Suararakyat.info.Jakarta– Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) melalui pendidikan tinggi harus beriringan dengan dunia industri berbasis STEM hal ini untuk memecah ketidaksesuaian antara SDM dengan kebutuhan industri. Menjadi masalah ketika industri STEM di Indonesia belum terbentuk..
Menurut Prof Sumaryoto sebenarnya untuk pengembangan dan pembangunan SDM harus punya arah yang jelas baik jangka pendek, menengah dan panjang.Kemudian jangka pendek seperti apa, kemudian jangka menengah, panjang seperti apa.Kita lihat kebutuhannya.
“Itulah yang menjadi sasaran/target. Jadi jangan kemudian membangun tanpa arah, tanpa dasar kebutuhan yang terukur. Namun yang menjadi persoalan besar , jika program-program yang terkait dengan pengembangan/pembangunan manusia tidak berdasarkan peta kebutuhan yang jelas , apalagi dananya tidak murah karena investasi manusia melalui pendidikan,” ujar Prof Sumaryoto Rektor UNINDRA kepada SUARARAKYAT.INFO, di Jakarta, Rabu (26/02/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prof Sumaryoto menyebut sebelum bicara lebih jauh tentang STEM harus bicara mengenai kebutuhan, serta tujuannya seperti apa baik jangka pendek, menengah dan panjang baru membuat program.
“Dari program itu kita jabarkan kalau diperguruan tinggi ada yang pendidikan akademi, ada pula pendidikan vokasi.Jika menginginkan program yang jelas dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang,”urainya.
Masih menurut Prof Sumaryoto sebetulnya ada hal lain yang tidak boleh diabaikan, adalah soal dikotomi antara teknologi dengan sosial, semua ilmu itu penting justru teknologi berbahaya jika lepas kendali, contohnya IT . Jika lepas kendali maka akhlak bangsa rusak kemudian dari sisi agama juga akan rusak. Karena penggunaan teknologi tanpa kendali.
“Makanya keahlian non teknik itu juga penting dalam hidup, justru itu yang akan membingkai kemajuan teknologi, dikelola dan ditata untuk hal-hal yang maslahat bukan yang mudarat, itu orang-orang non teknologi.Jadi jangan merasa menjadi seorang teknolog merasa paling hebat jelas tidak bisa.Manusia tidak ada yang paling hebat dengan kelebihan dan kekurangan sama saja.Dari sisi agama orang yang hebat dimata Allah orang yang bertaqwa bukan yang ahli teknologi.Tidan ada manusia yang mengklaim dirinya paling hebat karena kita butuh yang lain,” imbuhnya.
Anehnya tambah Prof Sumaryoto di eropa sana sebagian sudah mulai meninggalkan IT kembali ( sebagian) ke konvensional.Jadi nanti dalam keseimbangan baru (hybrid ada kombinasi antara konvensional dengan digital kemudian kombinasi antara Luring-Daring.Tidak ada yang mutlak baik Luring maupun Daring termasuk kecerdasan buatan/UEA, itu juga bukan segala-galanya.
“Karena kalau sudah bicara kemampuan kerja otak/berpikir ada yang namanya perasaan/hati. Artinya ini yang tidak ada di dalam AI , karena bicara AI serba mekanik/logika,”tandasnya.
(s handoko)














