SUARARAKYAT.info|| Jakarta-Di atas kertas, Indonesia adalah negara yang konsisten menyatakan tidak memiliki niat agresi terhadap negara mana pun. Politik luar negeri bebas aktif, komitmen terhadap perdamaian dunia, serta keterlibatan dalam berbagai forum multilateral menjadi bukti orientasi tersebut.Minggu (11/1/2026)
Namun, sejarah geopolitik global menunjukkan satu pelajaran penting: niat damai tidak pernah cukup untuk menjamin keamanan nasional.
Dalam sistem internasional yang anarkis sebagaimana ditegaskan oleh teori realisme klasik dan neorealisme negara tidak dapat sepenuhnya menggantungkan kelangsungan hidupnya pada niat baik negara lain (Waltz, 1979; Mearsheimer, 2001).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekuatan militer bukanlah simbol agresi, melainkan instrumen pencegah (deterrence) dan jaminan kedaulatan.
Bagi Indonesia, urgensi ini berlipat ganda. Indonesia bukan hanya negara besar secara demografis dan geografis, tetapi juga negara dengan kekayaan sumber daya alam strategis dan garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Dalam konteks geopolitik global yang semakin ditandai oleh perebutan sumber daya, ketegangan kawasan, dan bangkitnya politik kekuatan, ketiadaan kekuatan militer yang memadai justru menjadi undangan bagi agresi.
๐๐๐จ๐ฉ๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐๐ฅ๐จ๐๐๐ฅ: ๐๐ฎ๐ง๐ข๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ข ๐ค๐ ๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง
Setelah Perang Dingin, sempat muncul ilusi bahwa globalisasi, perdagangan bebas, dan institusi internasional akan mengurangi konflik bersenjata.
Namun dua dekade terakhir membuktikan sebaliknya. Dunia justru menyaksikan kembalinya politik kekuatan (return of great power politics).
John J. Mearsheimer (2018) menegaskan bahwa era liberal international order sedang mengalami kemunduran, digantikan oleh kompetisi antarnegara besar yang berfokus pada pengaruh, wilayah, dan sumber daya.
Konflik Ukraina, ketegangan Laut Cina Selatan, rivalitas ASโTiongkok, hingga perlombaan penguasaan mineral strategis di Afrika dan Amerika Latin adalah manifestasi nyata dari tren ini.
Dalam konteks ini, sumber daya alam bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen kekuatan geopolitik. Energi, mineral kritis, jalur laut, dan pangan telah menjadi variabel utama dalam strategi nasional negara-negara besar.
Joseph Stiglitz (2019) mengingatkan bahwa globalisasi tanpa perlindungan kepentingan nasional justru menciptakan ketimpangan kekuasaan, di mana negara kaya dan kuat mampu mengamankan akses terhadap sumber daya, sementara negara berkembang tanpa daya tawar militer rentan ditekan secara ekonomi maupun politik.
๐๐ฎ๐ฆ๐๐๐ซ ๐๐๐ฒ๐ ๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐ง ๐๐ง๐๐๐ฆ๐๐ง ๐๐ ๐ซ๐๐ฌ๐ข: ๐๐๐ฅ๐๐ฃ๐๐ซ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ฎ๐ง๐ข๐
Negara-negara dengan kekayaan sumber daya alam historisnya menghadapi risiko yang lebih tinggi terhadap intervensi eksternal. Fenomena ini sering disebut sebagai resource geopolitics atau resource conflict.
Contoh-contoh global sangat jelas:
– Timur Tengah menjadi arena konflik berkepanjangan akibat minyak dan gas.
– Afrika menghadapi intervensi langsung maupun tidak langsung akibat mineral strategis seperti kobalt dan uranium.
– Ukraina menjadi medan konflik geopolitik karena posisi strategis energi dan pangan.
– Laut Cina Selatan memanas karena potensi cadangan energi, jalur perdagangan, dan sumber protein laut.
– Terakhir adalah intervensi AS ke Venezuela
Indonesia memiliki seluruh elemen tersebut sekaligus: energi, mineral strategis (nikel, tembaga, bauksit), pangan laut, serta posisi jalur pelayaran dunia (ALKI).
Dalam perspektif geopolitik, ini bukan hanya aset melainkan target potensial.
Ha-Joon Chang (2002) menegaskan bahwa negara berkembang yang gagal melindungi aset strategisnya akan terjebak dalam ketergantungan struktural.
Tanpa kekuatan militer yang kredibel, nasionalisasi sumber daya atau kebijakan ekonomi mandiri akan selalu berada di bawah ancaman tekanan eksternal.
๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐: ๐๐๐ ๐๐ซ๐ ๐๐๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐๐ฎ๐๐ง ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐ข๐ง๐ ๐ค๐๐ซ ๐๐๐ญ๐๐ ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ฐ๐๐ฌ๐๐ง
Secara geografis, Indonesia berada di persimpangan Indo-Pasifik, kawasan yang saat ini menjadi pusat gravitasi geopolitik global. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, kebangkitan kekuatan laut regional, serta meningkatnya aktivitas militer di sekitar Laut Cina Selatan menjadikan Asia Tenggara kawasan yang tidak lagi โtenangโ.
Indonesia mungkin bukan pihak langsung dalam konflik Laut Cina Selatan, namun Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna bersinggungan langsung dengan klaim sepihak Tiongkok. Fakta ini saja sudah cukup menjadi alasan strategis untuk membangun postur pertahanan yang kuat, khususnya di laut dan udara.
Barry Buzan (2011) menekankan bahwa keamanan negara tidak hanya ditentukan oleh niat, tetapi oleh persepsi pihak lain terhadap kemampuan dan kemauan mempertahankan diri. Negara yang lemah secara militer sering kali diperlakukan sebagai ruang abu-abu tidak sepenuhnya berdaulat dalam praktik.
๐๐๐ฆ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ง ๐๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐ข๐๐ญ ๐๐๐ซ๐ฉ๐๐ซ๐๐ง๐ : ๐๐จ๐ ๐ข๐ค๐ ๐๐๐ญ๐๐ซ๐ซ๐๐ง๐๐
Kekuatan militer Indonesia harus dipahami bukan sebagai alat ekspansi, melainkan sebagai instrumen pencegah konflik. Prinsip deterrence sederhana: perang dihindari bukan karena ketiadaan senjata, tetapi karena biaya perang terlalu mahal bagi agresor.
Clausewitz sudah menegaskan bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Dalam dunia modern, militer yang kuat justru memungkinkan politik damai berjalan tanpa paksaan eksternal.
Dalam konteks strategic autonomy, kekuatan militer Indonesia berfungsi untuk:
1. Menjamin kedaulatan wilayah darat, laut, dan udara.
2. Melindungi sumber daya alam strategis.
3. Mengamankan jalur perdagangan dan ALKI.
4. Memberi daya tawar dalam diplomasi global.
5. Mengurangi ketergantungan politik akibat embargo atau tekanan senjata.
๐๐ข๐ฌ๐ญ๐๐ฆ ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ก๐๐ง๐๐ง ๐๐๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐๐ฎ๐๐ง: ๐๐๐๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ก๐๐ง ๐๐ฅ๐ฎ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐ ๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐
Indonesia tidak membutuhkan militer ofensif bergaya imperialis. Yang dibutuhkan adalah sistem pertahanan kepulauan terintegrasi (integrated archipelagic defense system).
1. ๐๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง ๐๐๐ฎ๐ญ (๐๐๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฆ๐ ๐๐จ๐ฐ๐๐ซ)
Sebagai negara kepulauan, laut adalah garis depan pertahanan Indonesia. Kebutuhan utama meliputi:
– Kapal perang permukaan (frigate, corvette) untuk patroli dan deterrence.
– Kapal selam sebagai senjata strategis pencegah.
– Sistem pengawasan maritim (radar, satelit, maritime ISR).
– Rudal pertahanan pantai untuk melindungi choke points strategis.
Alfred Thayer Mahan menegaskan bahwa kekuatan laut menentukan posisi strategis suatu negara dalam sistem internasionalโtesis yang relevan penuh bagi Indonesia.
2. ๐๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง ๐๐๐๐ซ๐
Kontrol udara mutlak diperlukan untuk melindungi wilayah luas:
– Pesawat tempur multirole untuk air superiority.
– Pesawat peringatan dini (AEW&C).
– Drone ISR dan drone tempur.
– Sistem pertahanan udara berlapis (air defense system).
Tanpa superioritas udara, pertahanan laut dan darat menjadi rapuh.
3. ๐๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ญ
Fokus utama bukan invasi, tetapi:
– Pertahanan wilayah strategis.
– Pasukan reaksi cepat.
– Rudal jarak menengah defensif.
– Integrasi dengan sistem siber dan elektronik.
4. ๐๐ข๐๐๐ซ ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐ฅ๐๐ค๐ญ๐ซ๐จ๐ง๐ข๐ค
Di era modern, serangan tidak selalu datang dalam bentuk fisik. Infrastruktur energi, komunikasi, dan keuangan rentan terhadap serangan siber. Kekuatan militer modern wajib mencakup:
– Cyber defense command.
– Electronic warfare.
– Proteksi satelit dan data strategis.
๐๐๐ฆ๐๐ง๐๐ข๐ซ๐ข๐๐ง ๐๐ง๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ก๐๐ง๐๐ง: ๐๐ข๐ฅ๐๐ซ ๐๐ญ๐ซ๐๐ญ๐๐ ๐ข๐ ๐๐ฎ๐ญ๐จ๐ง๐จ๐ฆ๐ฒ
Ketergantungan pada alutsista impor bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kerentanan strategis. Embargo, tekanan politik, dan ketergantungan suku cadang dapat melumpuhkan pertahanan nasional tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Indonesia perlu:
– Transfer teknologi nyata, bukan simbolik.
– Penguatan BUMN pertahanan.
– Kolaborasi Global South.
– Diversifikasi mitra non-hegemonik.
Seperti ditegaskan oleh Samir Amin (2011), kemandirian strategis adalah syarat mutlak bagi negara berkembang untuk keluar dari subordinasi global.
๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐๐ซ ๐๐ฎ๐๐ญ ๐ฌ๐๐๐๐ ๐๐ข ๐ ๐จ๐ง๐๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ซ๐๐๐ฆ๐๐ข๐๐ง
Indonesia tidak membangun kekuatan militer untuk berperang, tetapi agar tidak dipaksa berperang. Dalam dunia yang ditandai oleh perebutan sumber daya, rivalitas kekuatan besar, dan melemahnya norma internasional, kekuatan militer adalah bahasa yang dipahami semua aktor.
Tanpa pertahanan yang kuat, kekayaan alam justru menjadi kutukan. Dengan pertahanan yang kredibel, kekayaan itu menjadi fondasi kedaulatan, kesejahteraan, dan posisi terhormat di dunia.
Militer yang kuat bukan lawan demokrasi atau pembangunan. Ia adalah prasyarat agar keduanya dapat bertahan.
Kadang untuk mencaplok sebuah negara tidak hanya dengan Agresi, tapi rusak mereka secara ekonomi .
Bahkan dalam berbagai kasus , negara-negara kapitalis ini membiayai industri yang merusak lingkungan. Ketika lingkungan rusak dan banyak masyarakat menjadi korban, mereka melalui agent-agentnya memprovokasi dengan meneriakkan ketidakpuasan bahkan memprovokasi agar sebuah daerah menyerukan referendum untuk berdiri sendiri . Padahal otak dari kerusakan yang terjadi adalah mereka-mereka juga dengan bantuan agent-agent mereka yang dalam dependency teori disebut Mestizo. Untuk case di luar latin Amerika istilah Mestizo bukanlah istilah yang sebenarnya.
Jadi pertahanan yang juga diperlukan bukan hanya Alutsista, tetap juga membangun kecerdasan dan mental belanegara yang kuat .
๐๐๐๐ญ๐๐ซ ๐๐๐๐๐ซ๐๐ง๐ฌ๐ข
1. ๐๐ฎ๐ช๐ฏ, ๐. (2011). ๐๐ฉ๐ฆ ๐ญ๐ข๐ธ ๐ฐ๐ง ๐ธ๐ฐ๐ณ๐ญ๐ฅ๐ธ๐ช๐ฅ๐ฆ ๐ท๐ข๐ญ๐ถ๐ฆ. ๐๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฉ๐ญ๐บ ๐๐ฆ๐ท๐ช๐ฆ๐ธ ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด.
2. ๐๐ถ๐ป๐ข๐ฏ, ๐., & ๐๐ข๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฏ, ๐. (2009). ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฆ๐ท๐ฐ๐ญ๐ถ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฐ๐ง ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ ๐ด๐ต๐ถ๐ฅ๐ช๐ฆ๐ด. ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ณ๐ช๐ฅ๐จ๐ฆ ๐๐ฏ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ต๐บ ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด.
3. ๐๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ, ๐.-๐. (2002). ๐๐ช๐ค๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ ๐ข๐ธ๐ข๐บ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ญ๐ข๐ฅ๐ฅ๐ฆ๐ณ: ๐๐ฆ๐ท๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฑ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต ๐ด๐ต๐ณ๐ข๐ต๐ฆ๐จ๐บ ๐ช๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ท๐ฆ. ๐๐ฏ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฎ ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด.
4. ๐๐ญ๐ข๐ถ๐ด๐ฆ๐ธ๐ช๐ต๐ป, ๐. ๐ท๐ฐ๐ฏ. (1984). ๐๐ฏ ๐ธ๐ข๐ณ (๐. ๐๐ฐ๐ธ๐ข๐ณ๐ฅ & ๐. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ต, ๐๐ฅ๐ด. & ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ด.). ๐๐ณ๐ช๐ฏ๐ค๐ฆ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐๐ฏ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ต๐บ ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด. (๐๐ณ๐ช๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ ๐ธ๐ฐ๐ณ๐ฌ ๐ฑ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ช๐ด๐ฉ๐ฆ๐ฅ 1832)
5. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐. ๐. (1890). ๐๐ฉ๐ฆ ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ ๐ฐ๐ง ๐ด๐ฆ๐ข ๐ฑ๐ฐ๐ธ๐ฆ๐ณ ๐ถ๐ฑ๐ฐ๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ, 1660โ1783. ๐๐ช๐ต๐ต๐ญ๐ฆ, ๐๐ณ๐ฐ๐ธ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ.
6. ๐๐ฆ๐ข๐ณ๐ด๐ฉ๐ฆ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ณ, ๐. ๐. (2001). ๐๐ฉ๐ฆ ๐ต๐ณ๐ข๐จ๐ฆ๐ฅ๐บ ๐ฐ๐ง ๐จ๐ณ๐ฆ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฐ๐ธ๐ฆ๐ณ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ด. ๐. ๐. ๐๐ฐ๐ณ๐ต๐ฐ๐ฏ & ๐๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ.
7. ๐๐ฆ๐ข๐ณ๐ด๐ฉ๐ฆ๐ช๐ฎ๐ฆ๐ณ, ๐. ๐. (2018). ๐๐ฉ๐ฆ ๐จ๐ณ๐ฆ๐ข๐ต ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ: ๐๐ช๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ณ๐ฆ๐ข๐ฎ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ณ๐ฆ๐ข๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ฆ๐ด. ๐ ๐ข๐ญ๐ฆ ๐๐ฏ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ต๐บ ๐๐ณ๐ฆ๐ด๐ด.
8. ๐๐ต๐ช๐จ๐ญ๐ช๐ต๐ป, ๐. ๐. (2019). ๐๐ฆ๐ฐ๐ฑ๐ญ๐ฆ, ๐ฑ๐ฐ๐ธ๐ฆ๐ณ, ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ง๐ช๐ต๐ด: ๐๐ณ๐ฐ๐จ๐ณ๐ฆ๐ด๐ด๐ช๐ท๐ฆ ๐ค๐ข๐ฑ๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ช๐ด๐ฎ ๐ง๐ฐ๐ณ ๐ข๐ฏ ๐ข๐จ๐ฆ ๐ฐ๐ง ๐ฅ๐ช๐ด๐ค๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต. ๐. ๐. ๐๐ฐ๐ณ๐ต๐ฐ๐ฏ & ๐๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ.
9. ๐๐ข๐ญ๐ต๐ป, ๐. ๐. (1979). ๐๐ฉ๐ฆ๐ฐ๐ณ๐บ ๐ฐ๐ง ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ด. ๐๐ค๐๐ณ๐ข๐ธ-๐๐ช๐ญ๐ญ
Penulis : Frk
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info













