SUARARAKYAT.info || SUKABUMI– Komitmen membangun desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing terus diperkuat melalui kolaborasi antara kalangan akademisi dan pemerintah daerah. Dalam upaya meningkatkan efektivitas pendampingan pembangunan di tingkat desa, LSPR Institute of Communication & Business melalui Centre for Research and Community Service (CRCS) bersama Universitas Esa Unggul menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Penerapan Komunikasi Pemasaran Politik Model Kontingensi dalam Pendampingan Pembangunan di Daerah melalui Tenaga Pendamping Profesional (TPP) di Kabupaten Sukabumi.”
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026, di Kopi Nako Sukabumi tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah daerah, tenaga pendamping profesional, serta pemerintah desa dalam membahas berbagai tantangan pembangunan masyarakat di era digital.
Acara ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak karena dinilai relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah saat ini. Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat penting Kabupaten Sukabumi, di antaranya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Tenaga Ahli Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), serta para kepala desa dari berbagai wilayah di Kabupaten Sukabumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Pasir Datar Indah, Karang Tengah, Sukamantri, dan Bojongsawah turut hadir bersama para perangkat desa dan tamu undangan lainnya untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Dalam sambutannya, para narasumber menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau kualitas infrastruktur yang dibangun. Lebih dari itu, keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pendamping desa dalam membangun komunikasi yang efektif, partisipatif, dan mampu menjembatani berbagai kepentingan masyarakat.
Konsep komunikasi pemasaran politik model kontingensi yang diangkat dalam kegiatan ini menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang adaptif terhadap karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan geografis masing-masing wilayah. Setiap desa memiliki tantangan dan potensi yang berbeda sehingga pendekatan pembangunan tidak dapat dilakukan secara seragam.
Suasana kegiatan semakin hidup ketika memasuki sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh Fauzie Hikmatussalam, S.Kom., M.I.Kom. Berbagai pertanyaan kritis muncul dari para peserta yang terdiri atas Tenaga Pendamping Profesional (TPP), perangkat desa, dan kepala desa.
Diskusi berkembang pada berbagai persoalan yang selama ini menjadi tantangan di lapangan, mulai dari rendahnya partisipasi masyarakat dalam program pembangunan, kendala penyebaran informasi di daerah terpencil, pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi publik, hingga strategi menghadapi resistensi masyarakat terhadap program-program pemerintah.
Para peserta juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas TPP agar mampu menjadi fasilitator yang tidak hanya memahami aspek teknis pembangunan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Perwakilan Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang dilakukan oleh LSPR dan Universitas Esa Unggul. Menurutnya, pembangunan di era modern menuntut adanya keterampilan komunikasi yang kuat agar setiap kebijakan dan program pembangunan dapat diterima serta dipahami masyarakat secara utuh.
“Pembangunan saat ini tidak cukup hanya membangun jalan, jembatan, atau sarana fisik lainnya. Yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi yang sehat antara pemerintah, pendamping, dan masyarakat. Dengan komunikasi yang tepat, berbagai potensi konflik dapat diminimalisir dan program pembangunan dapat berjalan lebih efektif,” ungkap salah satu perwakilan pemerintah daerah.
Sementara itu, para kepala desa yang hadir menilai kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya strategi komunikasi dalam mengelola pemerintahan desa. Mereka mengakui bahwa perkembangan teknologi informasi dan media digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat sehingga aparatur desa perlu beradaptasi dengan pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif.
“Setiap desa memiliki karakteristik yang berbeda. Apa yang berhasil diterapkan di satu desa belum tentu berhasil di desa lainnya. Karena itu pendekatan komunikasi yang fleksibel dan berbasis kebutuhan masyarakat sangat penting. Kami berharap materi yang diperoleh hari ini dapat diterapkan untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat,” ujar salah seorang kepala desa yang hadir.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi langsung dari sejumlah akademisi dan pakar nasional yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi, hukum, dan pembangunan masyarakat.
Prof. Dr. Lely Arrianie, M.Si membahas penerapan komunikasi pemasaran politik model kontingensi dalam pendampingan pembangunan daerah. Prof. Dr. Juanda, SH., MH menjelaskan secara mendalam mengenai tugas dan fungsi Tenaga Pendamping Profesional berdasarkan regulasi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu, Prof. Dr. Suraya, M.Si memaparkan pentingnya pemanfaatan media dalam mendukung program-program pembangunan pedesaan. Adapun Marlina, S.E., M.I.Kom memberikan pemahaman mengenai komunikasi pemasaran dalam kepemimpinan kontingensi sebagai strategi membangun kepercayaan publik.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan pemerintah desa dalam merumuskan solusi pembangunan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Melalui peningkatan kapasitas Tenaga Pendamping Profesional serta penguatan strategi komunikasi pembangunan, diharapkan berbagai program pemerintah dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan partisipasi publik dalam proses pembangunan.
Lebih jauh lagi, kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam mendukung terwujudnya visi Sukabumi Mubarokah (Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah). Dengan komunikasi yang transparan, partisipatif, dan edukatif, pembangunan desa diyakini akan berjalan lebih harmonis, minim konflik, serta mampu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Menutup kegiatan, seluruh peserta menyatakan komitmen bersama untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi mengawal kemajuan desa-desa di Kabupaten Sukabumi. Semangat gotong royong antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menghadirkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat
Penulis : Edi
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














