berada di titik krusial untuk memanfaatkan dua modal besar bangsa: bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam. Menurutnya, dua potensi ini harus diolah dan diarahkan menjadi kekuatan produktif dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Maju.
Dalam forum internasional yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara, investor asing, perwakilan badan pembangunan global, dan akademisi dari berbagai negara, Iftitah menekankan bahwa saat ini Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada pola pembangunan yang eksploitatif dan sentralistik. Ia menyerukan transformasi kebijakan infrastruktur yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkeadilan sosial, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat desa dan kawasan pinggiran.
“Bonus demografi bukan sekadar angka. Ini adalah peluang sejarah. Jutaan tenaga kerja muda Indonesia adalah kekuatan strategis. Tapi jika kita tidak menyiapkan sistem, pendidikan, dan infrastruktur pendukung yang merata, maka bonus ini bisa berubah menjadi beban,” ujar Iftitah di hadapan ratusan peserta konferensi.(13/6/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dengan agenda pemerataan dan pembangunan kawasan transmigrasi. Menurut Iftitah, kawasan transmigrasi harus dikembangkan sebagai pusat-pusat ekonomi baru berbasis potensi lokal yang mampu menyerap tenaga kerja produktif dan mengurangi beban kota besar akibat urbanisasi yang tidak terkendali.
Lebih lanjut, Iftitah menyampaikan bahwa kekayaan alam Indonesiadari hasil tambang, hutan, hingga lahan pertanian yang luas—tidak boleh hanya menjadi komoditas ekspor mentah. Ia mendorong hilirisasi industri berbasis sumber daya lokal yang dikelola secara adil dan lestari.
“Kekayaan alam kita bukan kutukan, tapi bisa jadi anugerah besar jika dikelola dengan bijak. Pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil untuk membangun ekosistem pembangunan yang inklusif,” kata Menteri asal Sumatera Barat tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa infrastruktur bukan hanya soal jalan dan jembatan, tetapi juga soal akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, dan energi. Dalam konteks ini, Kementerian Transmigrasi, menurutnya, terus mendorong agar pembangunan kawasan terpencil dan terluar tidak tertinggal dalam agenda nasional.
Sebagai penutup, Iftitah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga semangat gotong royong dalam pembangunan nasional. Ia menyebutkan bahwa visi Indonesia Maju hanya bisa tercapai jika seluruh potensi bangsa digerakkan secara kolektif dan terorganisasi.
Konferensi ICI 2025 sendiri mengangkat tema “Equitable Infrastructure for Sustainable Future” dan berlangsung selama tiga hari, menghadirkan lebih dari 40 pembicara dari berbagai negara dan membahas isu-isu strategis seperti transisi energi, digitalisasi infrastruktur, serta konektivitas antarwilayah di kawasan Asia Tenggara.
(Hs)














