SUARARAKYAT.info || Jakarta-Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di tahun 2026 terasa sangat istimewa, betapa tidak hampir di seluruh wilayah NKRI merayakannya dengan penuh suka cita dan saling berbagi antar warga sekitar. Semua komponen/instansi pemerintah bahu membahu untuk mensukseskan perayaan Tahun Baru Imlek yang penuh toleransi, keterbukaan dan kebersamaan.
Diketahui, tahun 2577 Kongzili diambil dari tahun lahir Nabi Kongzi (孔子 Confucius) yaitu 551 SM., ditambah dengan tahun Masehi 2026. Jadi, perhitungannya adalah 2026 + 551 = 2577. Ini berarti bahwa Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili menandai pergantian tahun ke-2577 dalam sistem penanggalan Kongzili.
Menurut Ws. Liem Liliany Lontoh, sistem penanggalan Kongzili sendiri adalah Lunisolar, yakni bahwa jumlah tanggal dalam sebulan didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi (sistem lunar). Namun setiap periode 2-3 tahun sekali jumlah bulan dalam setahun akan mengalami penyesuaian atau penambahan (adanya bulan sisipan ke-13, dengan aturan tertentu, Runyue). Hal ini untuk menyesuaikan dengan lamanya revolusi bumi mengitari matahari. Inilah bagian sistem solarnya. Berbeda dengan kalender Masehi yang murni berdasarkan peredaran matahari, pure solar sistem.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Istilah “Kongzili 孔子曆” berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti “penanggalan Kongzi” atau “kalender Kongzi”.
“Tahun Baru Imlek dapat dikategorikan sebagai perayaan yang memiliki aspek agama dan budaya. Agama dan budaya memang saling terkait, dan dalam konteks Tahun Baru Imlek, perayaan ini memiliki unsur-unsur spiritual, bahkan perayaannya tidak hanya di Indonesia tapi se-dunia. PBB telah menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Internasional pada tanggal 22 Desember 2023. Artinya bahwa mulai tahun 2024 Tahun Baru Imlek sudah menjadi libur resmi PBB, dan badan-badan PBB dihimbau untuk tidak mengadakan pertemuan pada hari itu,” ujar Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag., Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi DKI Jakarta, kepada Suararakyat. info, di Jakarta, Sabtu (28/02/2026).
Namun, tambah Liliany Lontoh, Tahun Baru Imlek juga memiliki aspek budaya yang kuat, seperti mempererat hubungan keluarga agar lebih harmonis, makanan tradisional, pakaian, angpao, dan tradisi lainnya. Hari libur Tahun Baru Imlek. “Bicara budaya tidak semua budaya berkaitan dengan keagamaan,” ungkapnya.
Menurut Liliany Lontoh, penetapan Hari Libur Tahun Baru Imlek merupakan Hari Libur Keagamaan karena ia memiliki makna spiritual dan ritual yang kuat dalam Agama Khonghucu. Ini bukan hanya sekadar perayaan budaya, tetapi memiliki akar ritual keagamaan yang mendalam.
Selain itu, di Indonesia tidak mungkin hari libur Tahun Baru dianggap sebagai hari libur budaya. Budaya di Indonesia sangat banyak dan beragam, sehingga akan sulit untuk mengakomodir sekian banyak tahun baru tahun baru masing-masing budaya. Selain itu Hari Libur Nasional, selain hari resmi kenegaraan, hanya merujuk pada hari keagamaan, urainya.
Dikatakan Liliany Lontoh bagi umat Agama Khonghucu, Tahun Baru Imlek diawali dengan Ji Si Siang An 二四昇安 yaitu hari persaudaraan yang jatuh seminggu sebelum Tahun Baru Imlek. Saat itu umat Khonghucu mengadakan baksos pembagian sembako atau rezeki kepada umat-umat yang kurang mampu agar mereka dapat merayakan Tahun Baru Imlek dengan penuh suka cita, sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan dalam meningkatkan keharmonisan dan kebahagiaan bersama. Adapun sehari sebelum Tahun Baru Imlek umat Khonghucu mengadakan sembahyang kepada leluhurnya, sebagai perwujudan laku bakti dan penghormatan kepada leluhur.
“Pada malam pergantian tahun, umat Khonghucu juga mengadakan sembahyang syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tian) di rumah-rumah ibadat atas segala rahmat dan berkat yang telah diberikan.
Saat memasuki Tahun Baru, umat Khonghucu juga mengadakan sembahyang lagi untuk memohon perlindungan dan keberkahan, “urainya.
Selain itu, menurutnya pada tanggal 8 bulan 1 Imlek, pukul 23.00, umat Khonghucu mengadakan sembahyang Jing Tian Gong 敬天公 kepada Tuhan dengan menyatakan iman dan prasetya tekat mengenai apa-apa yang akan diupayakan dijalani pada tahun berjalan.
“Perayaan Tahun Baru Imlek kemudian diakhiri dengan sembahyang Cap Go Meh 十五暝 atau Yuanxiao 元宵, yang merupakan ritual terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek,” terangnya.
Dengan demikian, kata Liliany Lontoh Tahun Baru Imlek bagi umat Agama Khonghucu merupakan waktu untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan, leluhur, dan sesama manusia.
Kalau ada sebagian kalangan yang ingin merayakan Tahun Baru Imlek sebagai budaya, dipersilahkan. Namun tetap tidak dapat menafikan fakta bahwa Tahun Baru Imlek memang merupakan hari raya keagamaan bagi umat agama Khonghucu.
“Tema Imlek Nasional MATAKIN 2577 Kongzili adalah “Kalau Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan”. Artinya, jika ada keadilan, maka kemiskinan, perpecahan, dan ketimpangan sosial dapat diatasi. Ini menekankan pentingnya keadilan dalam kehidupan berbangsa untuk menciptakan keharmonisan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandasnya. (s. handoko)
Penulis : S Handoko
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info















Kalau ada keadilan semua akan merasa terayomi