Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht: Mengapa Indonesia Perlu Membangun Kekuatan Militer Tanpa Niat Berperang

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026 - 13:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| Jakarta-Di atas kertas, Indonesia adalah negara yang konsisten menyatakan tidak memiliki niat agresi terhadap negara mana pun. Politik luar negeri bebas aktif, komitmen terhadap perdamaian dunia, serta keterlibatan dalam berbagai forum multilateral menjadi bukti orientasi tersebut.Minggu (11/1/2026)

Namun, sejarah geopolitik global menunjukkan satu pelajaran penting: niat damai tidak pernah cukup untuk menjamin keamanan nasional.

Dalam sistem internasional yang anarkis sebagaimana ditegaskan oleh teori realisme klasik dan neorealisme negara tidak dapat sepenuhnya menggantungkan kelangsungan hidupnya pada niat baik negara lain (Waltz, 1979; Mearsheimer, 2001).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekuatan militer bukanlah simbol agresi, melainkan instrumen pencegah (deterrence) dan jaminan kedaulatan.

Bagi Indonesia, urgensi ini berlipat ganda. Indonesia bukan hanya negara besar secara demografis dan geografis, tetapi juga negara dengan kekayaan sumber daya alam strategis dan garis pantai terpanjang kedua di dunia.

Dalam konteks geopolitik global yang semakin ditandai oleh perebutan sumber daya, ketegangan kawasan, dan bangkitnya politik kekuatan, ketiadaan kekuatan militer yang memadai justru menjadi undangan bagi agresi.

๐†๐ž๐จ๐ฉ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐†๐ฅ๐จ๐›๐š๐ฅ: ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Š๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข ๐ค๐ž ๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ญ๐š๐ง

Setelah Perang Dingin, sempat muncul ilusi bahwa globalisasi, perdagangan bebas, dan institusi internasional akan mengurangi konflik bersenjata.

Namun dua dekade terakhir membuktikan sebaliknya. Dunia justru menyaksikan kembalinya politik kekuatan (return of great power politics).

John J. Mearsheimer (2018) menegaskan bahwa era liberal international order sedang mengalami kemunduran, digantikan oleh kompetisi antarnegara besar yang berfokus pada pengaruh, wilayah, dan sumber daya.

Konflik Ukraina, ketegangan Laut Cina Selatan, rivalitas ASโ€“Tiongkok, hingga perlombaan penguasaan mineral strategis di Afrika dan Amerika Latin adalah manifestasi nyata dari tren ini.

Dalam konteks ini, sumber daya alam bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen kekuatan geopolitik. Energi, mineral kritis, jalur laut, dan pangan telah menjadi variabel utama dalam strategi nasional negara-negara besar.

Joseph Stiglitz (2019) mengingatkan bahwa globalisasi tanpa perlindungan kepentingan nasional justru menciptakan ketimpangan kekuasaan, di mana negara kaya dan kuat mampu mengamankan akses terhadap sumber daya, sementara negara berkembang tanpa daya tawar militer rentan ditekan secara ekonomi maupun politik.

๐’๐ฎ๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐ƒ๐š๐ฒ๐š ๐€๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐š๐ง ๐€๐ง๐œ๐š๐ฆ๐š๐ง ๐€๐ ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข: ๐๐ž๐ฅ๐š๐ฃ๐š๐ซ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š

Negara-negara dengan kekayaan sumber daya alam historisnya menghadapi risiko yang lebih tinggi terhadap intervensi eksternal. Fenomena ini sering disebut sebagai resource geopolitics atau resource conflict.

Contoh-contoh global sangat jelas:

– Timur Tengah menjadi arena konflik berkepanjangan akibat minyak dan gas.

– Afrika menghadapi intervensi langsung maupun tidak langsung akibat mineral strategis seperti kobalt dan uranium.

– Ukraina menjadi medan konflik geopolitik karena posisi strategis energi dan pangan.

– Laut Cina Selatan memanas karena potensi cadangan energi, jalur perdagangan, dan sumber protein laut.

– Terakhir adalah intervensi AS ke Venezuela

Indonesia memiliki seluruh elemen tersebut sekaligus: energi, mineral strategis (nikel, tembaga, bauksit), pangan laut, serta posisi jalur pelayaran dunia (ALKI).

Dalam perspektif geopolitik, ini bukan hanya aset melainkan target potensial.

Ha-Joon Chang (2002) menegaskan bahwa negara berkembang yang gagal melindungi aset strategisnya akan terjebak dalam ketergantungan struktural.

Tanpa kekuatan militer yang kredibel, nasionalisasi sumber daya atau kebijakan ekonomi mandiri akan selalu berada di bawah ancaman tekanan eksternal.

๐ˆ๐ง๐๐จ๐ง๐ž๐ฌ๐ข๐š: ๐๐ž๐ ๐š๐ซ๐š ๐Š๐ž๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ฎ๐š๐ง ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐‹๐ข๐ง๐ ๐ค๐š๐ซ ๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐Š๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐š๐ง

Secara geografis, Indonesia berada di persimpangan Indo-Pasifik, kawasan yang saat ini menjadi pusat gravitasi geopolitik global. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, kebangkitan kekuatan laut regional, serta meningkatnya aktivitas militer di sekitar Laut Cina Selatan menjadikan Asia Tenggara kawasan yang tidak lagi โ€œtenangโ€.

Indonesia mungkin bukan pihak langsung dalam konflik Laut Cina Selatan, namun Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna bersinggungan langsung dengan klaim sepihak Tiongkok. Fakta ini saja sudah cukup menjadi alasan strategis untuk membangun postur pertahanan yang kuat, khususnya di laut dan udara.

Barry Buzan (2011) menekankan bahwa keamanan negara tidak hanya ditentukan oleh niat, tetapi oleh persepsi pihak lain terhadap kemampuan dan kemauan mempertahankan diri. Negara yang lemah secara militer sering kali diperlakukan sebagai ruang abu-abu tidak sepenuhnya berdaulat dalam praktik.

๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐ฎ๐ง ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ญ๐š๐ง ๐Œ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ž๐ซ ๐“๐š๐ง๐ฉ๐š ๐๐ข๐š๐ญ ๐๐ž๐ซ๐ฉ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ : ๐‹๐จ๐ ๐ข๐ค๐š ๐ƒ๐ž๐ญ๐ž๐ซ๐ซ๐ž๐ง๐œ๐ž

Kekuatan militer Indonesia harus dipahami bukan sebagai alat ekspansi, melainkan sebagai instrumen pencegah konflik. Prinsip deterrence sederhana: perang dihindari bukan karena ketiadaan senjata, tetapi karena biaya perang terlalu mahal bagi agresor.

Clausewitz sudah menegaskan bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Dalam dunia modern, militer yang kuat justru memungkinkan politik damai berjalan tanpa paksaan eksternal.

READ  Bullying Harus Dicegah Dengan Pendidikan Etika Dan Moral

Dalam konteks strategic autonomy, kekuatan militer Indonesia berfungsi untuk:

1. Menjamin kedaulatan wilayah darat, laut, dan udara.

2. Melindungi sumber daya alam strategis.

3. Mengamankan jalur perdagangan dan ALKI.

4. Memberi daya tawar dalam diplomasi global.

5. Mengurangi ketergantungan politik akibat embargo atau tekanan senjata.

๐’๐ข๐ฌ๐ญ๐ž๐ฆ ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ก๐š๐ง๐š๐ง ๐Š๐ž๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ฎ๐š๐ง: ๐Š๐ž๐›๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐€๐ฅ๐ฎ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐š ๐ˆ๐ง๐๐จ๐ง๐ž๐ฌ๐ข๐š

Indonesia tidak membutuhkan militer ofensif bergaya imperialis. Yang dibutuhkan adalah sistem pertahanan kepulauan terintegrasi (integrated archipelagic defense system).

1. ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ญ๐š๐ง ๐‹๐š๐ฎ๐ญ (๐Œ๐š๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฆ๐ž ๐๐จ๐ฐ๐ž๐ซ)

Sebagai negara kepulauan, laut adalah garis depan pertahanan Indonesia. Kebutuhan utama meliputi:

– Kapal perang permukaan (frigate, corvette) untuk patroli dan deterrence.

– Kapal selam sebagai senjata strategis pencegah.

– Sistem pengawasan maritim (radar, satelit, maritime ISR).

– Rudal pertahanan pantai untuk melindungi choke points strategis.

Alfred Thayer Mahan menegaskan bahwa kekuatan laut menentukan posisi strategis suatu negara dalam sistem internasionalโ€”tesis yang relevan penuh bagi Indonesia.

2. ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ญ๐š๐ง ๐”๐๐š๐ซ๐š

Kontrol udara mutlak diperlukan untuk melindungi wilayah luas:

– Pesawat tempur multirole untuk air superiority.

– Pesawat peringatan dini (AEW&C).

– Drone ISR dan drone tempur.

– Sistem pertahanan udara berlapis (air defense system).

Tanpa superioritas udara, pertahanan laut dan darat menjadi rapuh.

3. ๐Š๐ž๐ค๐ฎ๐š๐ญ๐š๐ง ๐ƒ๐š๐ซ๐š๐ญ

Fokus utama bukan invasi, tetapi:

– Pertahanan wilayah strategis.

– Pasukan reaksi cepat.

– Rudal jarak menengah defensif.

– Integrasi dengan sistem siber dan elektronik.

4. ๐’๐ข๐›๐ž๐ซ ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐š๐ง๐  ๐„๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ซ๐จ๐ง๐ข๐ค

Di era modern, serangan tidak selalu datang dalam bentuk fisik. Infrastruktur energi, komunikasi, dan keuangan rentan terhadap serangan siber. Kekuatan militer modern wajib mencakup:

– Cyber defense command.

– Electronic warfare.

– Proteksi satelit dan data strategis.

๐Š๐ž๐ฆ๐š๐ง๐๐ข๐ซ๐ข๐š๐ง ๐ˆ๐ง๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ก๐š๐ง๐š๐ง: ๐๐ข๐ฅ๐š๐ซ ๐’๐ญ๐ซ๐š๐ญ๐ž๐ ๐ข๐œ ๐€๐ฎ๐ญ๐จ๐ง๐จ๐ฆ๐ฒ

Ketergantungan pada alutsista impor bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kerentanan strategis. Embargo, tekanan politik, dan ketergantungan suku cadang dapat melumpuhkan pertahanan nasional tanpa satu peluru pun ditembakkan.

Indonesia perlu:

– Transfer teknologi nyata, bukan simbolik.

– Penguatan BUMN pertahanan.

– Kolaborasi Global South.

– Diversifikasi mitra non-hegemonik.

Seperti ditegaskan oleh Samir Amin (2011), kemandirian strategis adalah syarat mutlak bagi negara berkembang untuk keluar dari subordinasi global.

๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐Œ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ž๐ซ ๐Š๐ฎ๐š๐ญ ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐…๐จ๐ง๐๐š๐ฌ๐ข ๐๐ž๐ซ๐๐š๐ฆ๐š๐ข๐š๐ง

Indonesia tidak membangun kekuatan militer untuk berperang, tetapi agar tidak dipaksa berperang. Dalam dunia yang ditandai oleh perebutan sumber daya, rivalitas kekuatan besar, dan melemahnya norma internasional, kekuatan militer adalah bahasa yang dipahami semua aktor.

Tanpa pertahanan yang kuat, kekayaan alam justru menjadi kutukan. Dengan pertahanan yang kredibel, kekayaan itu menjadi fondasi kedaulatan, kesejahteraan, dan posisi terhormat di dunia.

Militer yang kuat bukan lawan demokrasi atau pembangunan. Ia adalah prasyarat agar keduanya dapat bertahan.

Kadang untuk mencaplok sebuah negara tidak hanya dengan Agresi, tapi rusak mereka secara ekonomi .

Bahkan dalam berbagai kasus , negara-negara kapitalis ini membiayai industri yang merusak lingkungan. Ketika lingkungan rusak dan banyak masyarakat menjadi korban, mereka melalui agent-agentnya memprovokasi dengan meneriakkan ketidakpuasan bahkan memprovokasi agar sebuah daerah menyerukan referendum untuk berdiri sendiri . Padahal otak dari kerusakan yang terjadi adalah mereka-mereka juga dengan bantuan agent-agent mereka yang dalam dependency teori disebut Mestizo. Untuk case di luar latin Amerika istilah Mestizo bukanlah istilah yang sebenarnya.

Jadi pertahanan yang juga diperlukan bukan hanya Alutsista, tetap juga membangun kecerdasan dan mental belanegara yang kuat .

๐ƒ๐š๐Ÿ๐ญ๐š๐ซ ๐‘๐ž๐Ÿ๐ž๐ซ๐ž๐ง๐ฌ๐ข

1. ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜š. (2011). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ท๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฆ. ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ญ๐˜บ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ฆ๐˜ธ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด.

2. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ป๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜‰., & ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ, ๐˜“. (2009). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด. ๐˜Š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜จ๐˜ฆ ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด.

3. ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜.-๐˜‘. (2002). ๐˜’๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜บ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ: ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜บ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด.

4. ๐˜Š๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ช๐˜ต๐˜ป, ๐˜Š. ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ฏ. (1984). ๐˜–๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ (๐˜”. ๐˜๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ & ๐˜—. ๐˜—๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต, ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ด. & ๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด.). ๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด. (๐˜–๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฅ 1832)

5. ๐˜”๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ˆ. ๐˜›. (1890). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ, 1660โ€“1783. ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ, ๐˜‰๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ.

6. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜‘. ๐˜‘. (2001). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜จ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ด. ๐˜ž. ๐˜ž. ๐˜•๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ & ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ.

7. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜‘. ๐˜‘. (2018). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ: ๐˜“๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด. ๐˜ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜—๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด.

8. ๐˜š๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ป, ๐˜‘. ๐˜Œ. (2019). ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ, ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ง๐˜ช๐˜ต๐˜ด: ๐˜—๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต. ๐˜ž. ๐˜ž. ๐˜•๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ & ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ.

9. ๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ต๐˜ป, ๐˜’. ๐˜•. (1979). ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ด. ๐˜”๐˜ค๐˜Ž๐˜ณ๐˜ข๐˜ธ-๐˜๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ

Penulis : Frk

Editor : Red

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Cikarang Utara AKP Carmin, S.H Imbau Warga Tertib Berlalu Lintas, Hindari U-Turn Paksa dan Lompat Trotoar
Hadir Buka Puasa Bersama Penggiat medsos Influencer Polda Metro Jaya seluruh Jabodetabek Mitra Polres Metro Bekasi
Nostalgia Alumni SD Negeri Karang Baru Angkatan 1998โ€“2004 Gelar Buka Puasa Bersama di Jababeka
Banjir Sumatera, Ketika Hutan Dijarah dan Rakyat Menjadi Korban.
Perempuan Tangguh dari Batang Bangun Sentra Jamur Tiram Modern, Produksi 45 Ribu Baglog Tiap Periode
Sajak Wangsit dari Lembah Waktu dan Kesadaran, Cerita Seorang Pemuda Darah Sunda
Misteri Cinta Intan Dewata: Kisah Abadi dari Lereng Gunung Putri yang Menyentuh Jiwa
Embun, Batu, dan Doa: Langit Taif Dalam Kisah Rasul dan Kenangan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 04:18 WIB

Kepala Unit Lalu Lintas Polsek Cikarang Utara AKP Carmin, S.H Imbau Warga Tertib Berlalu Lintas, Hindari U-Turn Paksa dan Lompat Trotoar

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:32 WIB

Hadir Buka Puasa Bersama Penggiat medsos Influencer Polda Metro Jaya seluruh Jabodetabek Mitra Polres Metro Bekasi

Senin, 9 Maret 2026 - 01:31 WIB

Nostalgia Alumni SD Negeri Karang Baru Angkatan 1998โ€“2004 Gelar Buka Puasa Bersama di Jababeka

Minggu, 11 Januari 2026 - 13:06 WIB

Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht: Mengapa Indonesia Perlu Membangun Kekuatan Militer Tanpa Niat Berperang

Senin, 1 Desember 2025 - 00:25 WIB

Banjir Sumatera, Ketika Hutan Dijarah dan Rakyat Menjadi Korban.

Berita Terbaru

Berita Daerah

Percepatan Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV Capai 45 Persen

Selasa, 21 Apr 2026 - 04:34 WIB