Suararakyat.info.Lumajang– Pemerintah Indonesia kembali menegaskan langkah strategisnya dalam upaya mewujudkan swasembada gula nasional. Dalam agenda panen dan tanam perdana tebu di Kabupaten Lumajang, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan komitmen kuat pemerintah untuk mendorong kemandirian pangan melalui sektor perkebunan, khususnya tebu.
Swasembada gula, menurut Mentan, bukan hanya cita-cita lama yang belum terwujud, tapi juga kebutuhan strategis bangsa di tengah tekanan global, meningkatnya permintaan dalam negeri, dan ketergantungan terhadap impor yang terus membebani devisa negara.
“Target kita jelas dan konkret. Swasembada gula konsumsi akan kita capai pada 2028, sedangkan untuk gula industri dan bioetanol ditargetkan tercapai pada 2030. Ini bukan sekadar janji, tetapi roadmap berbasis data, kerja sama lintas sektor, dan penguatan kelembagaan petani,” ujar Andi Amran di hadapan petani, pemerintah daerah, dan pelaku industri gula di Lumajang,rabu (11/6/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk mencapai ambisi tersebut, Kementerian Pertanian telah menyusun strategi berbasis tiga pilar utama: peningkatan produktivitas, efisiensi budidaya, dan pemberdayaan petani. Mentan menyebut bahwa teknologi pertanian akan menjadi tulang punggung dalam meningkatkan hasil per hektare, dari rata-rata nasional yang saat ini masih di bawah potensi maksimal lahan.
Melalui penerapan varietas unggul, pemupukan presisi, dan mekanisasi tanam hingga panen, diharapkan efisiensi biaya produksi dapat ditekan, sekaligus meningkatkan margin keuntungan bagi petani. Pemerintah juga akan memperkuat posisi petani melalui pembentukan koperasi dan kemitraan dengan pabrik gula, guna memastikan harga jual yang adil dan akses pembiayaan yang lebih mudah.
“Petani adalah ujung tombak. Jika kita ingin swasembada, maka petani harus diberdayakan dan dilibatkan dalam setiap proses pengambilan kebijakan,” tambah Mentan.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor jutaan ton gula setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total impor gula bisa mencapai lebih dari 5 juta ton per tahun. Dengan harga pasar global yang fluktuatif, angka tersebut setara dengan pengeluaran devisa negara hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
“Bayangkan, jika kita bisa memproduksi gula sendiri, negara bisa hemat lebih dari 30 triliun rupiah per tahun. Dana itu bisa kita alihkan untuk membangun infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ungkap Mentan.
Tak hanya dari sisi ekonomi, program ini juga diarahkan untuk mengembangkan potensi bioetanol dari tebu, sebagai sumber energi terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Gula tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas pangan, tetapi sebagai energi masa depan.
Mentan menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa hanya ditopang oleh Kementerian Pertanian semata. Dibutuhkan kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, pemerintah daerah, akademisi, swasta, dan tentu saja para petani.
“Kalau semua bergerak bersama, saya optimis. Indonesia bisa berhenti impor gula dan berdiri di atas kaki sendiri dalam waktu yang tidak lama lagi,” kata Mentan dengan penuh semangat.
Langkah konkret yang telah dilakukan termasuk identifikasi lahan potensial di berbagai wilayah, percepatan peremajaan kebun tebu rakyat, insentif untuk investasi pabrik gula baru, dan peningkatan kapasitas SDM pertanian melalui pelatihan berkelanjutan.
Dengan visi jangka panjang dan pendekatan kolaboratif, strategi swasembada gula ini diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi tonggak baru dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Lumajang menjadi saksi awal dari gerakan besar ini dan bisa jadi, awal dari babak baru pertanian Indonesia yang lebih berdaulat.
(Red)














