STEM Harus Di Mapping Untuk Kebutuhan Jangka Panjang Agar Terprogram

- Penulis

Rabu, 26 Februari 2025 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta– Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) melalui pendidikan tinggi harus beriringan dengan dunia industri berbasis STEM hal ini untuk memecah ketidaksesuaian antara SDM dengan kebutuhan industri. Menjadi masalah ketika industri STEM di Indonesia belum terbentuk..

Menurut Prof Sumaryoto sebenarnya untuk pengembangan dan pembangunan SDM harus punya arah yang jelas baik jangka pendek, menengah dan panjang.Kemudian jangka pendek seperti apa, kemudian jangka menengah, panjang seperti apa.Kita lihat kebutuhannya.

“Itulah yang menjadi sasaran/target. Jadi jangan kemudian membangun tanpa arah, tanpa dasar kebutuhan yang terukur. Namun yang menjadi persoalan besar , jika program-program yang terkait dengan pengembangan/pembangunan manusia tidak berdasarkan peta kebutuhan yang jelas , apalagi dananya tidak murah karena investasi manusia melalui pendidikan,” ujar Prof Sumaryoto Rektor UNINDRA kepada SUARARAKYAT.INFO, di Jakarta, Rabu (26/02/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prof Sumaryoto menyebut sebelum bicara lebih jauh tentang STEM harus bicara mengenai kebutuhan, serta tujuannya seperti apa baik jangka pendek, menengah dan panjang baru membuat program.

“Dari program itu kita jabarkan kalau diperguruan tinggi ada yang pendidikan akademi, ada pula pendidikan vokasi.Jika menginginkan program yang jelas dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang,”urainya.

Masih menurut Prof Sumaryoto sebetulnya ada hal lain yang tidak boleh diabaikan, adalah soal dikotomi antara teknologi dengan sosial, semua ilmu itu penting justru teknologi berbahaya jika lepas kendali, contohnya IT . Jika lepas kendali maka akhlak bangsa rusak kemudian dari sisi agama juga akan rusak. Karena penggunaan teknologi tanpa kendali.

READ  Jelang Kunjungan Wapres Gibran Di Sorong, Pemprov Papua Barat Daya Matangkan Seluruh Persiapan

“Makanya keahlian non teknik itu juga penting dalam hidup, justru itu yang akan membingkai kemajuan teknologi, dikelola dan ditata untuk hal-hal yang maslahat bukan yang mudarat, itu orang-orang non teknologi.Jadi jangan merasa menjadi seorang teknolog merasa paling hebat jelas tidak bisa.Manusia tidak ada yang paling hebat dengan kelebihan dan kekurangan sama saja.Dari sisi agama orang yang hebat dimata Allah orang yang bertaqwa bukan yang ahli teknologi.Tidan ada manusia yang mengklaim dirinya paling hebat karena kita butuh yang lain,” imbuhnya.

Anehnya tambah Prof Sumaryoto di eropa sana sebagian sudah mulai meninggalkan IT kembali ( sebagian) ke konvensional.Jadi nanti dalam keseimbangan baru (hybrid ada kombinasi antara konvensional dengan digital kemudian kombinasi antara Luring-Daring.Tidak ada yang mutlak baik Luring maupun Daring termasuk kecerdasan buatan/UEA, itu juga bukan segala-galanya.

“Karena kalau sudah bicara kemampuan kerja otak/berpikir ada yang namanya perasaan/hati. Artinya ini yang tidak ada di dalam AI , karena bicara AI serba mekanik/logika,”tandasnya.

 

(s handoko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin
Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua
APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi
Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Nama Calon Tersangka Sudah Dikantongi Polda Papua Barat Daya, Kasus Korupsi Inspektorat Tinggal Tunggu Audit BPK
Mahasiswa Sorong Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Tolak MBG, Soroti Harga BBM dan Pemborosan APBN
UICI dan Dr. Fachrul Razi Bahas Otonomi Daerah dalam Bingkai Wawasan Nusantara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:03 WIB

Hak Siswa Dipertanyakan, Dugaan Penahanan PIP dan Denda Tunggakan Mencuat di MA Sabilal Muhtadin

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:44 WIB

Muswil I MUI Papua Barat Daya Dipalang Adat, MMP Tuntut Keterlibatan Muslim Asli Papua

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:32 WIB

APINDO Minta Kajian Komprehensif Sebelum Konvensi ILO tentang Pekerja Platform Diratifikasi

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:06 WIB

Otonomi Daerah di Persimpangan Jalan, Dr. Fachrul Razi Beberkan Masalah Pokok dan Solusi Strategis di Kuliah Umum UICI

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57 WIB

Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan

Berita Terbaru