Suararakyat.info.Jakarta-Gema takbir bergema dari masjid-masjid besar, menggetarkan langit malam yang dipenuhi kilauan kembang api. Hampir semua orang keluar rumah, merayakan datangnya Idul Fitri dengan suka cita. Namun, di sudut kota, di sebuah rumah kecil yang dindingnya reot dan mulai rapuh dimakan usia, seorang ibu renta duduk termenung di atas tikar anyaman.31/3/2025
Namanya Mak Tiur Simamora, seorang perempuan berusia 76 tahun yang telah melalui berbagai cobaan hidup. Di sampingnya, dua anaknya, Bernard dan Dian Wibowo, serta anak angkatnya, Rusman Pinem dan Riries, duduk terdiam. Lampu minyak di tengah ruangan mulai meredup karena hampir kehabisan minyak tanah.
“Bunda Tiur, besok kita makan apa?” tanya Rusman dengan suara pelan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mak Tiur menelan ludah kepahitan. Dadanya sesak. Ia ingin menjawab dengan penuh keyakinan, tetapi kenyataan berbicara lain. Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, kehidupan mereka semakin sulit. Warung kecil yang dulu mereka miliki sudah lama tutup karena kehabisan modal. Untuk makan sehari-hari saja, mereka bergantung pada belas kasih para tetangga.
Di luar sana, suara tawa anak-anak yang bermain kembang api terdengar nyaring. Aroma wangi opor ayam dan ketupat dari rumah-rumah tetangga merembes masuk melalui celah-celah dinding rumah mereka. Rasa lapar yang sejak siang tadi ditahan semakin terasa menyiksa.
Riries, anak angkat Mak Tiur yang masih berusia sepuluh tahun, mencoba tersenyum dan menenangkan adiknya, Evi Sri. “Besok pasti ada rezeki, kan, Bunda Tiur? Kata Pak Ustaz, Allah selalu memberi jalan bagi orang yang sabar dan setia.”
Mak Tiur mengusap kepala Dian Wibowo dengan mata berkaca-kaca. “Iya, Nak. InsyaAllah, nanti ada rezeki yang datang dengan cara yang tidak kita duga. Berdoalah dengan khusyuk.”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Ketukan pelan di pintu membuat mereka saling berpandangan dengan rasa takut. Siapa yang datang malam-malam begini? Jantung Mak Tiur berdegup kencang. Rasa khawatir merayapi hatinya.
Ketika pintu dibuka, seorang pria tua berdiri di depan mereka dengan senyum hangat. Dia adalah Pak Prof. Dexon Silalahi, tetangga mereka yang dikenal baik hati. Di tangannya terdapat sebungkus makanan, sekantong beras, ikan asin, kerupuk, dan lalapan.
“Maaf kalau saya lancang, Mak Tiur. Saya tadi memasak lebih, ini untuk kalian,” ujar Pak Dexon dengan tulus. “Malam takbiran harus tetap bahagia, kan?”
Air mata Mak Tiur tak terbendung. Ia menggenggam tangan Pak Dexon erat-erat. “Terima kasih banyak, Pak Dexon… Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan keluarga.”
Anak-anaknya bersorak kecil, kegembiraan terpancar di wajah mereka. Mereka segera membuka bungkusan makanan dan mulai makan dengan lahap. Kebahagiaan sederhana itu terasa begitu berharga.
Malam takbiran itu, di tengah keterbatasan, mereka merasakan kehangatan kasih sayang. Malam itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, tetapi dari kebaikan hati dan kepedulian sesama.
Idul Fitri bukan hanya tentang pesta dan perayaan, tetapi juga tentang berbagi, peduli, dan mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. Karena dalam kebersamaan dan kepedulian, kita menemukan makna sejati dari kemenangan yang dirayakan di hari yang suci ini.
Salam Presisi Polri. Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati.
Dr. Bernard, Ketua DPP GAKORPAN @LBH PERS Presisi Gerakan Solidaritas Nasional Murni Rakyat Indonesia, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyukseskan program ASTA CITA menuju Indonesia Emas 2045. Mari bersama-sama membangun negeri ini dengan semangat gotong royong dan kepedulian.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita tingkatkan tali silaturahmi dan mempererat rasa persaudaraan. Hidup dalam harmoni dan kedamaian itu indah. InsyaAllah, barakallah.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung dan selalu peduli terhadap sesama. Jangan pernah lupa untuk beristigfar dan berbuat baik, karena hidup ini adalah perjalanan menuju kebaikan yang hakiki.
Taubat nasuha dari hati yang terdalam. Wahai engkau para pejuang keadilan, marilah kita bersatu dalam empati dan kepedulian terhadap sesama. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin ya rabbal alamin.
(Dr.Bernard)














