Suararakyat.info.Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) menyebut pendaftaran calon mahasiswa perguruan tinggi tahun 2025 mengalami penurunan hal ini akibat dari kecilnya lapangan kerja bahwa kebutuhan tenaga kerja terampil, berpengetahuan dan berpendidikan juga turun.
Menurut Prof Sumaryoto sebetulnya penurunan penerimaan mahasiswa perguruan tinggi sudah sejak covid sudah mulai terasa. Dengan covid perekonomian terganggu dan pasca covid banyak PHK.
“Berlanjut mulai dari tahun 2024 lebih parah lagi.Pemerintah melalui BAN-PT menilai penurunan ini sudah diakui oleh pemerintah, jika kurang dari 20 persen masih diberikan toleransi. Namun kalau sudah lebih 20 persen akan bermasalah dengan akreditasi. Artinya pemerintah sudah mengakui ada penurunan,”ujar Prof Sumaryoto Rektor Unindra kepada SUARARAKYAT.INFO, di Jakarta, Kamis (26/03/2024).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibat gelombang PHK belakangan ini tambah Prof Sumaryoto penurunan penerimaan mahasiswa baru turun tidak hanya di kampus PTN namun perguruan tinggi swasta lebih berat lagi.Terlebih dihadapkan pada dilema di satu sisi menciptakan SDM unggul disisi lain ketersedian lapangan pekerjaan berbasis teknologi.
“Akar masalahnya ada pada kegiatan ekonomi. Kalau ekonomi tumbuh dengan sendirinya lapangan pekerjaan meningkat.Kemudian daya beli masyarakat tumbuh dan kemampuan mendanai pendidikan semakin baik.Karena pendidikan tinggi tidak disubsidi pemerintah,”imbuhnya.
Dikatakan Prof Sumaryoto ditengah kondisi penurunan mahasiswa baru namun harus tetap meningkat SDM yang kompetitif dengan menurunkan biaya kuliah di perguruan tinggi swasta berat tapi kalau di PTN mungkin bisa karena sebagian besar gaji dosen oleh pemerintah.
“Kalau di Unindra uang kuliah diturunkan tidak bisa, karena memang sudah murah.Kecuali yang uang kuliahnya mahal bisa diturunkan,”urainya.
Disinggung mengenai jumlah ideal sarjana dikaitkan dengan jumlah penduduk Indonesia, menurutnya bukan hanya mengejar kuantitas/ persentase. Ijazah tidak menjamin tapi lebih ke kualitas . Terlebih lagi pendidikan kedepan orientasinya harus berbasik digital ( menguasai IT ) kemudian mempunyai keahlian tertentu dengan dibuktikan melalui sertifikasi profesi tertentu.
“Kedepan dunia pasar kerja/industri selalu menanyakan perihal kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikasi profesi.Hanya memiliki ijazah SI atau D-4 belum cukup tanpa memiliki sertifikat profesi tertentu.Kedepan untuk kesiapan kerja, mestinya lebih diarahkan untuk pendidikan vokasi , itu yang lebih penting,”tandasnya.
(s handoko)














